Bursa Asia bergerak labil jelang G20

23
Trump berlakukan kenaikan tarif baru, pasar tunggu reaksi China
China and America : two national flags face to face, symbol for the relationship between the two countries.
Banner Top Article

Eksposisi – Bursa Asia diperdagangkan naik-turun Rabu ini sementara dollar melonjak dekati level tertingginya dalam 1,5 tahun terakhir menyusul surutnya pesona asset-aset beresiko akibat muncul tanda-tanda memanasnya perselisihan dagang Sino-AS.

Bursa regional seperti Australia dan Korsel diperdagangkan melemah. Sementara Nikkei menguat dan saham-saham China diperdagangkan hanya mampu membukukan penguatan tipis diawal perdagangan. Indeks-indeks unggulan (blue chip) diperdagangkan flat.

Kemarin Presiden Trump mengungkap kepada Wall Street Journal enggan menerima permintaan China untuk menunda rencana kenaikan tarif sampai 25%. Tak lama muncul kabar bahwa kedua kepala negara akan mengadakan makan malam bersama pada pertemuan G20 yang akan berlangsung dalam waktu dekat di Argentina.

Namun, kabar tersebut belum cukup meyakinkan karena masih belum jelas apakah kedua belah pihak akan melanjutkan pertemuan formal setelah KTT G20 selesai.

Disaat yang sama, berdasarkan sumber dari Uni Eropa, dikatakan bahwa Trump berpeluang menjatuhkan tarif terhadap mobil-mobil impor pada pekan depan, yang menyebabkan saham-saham otomotif Eropa terperosok tajam.

Situasi ekonomi global belum menjanjikan, kejutan-kejutan masih akan sering terjadi oleh karena itu dollar masih menjadi pilihan favorit ketika  prahara melanda.

Pasar akan kembali mengalihkan fokusnya ke pidato eksekutif the Fed, Jerome Powell untuk mengetahui berapa kali lagi the Fed akan menaikkan suku bunga.

Dari pasar mata uang, poundsterling diperdagangkan melemah menjadi $1,2733 dan menyandang prediket sebagai mata uang major dengan performa terburuk.

Minyak mentah berjangka AS diperdagangkan menguat menjadi $51,84 per barrel dan Brent menguat menjadi $60,49.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here