Dengan Buku, Bagas D. Bawono Tularkan Semangat Perjuangkan Pendidikan

92
Bagas D. Bawono, penulis buku Ibu, Doa yang Hilang
Banner Top Article

EKSPOSISI – Ibu adalah sumber inspirasi berbagai karya yang tak akan habis digali. Demikian yang diakui Bagas D. Bawono, penulis buku ‘Ibu, Doa yang Hilang’ yang memang sumber inspirasi bukunya dari ibunya sendiri yang pada saat masih hidup begitu gigih dalam memperjuangkan hidup dan pendidikan bagi dirinya serta kakaknya.

Melalui buku tersebut, Bagas ingin menularkan semangat pada orang-orang yang kurang beruntung agar memperjuangkan pendidikan anak-anaknya. Buku tersebut diangkat ke film layar lebar dengan sutradara Hanung Bramantyo dan akan dibintangi Reza Rahadian dan Christine Hakim.

 

“Sebelum masuk pada bahasan kenapa buku ini berjudul ‘Ibu, Doa yang Hilang’, saya mau cerita dulu, ayah saya wafat saat saya berumur delapan tahun, jadi sejak kelas dua SD, ibu saya adalah seorang single parent,” kata Bagas D. Bawono, penulis buku ‘Ibu, Doa yang Hilang’ dalam acara peluncuran film ‘Ibu, Doa yang Hilang’ di Ruang Auditorium Museum Nasional Indonesia, Jl. Merdeka Barat No. 12. Jakarta Pusat, Jumat (21/12/2018).

 

Lelaki kelahiran Surabaya, 14 Juli ini membeberkan ia melihat bagaimana perjuangan ibunya yang sendirian membesarkan dirinya dan kakaknya.

 

“Kita hidup sangat sederhana, ayah saya adalah seorang pegawai negeri sipil dinas sosial kotamadya Surabaya dengan gaji yang sangat pas-pasan, dimana setiap akhir bulan ibu pasti ikut mencari penghasilan tambahan karena gaji ayah nggak cukup sampai akhir bulan, jadi bisa dibayangkan ketika ayah wafat bagaimana kehidupan ekonomi keluarga kami, “ bebernya.

 

Menurut Bagas, buku ‘Ibu, Doa yang Hilang’ ini ditulis, seminggu sebelum ibunya wafat, ibu memanggil dirinya dan kakaknya

 

“Ibu saya berpesan, bahwa jika ibu sudah wafat, ada satu hal yang ibu amanahkan kepada kalian, kalian sudah tahu bagaimana kita semua dulu berjuang mendapatkan pendudikan untuk kalian dalam kemiskinan, dan kalian sudah tahu bahwa ilmu yang kalian dapatkan itu sangat bergunba bagi kamu, anak-istri kamu, semua karyawan kamu dan seluruh anak-istrinya, jadi kalau ibu sudah ada tolong sampaikan kepada orang-orang yang belum beruntung untuk terus memperjuangkan pendidikan bagi anak-anaknya, seminggu kemudian pada 29 Maret 2014 beliau wafat, “ paparnya.

 

Kemudian, lanjut Bagus, ia berpikir bagaimana cara dirinya dapat menularkan pesan semangat untuk mendorong orang-orang yang belum beruntung itu.

 

“Kebetulan saya hobby menulis, saya berprofesi sebagai arsitek juru gambar, dimana di waktu-waktu luang di malam hari lebih banyak digunakan untuk menulis, “ ungkapnya.

 

Bagas ingat dulu ketika facebook pertama kali buka, hasranya untukt menulis tersalurkan.

 

“Dalam waktu dua-tiga tahun pertama 2008-2010, saya menulis lebih dari 1000 puisi dan prosa , tapi beberapa teman yang menyarankan untuk membukukan tulisan-tulisan tersebut, karena kalau hanya ditulis dimedsos tentu tidak ada legacy-nya, yang membuat saya tergerak semangat untuk menulis buku, “ ujarnya.

 

Teringat pesan almarhumah ibu, Bagas menulis buku untuk menularkan semangat pada orang-orang yang kurang beruntung agar memperjuangkan pendidikan anak-anaknya.

 

“Kemudian, saya berpikir lagi, orang Indonesia bukan bangsa yang tekun membaca, kalau saya menulis novel 300 halaman tidak mungkin dibaca seketika, akhirnya saya berpikir bagaimana buku saya dibaca masyarakat luas, saya terinsprasi pada buku Chicken Soup cerita-cerita nyata dari banyak orang yang ditulis dalam satu buku, “ terangnya.

 

Dari terinsprasi pada buku Chicken Soup, Bagas membuat buku tentang cerita ibunya yang  single parent yang memperjuangkan hidup dan sekaligus pendidikan pada anak-anaknya.

 

“Saya bikin format kumpulan cerpen sekitar 29 cerpen dimana orang bisa baca tiap hari satuy cerpen dalam satu bulan, hingga pada hari terakhir merenungkan, “ harapnya.

 

Bagas menyampaikan judul bukunya ‘Ibu, Doa yang Hilang’ dimana salah satu cerpennya ada yang berjudul ‘Doa yang Hilang’ jadi penerbit menggabungkan inti cerita buku tentang ibu dan disambungkan dengan judul tersebut jadi bukunya ‘Ibu, Doa yang Hilang‘.

 

“Menurut saya pribadi, seorang manusia yang mendoakan dengan tulus pada manusia lainnya itu hanya ibu pada anaknya, “ tegasnya.

 

Kalau teman atau bahkan pasangan, kalau sedang bahagia, akan mendoakan yang baik-baik, tapi kalau tidak bahagia akan lain ceritanya.

 

“Kalau seorang ibu, ketika melihat anaknya berbuat baik dia akan mendoakan dengan tulus, dan kalau melihat anaknya berbuat tidak baik, dia akan mendoakan agar Tuhan memberi kesadaran hingga anaknya kembali ke jalan yang baik supaya hidupnya lebih baik, selalu yang tulus itu doa seorang ibu, “ tandasnya.

Buku ‘Ibu, Doa yang Hilang’ karya Bagas D. Bawono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here