manipulator mata uang

Eksposisi – Sikap tegas Presiden AS Donald Trump terhadap China melunak. Namun bukan tanpa sebab, karena perubahan tersebut terjadi hanya beberapa hari jelang penandatanganan kesepakatan dagang dengan China.

Hal ini dapat dipahami karena perubahan nada itu tak ubahnya sikap politik yang bisa disesuaikan menurut dinamika di lapangan.

Penandatanganan kesepakatan dagang AS-China fase pertama akan dilakukan di Washington pada Rabu meski Presiden Xi Jinping diperkirakan tidak akan hadir.

Trump tak lagi melabeli China sebagai manipulator mata uang dan sontak mata uang yuan menguat menjadi 6,883 per dolar pada Senin kemarin.

Dasar ditariknya label manipulator mata uang adalah laporan tengah tahun Departemen Keuangan AS, dimana laporan ini secara berkala mendata negara-negara yang diduga memanipulasi mata uangnya sekaligus menjadi basis penentuan dalam kebijakan dagang.

Ada dugaan sang presiden “mengerjai” laporan ini dalam rangka menghantam negara-negara tertentu dan menggunakannya sebagai alat negosiasi agar kebijakan ekonomi sebuah negara bisa diselaraskan dengan kepentingan AS.

Lucunya dalam lima laporan pertama yang dirilis Menteri Keuangan Steven Mnuchin, seperti dikutip dari Bloomberg tak sekalipun beliau menyebut China sebagai manipulator. Sebaliknya pada bulan Agustus lalu, Trump membalik klaim Mnuchin setelah yuan anjlok secara dramatis akibat pemberlakukan tarif dagang.

Pelabelan China sebagai manipulator mata uang adalah pekerjaan Trump. Menurut Brad Setser, yang merupakan pegawai departemen keuangan di bawah pemerintahan Obama, bahwa Trump menginginkan China menahan diri agar tidak melakukan depresiasi mata uang.

Badan Moneter Internasional (IMF) menolak mengikuti kemauan Trump dan mengatakan bahwa pergerakan yuan di tahun lalu cukup adil.

Tak hanya China, negara kecil seperti Vietnam dan Thailand pun sempat terkena. April lalu pemerintah Vietnam terpaksa meluncur ke AS untuk membuktikan bahwa negaranya tidak memanipulasi pergerakan dong. Thailand pun berpotensi terkena label ini setelah surplus perdagangan negara tersebut di November mencapai $20,5 miliar. Angka ini dinilai melanggar ambang batas ketentuan defisit perdagangan barang versi departemen keuangan AS. Transaksi berjalan Thailand saat ini pun dinilai tinggi jika dibandingkan dengan ketentuan yang diperkenankan.

Kita tunggu gebrakan Trump selanjutnya terhadap China seandainya realisasi kesepakatan dagang tidak sesuai harapan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here