Eksposisi – Mengawali minggu ini (26/8) bursa Asia tercatat anjlok setelah manuver terbaru yang dilakukan Washington menggerus keyakinan investor terhadap prospek perekonomian global.

Akibatnya investor berbondong-bondong menyerbu aset-aset aman seperti obligasi pemerintah, emas dan yen. Emas tembus level tertingginya sejak terakhir kali di 2013 lalu dan menyentuh level 1.544.83 per ounce.

Indeks acuan MSCI tergelincir 0,8% dan indeks Australia jatuh 1,7% sementara Nikkei melemah 2,3%.

Sejak Jumat (23/8), pasar sudah dibuat kelimpungan setelah presiden Trump kembali mengumumkan kenaikan tambahan pajak sebesar 5% terhadap barang-barang China yang bernilai $550 miliar tak lama setelah China menjatuhkan tarif atas $75 miliar barang-barang ekspor AS.

Pada rapat G7 diakhir pekan kemarin Trump sempat memicu kebinggungan pasar dengan mengungkapkan penyelesalannya terkait dengan perang dagang, namun ternyata yang dimaksud olehnya adalah penyelesalan karena tidak menerapkan tarif yang lebih tinggi terhadap China sejak awal.

Meski begitu ada perubahan sikap dimana Trump memberi sinyal tidak akan memaksa agar perusahaan-perusahaan AS menutup operasinya di China.

Selain permasalahan perang dagang, perekonomian global juga akan menghadapi tantangan karena mengacu kepada perkembangan terakhir, maka the Fed dituntut untuk segera bertindak pantas untuk menjaga kesehatan ekonomi AS meski sejak awal sang ketua Jerome Powell ogah mengambil kebijakan pemangkasan suku bunga drastis.

Pasar sendiri masih berkeyakinan the Fed akan bertindak agresif dan akan memangkas suku bunga setidaknya seperempat poin di September dan pemangkasan akan mencapai lebih dari 110 basis poin diakhir 2020 nanti.

Analis JP Morgan, Adam Crisafulli mengatakan bahwa Trump kelihatan tidak akan mengendurkan kebijakan perdagangannya yang merusak dan hal ini akan menyebabkan banyak perusahaan tertekan sehingga tidak bisa belanja dan akhirnya mempengaruhi penyerapan tenaga kerja.

Perdagangan global, produksi industri dan investasi semuanya akan terhambat dan dalam kondisi tak menentu karena tidak ada secercah harapan.

Dari pasar mata uang, dolar diperdagangkan melemah dan berada pada posisi 105,04 terhadap yen. Euro kokoh di level 1,1145 terhadap dolar. ECB sendiri diisukan juga akan mengambil kebijakan pemangkasan agresif bulan depan. Yuan dperdagangkan tertekan di level 7,1710 dan Beijing diperkirakan akan kembali turun gunung untuk melakukan intervensi.

Dari pasar komoditas, minyak diperdagangkan melemah karena kecemasan perang tarif akan menurunkan konsumsi. Minyak Brent tergelincir menjadi $58,47 sementara minyak mentah AS jatuh menjadi $53,15 per barrel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here