31.7 C
Jakarta
Minggu, 25 Agustus 2019
blog

Rans Music Luncurkan Album Lagu Anak ‘Mimpiku Menjadi Nyata’

Rans Music, label milik pasangan selebritas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina meluncurkan album lagu anak bertajuk ‘Mimpiku Menjadi Nyata’. Sebuah album yang berisi 12 lagu yang dinyanyikan lima penyanyi jebolan ajang pencarian bakat Indonesian Idol Junior. Kelima penyanyi, yakni Anneth Delliecia Nasution, Gemilang Abet Nego, Nashwa Zahira, Raisya Olfat Putri Prabowo, dan Deven Christiandi Putra.

Album Mimpiku Menjadi Nyata berisi 12 lagu yakni lima lagu dari kelima penyanyi muda, lima lagu kolaborasi, satu lagu dinyanyikan oleh seluruh penyanyi, serta satu lagu kolaborasi.

image

“Kelima penyanyi anak ini mewakili image anak-anak Indonesia sekarang,” kata Raffi Ahmad dalam acara jumpa pers konser ‘Mimpiku Menjadi Nyata’ dan sekaligus peluncuran album tersebut di Teater IMAX Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indonesia (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (24/8/2019)

Raffi membeberkan eksistensi penyanyi anak yang sampai sekarang tetap diingat. “Terakhir kan cuma Sherina ya yang berhasil sampai detik ini karyanya terus diingat,” bebernya.

Tak hanya album musik dan konser musik, Raffi merencanakan kelima penyanyi cilik itu terjun ke dunia akting dengan webseries. Bahkan ada kemungkinan nanti ke layar lebar.

“Jadi nanti kami akan luncurkan juga webseries-nya. Jadi semua kami akan kembalikan lagi kejayaan untuk lagu dan penayangan buat anak-anak,” ucap pria berusia 32 tahun ini.

Rans Music Luncurkan Album Lagu Anak 'Mimpiku Menjadi Nyata' 1

eksplor

Sementara itu, Nagita Slavina lebih mementingkan kebutuhan anak–buah pernikahannya dengan Raffi Ahmad, Rafathar Malik Ahmad, lewat album dan web series tersebut.

Alasannya, dia cemas tentang apa yang akan disaksikan oleh putranya tersebut atau mendengar lagu-lagu yang belum sepantasnya didengar anak-anak.

“Kami ingin eksplor lebih jauh lagu anak-anak. Kami pengin lagu yang diproduksi ini dijalnin di webseries musikal pertama untuk anak teenager. Selain single album ya kami buat web series,” katanya.

Gigi, sapaan akrab Nagita Slavina, ingin memopulerkan tayangan-tayangan yang layak untuk disaksikan anak-anak. “Kita nggak cuma kemas di lagu aja, tapi akting dengan web series. Zaman sekarang kan jualan musik gampang-gampang susah, enggak seperti kita dulu. Jadi terciptalah album dan web series ini,” tegasnya.

Oleh karena itu, kata Gigi, dia berusaha untuk mengembalikan era-era kesuksesan lagu anak-anak agar bisa mendapat tempat setara dengan senior mereka. “Penginnya masyarakat Indonesia bisa menikmati baik lagu dan web series-nya,” tandas Gigi.

Rans Music Luncurkan Album Lagu Anak 'Mimpiku Menjadi Nyata' 2

Eksistensi Komunitas Tari Masih Tetap Diperhitungan

Komunitas termasuk sebagai salah salah satu titik penting dalam jejaring kesenian di Indonesia. Ketika banyak negara lain masih mempertanyakan sekolah seni, Indonesia sudah jauh lebih maju ke depan dengan issue komunitas yang bisa menjadi pendidikan alternatif.

Berbagai komunitas tari terus bertumbuh seiring perkembangan dunia tari di Indonesia. Eksistensi konunitas tari masih tetap diperhitungan, bahkan memang bisa menjadi pendidikan alternatif. Demikian yang mengemuka dari diskusi tari dengan mengangkat tema ‘Komunitas Tari sebagai Sekolah Alternatif”.

“Kita memang masih tetap mengakui bahwa eksistensi komunitas tari masih tetap diperhitungan, “ kata Aiko Senosoenoto dari Eki Dance Company sebagai salah satu pembicara dalam diskusi tari bertema ‘Komunitas Tari sebagai Sekolah Alternatif” di Graha Bakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (23/8/2019)

Perempuan kelahiran Jakarta, 26 Mei 1966 itu membeberkan pengalamannya dalam mengelola Eki Dance Company.  

“Sebagai pengelola Eki Dance Company sejauh ini saya menilai kalau komunitas lebih bebas dalam kreasi karena tidak terikat kurikulum sebagaimana yang terjadi di sekolah formal, ” bebernya.

Menurut Aiko, dalam komunitas tari yang dikelolanya tidak perlu embel-embel sarjana atau apa. “Karema yang terpenting kita terus berkreasi menciptakan karya, “  Aiko menegaskan.

Sementara, pembicara lainnya, yakni Ruri Nostalgia menyoroti tentang komunitas tari Padanecwara yang sejak 2003 dirina menjadi manager program.

“Dari dulu kita sudah menerapkan kalau komunitas kita tidak hanya terikat pada satu orang yang jadi patron, meski masyarakat masih tetap melihat sosok orang yang paling berpengaruh dalam komunitas, tapi kita ingin Ruri sebagai Ruri dan mandiri menjadi sosok Ruri dengan karyanya sendiri, “ terang Ruri.

Ruri juga menyorot tentang komunitas tidak hanya belajar tari tapi berbagai aspek kehidupan di dalamnya. “Itulah yang membedakan kita di komunitas tari dibanding sekolah formal, “ tegasnya.

Adapun, Farid Alfaruqi sebagai pengamat tari dan kesenian lainnya, melihat seniman tari Indonesia tumbuh dalam lingkungan sekolah seni formal dan komunitas informal.

“Kedua institusi itu dengan caranya masing-masing tekah melahirkan dan membesarkian seniman tari di Indonesia, “ terangnya.

Farid mengingatkan agar komunitas tari tidak terjebak dalam satu patron saja yang berakibat kalau satu patron itu meninggal maka komunitas tari akan mati atau terheti kegiatan berkeseniannya.

Diskusi yang dipandu Heru Joni Putra ini menjadi bagian dari gelaran Jakarta Dance Meet Up (JDMU) dengan tema “Perempuan, Seni dan Kodrat” yang digelar dalam rentang waktu 23-26 Agustus 2019 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Program yang digagas Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini menghadirkan beragam kegiatan, antara lain: pameran dan bazar tari, diskusi, sharing session, dan pertunjukan serta peluncuran buku “Unboxing Tari”.

Tutut Soeharto: YHK dan YDGRK Laksanakan Bakti untuk Indonesia

Eksposisi.com – Memaknai ulang tahun tak hanya merenungkan saja, tapi juga mewujudkan lebih kongkret lagi segala apa yang dicita-citakan. Demikian yang dilakukan Yayasan Harapan Kita (YHK) dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) yang pada tanggal 23 Agustus 2019 ulang tahunnya.

YHK kini menapaki usia 51 tahun, sedangkan YDGRK memasuki usianya yang ke 33 tahun. Dua yayasan sosial tersebut menjadi penanda dan jejak pengabdian almarhumah ibu Tien Soeharto kepada masyarakat Indonesia. Keduanya seiring sejalan dalam mewujudkan lebih kongkret lagi segala apa yang dicita-citakan, yakni melaksanakan bakti untuk Indonesia.  

berhasil

“Pada hari ini, 51 tahun lalu almarhumah ibu Tien mendirikan Yayasan Harapan Kita. Di hari ini pula, 33 tahun lalu, beliau mendirikan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan. Tekad beliau tegas, jangan pernah kita dikalahkan oleh penderitaan tanpa berupaya melawannya sekuat tenaga, “ kata Hj. Siti Hardiyanti Rukmana – Ketua Umum YHK dan YDGRK dalam sambutannya, di acara tasyukuran milad kedua organisasi sosial tersebut di Aula Granadi, Gedung Granadi Lt Dasar Jl. HR Rasuna Said Kav 8-9, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (23/8/2019).

Perempuan kelahiran Jakarta, 23 Januari 1949, yang akrab disapa dengan nama Mbak Tutut itu menyebut dengan modal awal Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah) pada masa itu, yang disisihkan ibu Tien dan ibu Zaleha ibnu Sutowo, dari kas rumah tangga. “Mereka menggerakkan Yayasan Harapan Kita. Kini setelah 51 tahun, kita bisa menyaksikan sendiri perkembangan yang terjadi atas dedikasi mereka, “ ungkap Mbak Tutut mantap.

Menurut Mbak Tutut, yayasan ini telah berhasil membangun sekian banyak rumah sakit, seperti di antaranya, Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita, Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dan sebagainya. “Juga bukan karena yayasan sukses  membangun berbagai sarana kebudayaan, pendidikan hingga kesehatan seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Perpustakaan Nasional, hingga Taman Anggrek Indonesia Permai, ” papar Mbak Tutut.

Namun kita dapat menjadi saksi, lanjut Mbak Tutut, bagaimana Yayasan Harapan Kita berhasil mengurangi ketergantungan warga Indonesia berobat ke luar negeri. “Yayasan Harapan Kita bertekad kuat sebagaimana keinginan ibu Tien sebagai pendirinya membela kesehatan rakyatnya. “Sejak awal berdirinya, Yayasan Harapan Kita menegaskan bahwa bagi yang ekonominya tidak mampu, meskipun mengalami gangguan jantung, tetap harus diselamatkan dengan mekanisme cross subsidi, “ Mbak Tutut membeberkan.

Tutut Soeharto: YHK dan YDGRK Laksanakan Bakti untuk Indonesia 3

pengabdian

Sementara Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, kata Mbak Tutut, rentang waktu 33 tahunnya telah menunjukkan berbagai pengabdian kepada warga negara yang terkena  bencana. “Kami selalu hadir di mana rakyat menderita karena bencana. Tak hanya sekali. Pada bencana yang baru saja terjadi, yakni tsunami di pesisir Banten dan Lampung, akhir tahun 2018 hingga awal 2019 lalu, saya sendiri terlibat. Sedikitnya dalam dua kali kedatangan, “ Mbak Tutut menerangkan.

“Kami datang bukan hanya memberi apa yang bisa kami berikan. Namun kami datang untuk memberi harapan sekaligus menegaskan masih kuatnya tali persaudaraan kita sebagai anak bangsa. Lebih jauh lagi, sebagai sesama manusia, makhluk Allah yang diikat dengan rachmaan dan rachiim-Nya, “ tutur Mbak Tutut penuh rasa syukur.

Mbak Tutut menyampaikan bahwa begitu banyak harapan baik untuk Bangsa dan Negara ini, yang selamanya menjadi tantangan yang meletupkan visi, karsa, karya kita semua untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera dan bahagia. “Semua itu tentu untuk kita bersama dalam Yayasan Harapan Kita maupun dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) dalam melaksanakan bakti untuk Indonesia, “ pungkas Mbak Tutut. 

Tutut Soeharto: YHK dan YDGRK Laksanakan Bakti untuk Indonesia 4

Bursa Asia Labil, Sentimen Pasar Negatif

Eksposisi – Saham-saham di seantero Asia diperdagangkan bervariasi pada Jumat (23/8) jelang pidato Ketua the Fed Jerome Powell di Jackson Hole dan setelah data aktivitas pabrikan AS tidak sesuai harapan.

Krisis di Hong Kong dan isu Brexit turut mempengaruhi sentimen investor pada hari ini. Indeks acuan MSCI turun 0,1%, sementara Nikkei menguat 0,2%, saham Australia turun 0,1% dan saham Korsel tergelincir 0,3% akibat kian memburuknya hubungan dengan Jepang.

Hari ini investor cenderung “wait and see” dan berharap nada positif dari Powell.

Tadi malam, bursa Amerika juga ditutup bervarasi dimana S&P 500 terkoreksi tipis, Dow Jones menguat 0,2% sebaliknya Nasdaq tergelincir 0,4%.

Meski data sektor pabrikan tidak begitu bagus, tapi klaim tunjangan pengangguran menunjukkan bahwa pasar ketenagakerjaan cukup kuat.

Dari pasar mata uang, dolar tercatat berada di posisi $1,1078 terhadap euro. Poundsterling melonjak ke level tertinggi pada $1,2273 setelah pasar bereaksi terhadap komentar Kanselir Angela Merkel terkait penyelesaian masalah perbatasan Irlandia yang bisa dilakukan sebelum Inggris meninggalkan Uni Eropa pada 31 Oktober nanti.

Sebaliknya, yuan masih melemah terhadap dolar dan mulai sentuh level terendah baru ditengah-tengah kecemasan akan memburuknya perang dagang dengan AS. Yuan dikutip pada 7,0875 per dolar.

Dari pasar komoditas, minyak mentah Brent Crude dan West Texas masing-masing jatuh 0,6%. Emas juga turun 0,2% di level $1.496,00 per ounce.

Pidato Powell Tentukan Pergerakan Dolar

Eksposisi – Mata uang dolar masih menguat Kamis (22/8) setelah dokumentasi hasil rapat the Fed yang lalu memicu ekspektasi liar bahwa bank sentral akan menerapkan beberapa pemangkasan suku bunga dengan drastis.

Mata uang region Asia diperkirakan akan diperdagangkan pada rentang yang cukup ketat pada hari ini menjelang pidato ketua Jerome Powell di Jackson Hole pada Jumat esok, dimana pelaku pasar menantikan sinyalemen seberapa jauh kesiapan the Fed dalam menurunkan suku bunga.

Komentar sang ketua sangat diperlukan setelah pergerakan obligasi pemerintah baru-baru ini memunculkan potensi resesi bagi perekonomian AS. Meski rilis rapat the Fed juga memicu harapan tapi secara keseluruhan, pasar masih mengharapkan adanya pemangkasan suku bunga karena perekonomian melambat.

Pergerakan dolar akan berubah setelah pidato Powell. Jika pesan yang diucapkan bernada “hawkish” atau cenderung kepada suku bunga tinggi maka akan terjadi aksi jual saham yang akhirnya akan memukul dolar karena investor cenderung memburu mata uang aman seperti yen.

Dolar sendiri terakhir kali dikutip berada di level 107,79 yen setelah kemarin berhasil menguat 0,36%. Terhadap franc, dolar diperdagangkan di level 0,9822. Sementara poundsterling diperdagangan terkoreksi pada 1,2132 terhadap dolar dan turun pada 91,89 pence terhadap euro terpengaruh masalah Brexit yang tidak menentu.

Pada rapat terakhir, anggota the Fed terpecah menyangkut apakah akan memangkas suku bunga atau tidak namun satu suara berkenaan dengan tidak adanya rencana pemangkasan suku bunga berikutnya.

Yang cukup memberatkan adalah sikap Presiden Donald Trump yang beberapa kali melontarkan kritikan pedas kepada sang ketua karena enggan memangkas suku bunga dengan agresif.

Kebijakan pemangkasan suku bunga memang dilematis karena saat ini hampir semua bank sentral diseluruh dunia melakukannya demi menangkal efek dari perang dagang antara AS dan China yang menyebabkan perekonomian global melemah.

Terkait dengan Brexit, Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Rabu lalu mengatakan tidak ada negosiasi ulang atas persyaratan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, meski keduanya dijadwalkan akan bertemu Kamis ini di Paris.

Indeks PMI Jepang merosot

Eksposisi – Aktivitas sektor pabrikan Jepang menurun selama empat bulan berturut-turut di Agustus setelah pesanan untuk barang-barang ekspor berkurang drastis.

Sebaliknya aktivitas sektor layanan tumbuh cepat mendekati dua tahun. Kuatnya permintaan dalam negeri cukup berhasil menekan faktor eksternal yang menekan perekonomian.

Indeks PMI versi Jibun Bank naik menjadi 49,5 dibanding bulan lalu sebesar 49,4, akan tetapi angka ini masih dibawah batas 50,0 yang menunjukkan bahwa produksi pabrikan dan total pesanan baru masih berkontraksi.

Serapan tenaga kerja tetap tumbuh namun secara index masih dalam level kontraksi.

Masih menurut Jibun, PMI untuk sektor jasa meningkat menjadi 53,4 di Agustus dibanding satu bulan sebelumnya pada 51,8.

Pertumbuhan PDB yang cukup solid ini diperkirakan masih akan merambat di kwartal ketiga tapi akan berbalik setelah efek kenaikan pajak penjualan masuk ke dalam data.

Berdasarkan data diatas, pertumbuhan ekonomi Jepang di angka 1,8% per tahun dikwartal kedua berkat kuatnya konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis.

Merosotnya ekspor Jepang salah satunya disebabkan oleh berkurangnya pengiriman suku cadang mobil dan peralatan produksi semikonduktor ke China. Keyakinan sektor pabrikan Jepang berubah negatif untuk pertama kalinya sejak terakhir kali di April 2013 lalu.

Hasil perundingan AS-China Tak Meyakinkan

Eksposisi – Pada sesi pagi ini (16/8) bursa Asia diperdagangkan melemah setelah pasar melihat perundingan dagang AS-China belum menunjukkan perkembangan berarti.

Meski Presiden Donald Trump memberi sinyal positif atas pertemuan kedua negara dengan menyebutnya produktif namun tidak ada pernyataan terkait dengan pemberlakukan tarif baru yang akan mulai diterapkan pada 1 September nanti.

Dalam pernyataannya dihadapan wartawan, Trump mengatakan pertemuan selanjutnya pada September dan melalui panggilan telefon. Sementara pemerintah China pada Kamis (15/8) berjanji akan melawan rencana pengenaan tarif atas barang-barang impor dari China yang bernilai $300 miliar meski sempat menyatakan bahwa kedua negara sudah setengah jalan menuju kesepakatan potensial.

Trump sendiri yakin bahwa China tidak akan membalas karena menurutnya diskusi terakhir berjalan dengan baik dan China ingin membuat kesepakatan.

Latar belakang yang tidak meyakinkan inilah yang menjadi penyebab anjloknya indeks MSCI sebesar 0,17%. Nikkei melemah 0,5% termasuk bursa Australia.

Sementara dolar juga turun terhadap yen pada posisi 106,08. Emas terus melonjak dan kokoh di level $1.524,90. Minyak Brent menguat menjadi $58,46 dan minyak mentah AS naik menjadi $54,80 per barrel.

ON OFF Festival 2019 Bakal Diramaikan Ratusan Konten Kreator Nasional & Internasional

Eksposisi.com, Jakarta – Mengulang kesuksesan gelaran perdanananya, Indonesia’s largest content creator network Famous All Stars (FAS) kembali mempersembahkan ON OFF Festival 2019. Mengusung tema Born Online, ONN OFF Festival 2019 akan digelar pada 7-8 September 209 di GBK, Senayan Jakarta.

Ratusan konten kreator terbaik internasional dan nasional, serta musisi Tanah Air dipastikan bakal meramaikan ON OFF Festival 2019. Mereka yang sudah dipastikan hadir yakni Krunk, Kwon Twins, Noraebang, The Overtunes, Aaliyah Massaid, Chandra Liow, Bayu Skak, Reza ‘RAP’ dan banyak lagi. Hadir juga boygroup Winner dari Korea sebagai highlight performer.

“Gelaran ON OFF Festival merupakan sebuah wadah yang berupaya menciptakan sinergi positif antara para talenta lokal dan internasional serta dengan para komunitasnya. Hal ini tentunya sejalan dengan misi dan komitmen FAS untuk terus mendukung pekembangan para kreator di indonesia,” kata Direktur ON OFF Festival Dien Tirto Buwono di Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Dalam gelaran keduanya nanti, ON OFF Festival 2019 yang berkolaborasi dengan Vidio ini akan membahas tren-tren baru serba viral di platform online yang dibagi dlam lima zona interaktif yakni Netizen Zone, Community Zone, Creators Classes Zone, Meet and Greet Zone, dan Idol Zone.

Putusan MA Bisa Menjadi Preseden Intervensi Pemerintah

EKSPOSISI – Pada tanggal 21 Februari 2019, Mahkamah Agung menerbitkan Putusan Kasasi No. 60/K/TUN/2019 yang amar putusannya mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti). Pemohon menginginkan Mahkamah Agung (MA) agar membatalkan putusan perkara baik ditingkat Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan Pengadilan Tinggi PTUN sebelumnya dalam perkara gugatan yang diajukan oleh Profesor Yuswar Zainul Basri.

SPS Desak Menkeu Bebaskan Pajak Kertas

Eksposisi.com – Upaya Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat untuk memperjuangkan “Bebas Pajak bagi Pengetahuan” (No Tax for Knowledge) kembali kandas di tangan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.

Melalui surat tertanggal 7 Agustus 2019, Sri Mulyani merespons negatif permohonan Pengurus SPS Pusat untuk mendiskusikan ikhwal No Tax for Knowledge di atas. “Kami dengan menyesal belum bisa memenuhi permohonan pengurus SPS Pusat untuk bertemu Menteri Keuangan,” bunyi kutipan surat yang ditandatangani Nufransa Wira Sakti, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, tanpa ada penjelasan memadai.

Untuk diketahui, Pengurus SPS Pusat pada tanggal 9 Juli 2019 berkorespondensi dengan Menkeu, guna mencari momentum mendiskusikan isu No Tax for Knowledge.

Upaya ini adalah tindak lanjut dari saran Wakil Presiden Jusuf Kalla saat pengurus SPS Pusat beraudiensi dengannya di Kantor Wapres Jalan Merdeka Utara, Jakarta, pada 18 Maret 2019 lalu. Jauh sebelumnya Pengurus SPS Pusat pernah bertemu dengan Sri Mulyani tahun 2008, ketika menjabat Menkeu di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu, Menkeu menolak usulan No Tax for Knowledge SPS.

“No Tax for Knowledge” pada hakikatnya merupakan sebuah perjuangan para penerbit media cetak guna mendapatkan keringanan terhadap pajak pembelian kertas dan penjualan produknya. Hal yang sama telah dikenyam oleh penerbit buku di Tanah Air, yang memperoleh insentif atas pajak penjualan buku. Perjuangan ini tentu punya dasar yang kuat.

Seperti dari keterangan tertulis yang diterima ekposisi.com, sebagai satu-satunya asosiasi penerbit pers cetak di Indonesia yang beranggotakan 450 penerbit, SPS meyakini, pemberian insentif atas pembelian kertas koran dan penjualan media cetak, tidak akan membuat pundi-pundi keuangan Negara tergerus.

“Justru melalui insentif tersebut, akan mengundang minat baca masyarakat semakin tinggi terhadap media cetak. Pada gilirannya budaya membaca yang kuat akan berkontribusi terhadap pencerdasan bangsa. Ada sisi “intangible advantage” yang luput dari perhitungan Menkeu jika menolak kampanye No Tax for Knowledge penerbit media cetak,” ungkap Sekretaris Jenderal SPS Pusat Asmono Wikan.

Sebagai bagian dari media arus utama, kontribusi penerbit pers cetak terhadap informasi yang utuh juga sangat kuat. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah pun mengakui peran penting pers cetak dalam mendukung kampanye besar anti hoax. “Patut disayangkan jika Menkeu terlalu dini menutup pintu dialog dengan SPS Pusat ikhwal No Tax for Knowledge. Padahal ikhtiar pers cetak dalam ikut meliterasi dan mengkonsolidasi keutuhan bangsa selama ini tak terhitung lagi banyaknya,” imbuh Asmono.Sekadar mengingatkan, di berbagai negara maju yang tingkat literasinya tinggi, seperti Norwegia, Jerman, Denmark, Swedia, dan bahkan India, insentif atas kertas koran juga diberlakukan. Tak heran jika peran pers cetak di negara-negara tersebut masih sangat kuat dalam ikut mendidik masyarakat.

“Pada akhirnya, ini soal keberpihakan. Barangkali Menkeu tidak melihat pentingnya memberi keberpihakan pada industri yang tiap tahun menyumbang pajak ke Negara puluhan bahkan mungkin ratusan milyar. Itulah industri pers cetak di tanah air,” pungkas Asmono.

Berita Terpopuler