EKSPOSISI – Kehadiran sosial media di era pop culture ini telah bertumbuh menjadi tren baru sebagai platform pembagian konten di setiap harinya. Konten yang mengandung unsur humor, tragedi yang mengerikan, tantangan yang sensasional dan visual yang menyentuh adalah beberapa tipe konten yang biasanya menjadi viral. 

Mengharapkan konten agar viral adalah hal yang sering dituju oleh para influencer, ahensi, dan brand dalam setiap proses penyampaian kampanye atau gerakan. Berada dalam sorotan mungkin menjadi hal yang menggoda dan banyak pihak mengejarnya. Namun, apa yang diperlukan untuk mencapai viralitas? Dan juga, apakah menjadi viral itu selalu menjadi hal yang terbaik? 

Apa yang dianggap viral?

Konten yang disebar secara besar dan masif dari pengguna satu ke pengguna lain di sosial media bisa dianggap sebagai viral. Namun, ini bukan hanya tentang bagaimana konten tersebut dibagikan. Jovial da Lopez, seorang konten kreator yang menjadi pembicara di acara Jakarta Youth Meet-Up, menjelaskan bahwa viralnya sebuah konten dapat dibagi menjadi general dan niche. Menurutnya, viral yang general adalah ketika penonton dari konten tersebut melampaui demografi yang biasanya ataupun di luar dari fan base. Sementara itu, viral yang niche hanya dibagikan dan terkenal di grup yang spesifik. 

Terlepas dari pentingnya menciptakan viralitas, teknologi kini memungkinkan konten untuk disebarkan melalui ad tool untuk meningkatkan awareness dan menjangkau audiens yang lebih besar. Namun, menurut Edo Oktorano, Marketing Director dari Gushcloud Indonesia, viral adalah lebih dari sekedar awareness. “Viral tidak hanya tentang awareness. Ketika kita mampu menghasilkan awareness dan sekaligus mendorong conversation, konten itu mampu menjadi viral,” kata Edo di dalam sebuah sesi di Jakarta Youth Meet-Up di Kota Kasablanka. 

Bagaimana cara membuat konten yang viral? 

Seringkali, brand datang ke ahensi untuk taktik strategi marketing yang mempunyai kesempatan untuk menjadi viral. Namun, formulasi ini tidak mudah untuk dicapai dalam membuat konten yang viral di Internet. Untuk Edo Oktorano, dibutuhkan tingkat eksplorasi yang tinggi di pihak brand untuk bisa membuat konten tersebut, walaupun tetap dibutuhkan insight yang mendalam. 

Emosi manusia juga menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk membuat konten yang viral. Berdasarkan penelitian dari Jonah Berger dan Katherine Milkman dalam ‘What Makes Online Content Viral’, ada beberapa tipe konten yang bisa mendorong viralitas. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa konten yang positif bisa lebih viral daripada yang negatif. Penemuan kedua dari penelitian itu juga menyatakan bahwa konten yang informatif dan berguna mampu memenangi ketenaran. Edo menambahkan tentang konten yang mampu menyentuh hati dan dapat mencerminkan audiens tersebut mampu menjadi viral. Yang terakhir, penempatan waktu yang tepat juga dapat menambah kecenderungan untuk viral. 

Apakah menjadi viral selalu berarti baik? 

Menjadi viral jelas memiliki nilai penting dalam membangkitkan awareness tentang sebuah masalah, gerakan, ataupun kampanye. Namun, hasil yang keluar tidak selalu memuaskan. Hal yang disayangkan tentang menjadi viral adalah sekali ia meroket, konten itu pun dengan mudah dapat dilupakan oleh audiens dan audiens akan beralih ke tren berikutnya. 

Ketika tujuan seseorang hanya untuk membuat konten yang viral, apapun yang kontroversial, baik ataupun tidak, dapat dengan mudah tersebar di sekitar media sosial. Tapi, itu akan memberi kesan yang buruk untuk kreator ataupun brand karena penggambaran yang buruk yang mungkin akan bertahan lama. 

Daripada memfokuskan usaha sepenuhnya pada pembuatan konten viral, menghasilkan konten yang bermanfaat dan menghibur mungkin akan menciptakan kesan jangka panjang yang lebih baik. Seperti yang kami kutip dari Jovial da Lopez “Saat ini, setiap orang adalah konter kreator yang mampu membuat konten viral dengan caranya sendiri. Tapi konten terbaik adalah ketika audiens dapat memahami pesan dan dapat mendorong mereka ke depannya. Jika itu mengubah sikap orang, Anda telah berhasil membuat konten yang sebenarnya.” 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here