ADB : Pertumbuhan Asia Tenggara Bertahan Diatas 5%

177
ADB Memperkirakan pertumbuhan kwartal kedua tahun ini diwilayah Asia Tenggara adalah diatas 5%. (Lukman Hqeem/Eksposisi).
ADB Memperkirakan pertumbuhan kwartal kedua tahun ini diwilayah Asia Tenggara adalah diatas 5%. (Lukman Hqeem/Eksposisi).
Banner Top Article

Sejumlah negara-negara di Asia Tenggara berusaha mempertahankan pertumbuhan 5% untuk kuartal kedua, April-Juni. Untuk itu, sejumlah pemerintahan telah mengambil langkah-langkah stimulus. Hal ini dilakukan demi meningkatkan belanja konsumen dan mengurangi ketidakpastian dari perang dagang yang dipicu oleh AS.

Pertumbuhan ekonomi di Filipina, Malaysia, Indonesia, Thailand dan Singapura, yang menjadi ukuran, melambat dari 5,3% yang dicatat dalam kuartal pertama dibulan  Januari-Maret. Demikian menurut data yang dikumpulkan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB), meskipun angka itu masih dalam kisaran 5%.

Pertumbuhan telah melayang di kisaran 4% untuk beberapa waktu sejak 2014. Melonjak menjadi 5,5% pada kuartal Juli-September tahun lalu. Meskipun sedikit mengalami perlambatan pada kuartal kedua. Banyak ekonom tidak percaya bahwa ekonomi wilayah ini akan memasuki tren penurunannya saat ini.

Indonesia, sebagai negara dengan perekonomian terbesar di kawasan ini, memperkirakan PDBnya bisa tumbuh 5,3% pada tahun ini. Naik 0,2 poin persentase lebih baik dari kuartal pertama. Kenaikan ini didorong oleh daya konsumsi yang kuat, sebagian berkat peningkatan besar dalam bonus pegawai negeri. Sementara konsumsi makanan naik sekitar 20% dari Mei hingga Juni, bertepatan dengan Ramadan. Subsidi pemerintah kepada perusahaan minyak membantu membatasi kenaikan harga bahan bakar.

Presiden Joko Widodo diperkirakan akan terus mendukung ekonomi menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Gerakan pembangunan infrastruktur Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyebabkan peningkatan impor bahan, dengan pertumbuhan ekonomi melambat 0,6 poin persentase menjadi 6%. Tetapi pengeluaran negara tumbuh lebih dari 10% untuk kuartal ketiga berturut-turut, mendorong investasi dalam konstruksi.

Malaysia mengalami perlambatan produksi di industri-industri utama seperti minyak sawit dan gas alam. Tetapi dengan kembalinya Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri pada bulan Mei, pemerintahnya mencabut 6% pajak barang dan jasa sebagaimana dijanjikan dalam kampanye, menopang konsumsi.

Thailand, yang ekonominya dalam fase pemulihan, mempertahankan pertumbuhan PDB dalam kisaran 4% yang tinggi di kuartal kedua. Konsumsi domestik mendapat momentum, termasuk untuk pembelian mobil dan ekspor cepat.

Singapura juga mencatat pertumbuhan yang kuat sebesar 3,9%.

Proyeksi Pertumbuhan Kwartal Kedua

ADB memproyeksikan pertumbuhan PDB regional untuk tetap datar pada 5,2% tahun ini. Faktor risiko termasuk tingkat suku bunga AS yang lebih tinggi dan jatuhnya lira Turki, yang menciptakan tekanan jual pada mata uang negara-negara berkembang. Ini dapat meningkatkan biaya barang impor dan inflasi bahan bakar di Asia Tenggara.

Konflik perdagangan yang meningkat antara Cina dan AS juga dapat melukai ekonomi kawasan karena banyak bisnis lokal merupakan bagian dari rantai pasokan perusahaan Cina.

Gesekan berkepanjangan dengan AS bisa memperlambat perdagangan untuk beberapa negara Asia Tenggara. Indonesia dan Filipina adalah yang paling tidak terpapar karena mereka tidak bergantung pada perdagangan. Sejumlah perusahaan mengalihkan investasi untuk melakukan diversifikasi dari Cina, dengan meningkatkan investasi di tempat lain. Vietnam, misalnya, diharapkan akan mendapatkan keuntungan dari masuknya investasi ini. (Lukman Hqeem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here