Komunitas termasuk sebagai salah salah satu titik penting dalam jejaring kesenian di Indonesia. Ketika banyak negara lain masih mempertanyakan sekolah seni, Indonesia sudah jauh lebih maju ke depan dengan issue komunitas yang bisa menjadi pendidikan alternatif.

Berbagai komunitas tari terus bertumbuh seiring perkembangan dunia tari di Indonesia. Eksistensi konunitas tari masih tetap diperhitungan, bahkan memang bisa menjadi pendidikan alternatif. Demikian yang mengemuka dari diskusi tari dengan mengangkat tema ‘Komunitas Tari sebagai Sekolah Alternatif”.

“Kita memang masih tetap mengakui bahwa eksistensi komunitas tari masih tetap diperhitungan, “ kata Aiko Senosoenoto dari Eki Dance Company sebagai salah satu pembicara dalam diskusi tari bertema ‘Komunitas Tari sebagai Sekolah Alternatif” di Graha Bakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (23/8/2019)

Perempuan kelahiran Jakarta, 26 Mei 1966 itu membeberkan pengalamannya dalam mengelola Eki Dance Company.  

“Sebagai pengelola Eki Dance Company sejauh ini saya menilai kalau komunitas lebih bebas dalam kreasi karena tidak terikat kurikulum sebagaimana yang terjadi di sekolah formal, ” bebernya.

Menurut Aiko, dalam komunitas tari yang dikelolanya tidak perlu embel-embel sarjana atau apa. “Karema yang terpenting kita terus berkreasi menciptakan karya, “  Aiko menegaskan.

Sementara, pembicara lainnya, yakni Ruri Nostalgia menyoroti tentang komunitas tari Padanecwara yang sejak 2003 dirina menjadi manager program.

“Dari dulu kita sudah menerapkan kalau komunitas kita tidak hanya terikat pada satu orang yang jadi patron, meski masyarakat masih tetap melihat sosok orang yang paling berpengaruh dalam komunitas, tapi kita ingin Ruri sebagai Ruri dan mandiri menjadi sosok Ruri dengan karyanya sendiri, “ terang Ruri.

Ruri juga menyorot tentang komunitas tidak hanya belajar tari tapi berbagai aspek kehidupan di dalamnya. “Itulah yang membedakan kita di komunitas tari dibanding sekolah formal, “ tegasnya.

Adapun, Farid Alfaruqi sebagai pengamat tari dan kesenian lainnya, melihat seniman tari Indonesia tumbuh dalam lingkungan sekolah seni formal dan komunitas informal.

“Kedua institusi itu dengan caranya masing-masing tekah melahirkan dan membesarkian seniman tari di Indonesia, “ terangnya.

Farid mengingatkan agar komunitas tari tidak terjebak dalam satu patron saja yang berakibat kalau satu patron itu meninggal maka komunitas tari akan mati atau terheti kegiatan berkeseniannya.

Diskusi yang dipandu Heru Joni Putra ini menjadi bagian dari gelaran Jakarta Dance Meet Up (JDMU) dengan tema “Perempuan, Seni dan Kodrat” yang digelar dalam rentang waktu 23-26 Agustus 2019 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Program yang digagas Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini menghadirkan beragam kegiatan, antara lain: pameran dan bazar tari, diskusi, sharing session, dan pertunjukan serta peluncuran buku “Unboxing Tari”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here