Emerging Markets Siap Rally 2019 Jika Perang Dagang Berdamai

172
EM Siap Rally 2019 - Trade War - Perang Dagang - Berita Global Ekonomi Makro
Banner Top Article

Aset pasar negara berkembang (emerging markets) siap untuk rally 2019. Karena aksi proteksionisme antara AS dan China berkurang, menurut beberapa pengelola keuangan terbesar di dunia.

Terobosan perdagangan yang dicapai hari Minggu oleh AS, Kanada, dan Meksiko membantu menghasilkan optimisme tentang ‘gencatan senjata’ antara dua ekonomi terbesar dunia tahun depan. Karena kebijakan tarif berdampak pada kedua negara. Dan itu bisa menjadi kata kunci bagi aset dari Argentina hingga Turki dan juga Brasil yang telah terhantam oleh perseteruan yang meningkat antara Presiden Donald Trump dan PM Xi Jinping.

Deescalation atau penurunan eskalasi dengan China mungkin bisa terjadi di pertengahan 2019, menurut kepala strategi perdagangan Asia di Citigroup Global Markets di Hong Kong. Pada saat itu, pemerintahan Trump akan memberlakukan tarif lebih dari $ 500 miliar untuk barang-barang China dan tindakan balasan oleh Beijing bisa mulai melukai ekonomi dan saham AS. Setiap berita baik tentang perdagangan berarti “pasar negara berkembang akan bangkit cukup keras. Dan menyebabkan rally 2019.

Ketegangan antara Washington dan Beijing berkobar pekan lalu setelah tarif 10 persen pemerintah Trump pada sekitar $ 200 miliar barang-barang China mulai berlaku. Pemerintah Xi menanggapi dengan hak pengenaan tarif sendiri sebesar $ 60 miliar dalam produk AS. Sehingga menambah kekhawatiran bahwa tidak akan ada resolusi jangka pendek untuk perang dagang. Bahkan, China mengatakan mereka lebih memilih untuk menunda pembicaraan sampai dampak jangka menengah AS berakhir pada bulan November. Namun itu menempatkan risiko lebih besar pada pertemuan potensial Trump-Xi di KTT G-20 di Argentina akhir bulan itu.

Ekonomi Tinggi 2018, Rally 2019

Ekspansi ekonomi AS akan melambat menjadi 2,5 persen tahun depan dari 2,9 persen pada 2018, menurut perkiraan median lebih dari 60 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg. Sementara China akan melambat menjadi 6,3 persen dari 6,6 persen.

Menurut Teresa Kong, kepala fixed income di Matthews Asia, San Francisco, “Lonjakan pertumbuhan di kedua perekonomian serta tekanan dari konsumen dan kelompok bisnis dapat mempercepat kesepakatan perdagangan. Hampir 69 persen bisnis AS yang beroperasi di China menentang penggunaan tarif sebagai ‘senjata’, sementara hanya 8,5 persen mendukung mereka (kebijakan tarif). Ini terungkap di dalam survei terhadap 434 responden pada bulan April dan Mei oleh Kamar Dagang Amerika di Shanghai.

“Ketika dampak mulai membebani ekonomi, Trump mungkin mempertimbangkan mundur,” kata Kong. Juga menurutnya bahwa penurunan Indeks S & P 500 mungkin akan menjadi indikator utama.

Chen Wenling, kepala ekonom di China Center for International Economic Exchanges yang berbasis di Beijing, mengemukakan pandangannnya, “Perang dagang tidak dapat bertahan lama mengingat dampaknya pada konsumen AS. Mereka sedang menunggangi ekonomi tinggi mengingat dampak positif dari pemotongan pajak dan rally pasar saham, tetapi itu adalah pandangan yang menyimpang.”

Trump juga akan bersiap untuk maju pada pemilihan kembali 2020 dan prospek kesepakatan yang bisa dicap sebagai kemenangan bagi komunitas bisnis AS mungkin terlalu menggiurkan untuk dilewatkan, menurut analis dan investor.

Rally 2019

Itu akan menjadi berita baik bagi para manajer dana di pasar berkembang (emerging markets, EM), yang telah menyaksikan saham merosot menjadi pasar bearish dan mata uang dari Argentina hingga Turki lanjut India meluncur ke rekor terendah tahun ini. Ini di latar belakangi penguatan dolar, kenaikan suku bunga AS dan meningkatnya sengketa perdagangan.

“Setiap indikasi bahwa AS dan China sedang menyelesaikan sengketa perdagangan kemungkinan akan baik untuk aset EM, saham Asia pada khususnya,” kata Kathy Jones, kepala strategi fixed income di Charles Schwab, New York.

Hutang dengan yield tinggi di negara EM kemungkinan akan mendapat dorongan dari berkurangnya ketegangan sengketa perdagangan setelah kinerja yang buruk tahun ini.

Konsensus umum bagi Washington dan Beijing adalah bahwa perdagangan akan tetap menjadi roda penggerak utama dalam persaingan strategis jangka panjang mereka, jadi ‘gencatan senjata’ mungkin tidak akan bertahan lama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here