Lagi, sebuah film daerah diproduksi. Kali ini, film Ati Raja. Sebuah film yang berkisah tentang kehidupan penyair dan musisi Ho Eng Dji (1906-1960).

Film produksi Persaudaraan Peranakan Tionghoa Makassar dan 786 Production itu berlatar budaya kehidupan kaum etis Tionghoa peranakan yang bergaul harmonis dengan masyarakat Makassar.

“Ho Eng Djie ini merupakan sosok peranakan Tionghoa yang unik, lewat lagu-lagu karyanya, ia berusaha menyampaikan beragam pesan moral mulai dari masalah toleransi hingga soal cinta,” kata sutradara Shaifuddin Bahrum di Losari Roxy Hotel, Jakarta, Rabu (30/10/2019)..  

Daeng Uddin, sapaan akrab Shaifuddin Bahrum, membeberkan, pada usia belia Baba Tjoi, nama panggilannya, mengenyam pendidikan di sekolah partikelir milik orang Melayu, Ince Bau Sandi, di Makassar, untuk menimba ilmu sastra Melayu dan Makassar, serta belajar menulis lontar dan bahasa Makassar.

“Menginjak remaja, Baba Tjoi menunjukkan bakat musiknya dan mulai mempopulerkan syair-syair lewaf nyanyian dan musik daerah. Pada 1939, Ho Eng Dji masuk studio rekaman Canari di Surabaya unfuk merekam lagu-lagu ciptaannya, “ bebernya.

Menurut Daeng Uddin, hingga tahun 1942 berhasil diselesaikan rekaman musik daerah Sulawesi Selafan, bukan hanya Makassar, juga Bugis, Mandar, dan Selayar, sebanyak 3 album piringan hitam dalam kurun waktu empat tahun.

“Sebelum pecah Perang Dunia Kedua tahun 1945, rekaman lagu Ho Eng Dji berhasil terjual sampai 20 ribu keping tidak hanya di Indonesia bahkan hingga ke Malaya dan Singapura, “ ungkap Daeng Uddin.

Selain lagu Ati Raja, kata Daeng Uddin, lagu-lagu ciptaan Ho Eng Dji terkenal dan dikenang hingga kini, diantaranya Sailong, Dendang dendang, dan Amma Ciang, yang semakin mengukuhkan dirinya sebagai musisi dan pencipta lagu hingga akhir hayatnya,

“Ho Eng Dji adalah pencipta lagu Ati Raja yang sangat populer di Sulawesi Selatan, scbuah lagu yang sarat makna, yakni sebagai ucapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, “ ujar Daeng Uddin.

Film ini akan tayang di bioskop pada`7 November bersamaan dengan perayaan menyambut Hut Kota Makassar yang ke-412, ini diharapkan bisa menginspimsi anak muda zaman Now.

“Film ini mengambil lokasi syutmg di daerah Makassar, Barru , Pare-pare dan Gowa yang masih asri kala itu,” tegas Daeng Uddin.

Daeng Uddin menyampaikan bahwa, pribadi Ho Eng Dji merupakan sosok seniman dan budayawan utama pada masanya, bahkan hinggo kini karya-karyanya tetap abadi.

“Namun sayangnya, hamper semua karyanya diberangus oleh pencabutan hak cipta dan menjadikannya NN (no name) hingga kini,” pungkas Daeng Uddin.

Adapun, Dr. Sjamsul Lussa, anggota LSF dan pengamat Bugis Makassar, menyambut baik film ini. “Film ini harus kita dukung karena secara keseluruhan film ini mengandung nilai budaya, “ katanya.

Menurut Sjamsul, Ati Raja adalah lagu wajib di Kampus Universitas Hasanuddin. “Setiap wisuda, lagu ini diperdengarkan, sungguh luar biasa, “ ungkapnya.

Sjamsul mengaku tidak tahu penciptanya, tapi setelah tahu kalau pencipta lagu Ati Raja adalah Ho Eng Dji, ia mengapresiasi dan sangat menaruh hormat. “Film ini patut ditonton karena Ati Raja bukan hanya milik Makassar, tapi juga nasional, bahkan dunia karena mengandung makna yang universal tentang nilai kemanusiaan yang memang kita semua harus junjung tinggi, “ tandas Sjamsul Lussa.  

Film yang skenarionya ditulis oleh Ancu Amar, Yudikatif Sukatanya dan Shaifuddin Bahrum ini didukung sederet artis seperti Fajar Baharuddin (sebagai Ho Eng Dji), Jennifer Tungka (sebagai Soang Kie), Stephani Vicky Andries (sebagai Ho Eng Gwee), Chesya Tjoputra (sebagai Yang Tju), Goenawan Monoharta (sebagai Papa Ho Eng Dji), Yatti Lisal (sebagai Mama Ho Eng Dji), Zulkifli Gani Otto (sebagoi Gubernur Belanda), serta Noufah A. Patajagi, Saenab Hasmar, Agung Iskandar, Wandy, Syahriar Tato, dan Kiki Hehanusa.

Film Ati Raja, Kisah Kehidupan Penyair & Musisi Ho Eng Dji 1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here