31.5 C
Jakarta
Minggu, 25 Agustus 2019
Beranda Review Film Wedding Agreement, Dilema Pernikahan Karena Perjodohan

Wedding Agreement, Dilema Pernikahan Karena Perjodohan

0
Wedding Agreement, Dilema Pernikahan Karena Perjodohan

EKSPOSISI – Apa arti sebuah pernikahan yang didasari karena perjodohan? Sebuah dilematis memang, apalagi kalau sudah kadung menjalin hubungan dengan orang lain yang sangat dicintainya. Zaman sekarang sudah bukan zaman Siti Nurbaya, tapi toh tetap ada perjodohan karena orangtua tentu tetap menginginkan jodoh yang terbaik buat anaknya.

Adegan awal sebuah pernikahan yang meriah. Semua orang tampak begitu sangat bahagia cerah ceria. Tapi ada sesuatu yang beda dari pengantin lelakinya Byantara Wicaksana (Refal Hady) yang sebelum foto bersama tampak memegangi cincin perkawinan dan pada saat foto bersama wajahnya tak terlihat bahagia seperti lainnya. Adapun, pengantin perempuannya Btari Hapsari (Indah Permatasari) tampak tak terlalu dekat dengan sang pengantin lelaki yang menjadi pasangannya, dan lebih dekat dengan keluarganya sendiri.

Wedding Agreement, Dilema Pernikahan Karena Perjodohan 1

Setrelah itu adegan yang menjadi kunci film ini, Tari yang tidak menyangka pernikahannya jadi mimpi buruk. Hari pertama tiba di rumah Bian, suaminya, Tari langsung dihadapkan pada perjanjian pernikahan yang isinya mengatakan bahwa mereka akan bercerai dalam waktu satu tahun. Bian berencana menikahi Sarah (Aghniny Haque), kekasihnya. Bian melakukan pernikahan hanya demi bakti kepada orangtua. Tari tidak menyerah, ia mencoba mengambil hati Bian. Namun sekuat apa pun Tari mencoba, selalu ada Sarah di antara mereka.

Film ini sangat menarik dengan menyelipkan banyak pesan keagamaan dengan ringan, seperti pada adegan saat Tari menyuruh Bian untuk sholat subuh di masjid bareng dengan pakdenya yang diperankan Mathias Muchus. Karena lelaki memang sebaiknya sholat subuh di masjid, sedangkan kalau perempuan tidak dianjurkan. Sehingga saat Bian menolak, Tari langsung mengatakan apakah kau muslim atau muslimah?

Akting Refal Hady kian matang dengan karakter keangkuhan dan kekerasan hatinya. Ia tampak melebur diri dalam karakter Bian yang dilakoninya. Sedangkan, Indah Permatasari tampak masih dalam “berusaha” lebur dengan karakter Tari yang diperankannya. Semestinya Indah memperlihatkan sosok keikhlasan karena dianiaya secara psikologis dengan suaminya, yang kalau itu dilakukan bisa merebut simpati penonton dengan baik.

Pemain lainnya, Ria Ricis yang berperan sebagai Ami, temannya Tari, menjadi penyegar suasana dengan dialog-dialognya yang penuh canda. Sehingga menjadi warna dalam film ini.

Sedangkan, Mathias Muchus sebagai Pakde berpasangan dengan Ria Irawan sebagai Bude cukup mencuri perhatian penonton dengan kisah masa muda mereka yang pernikahannya sama-sama dijodohkan. Yang mengharukannya tentu karean pasangan Pakde-Bude itu yang tak dikarunia anak sehingga menganggap Tari sudah dianggap seperti anak sendiri.

Tayangnya film ini menyemarakan Hari Raya Idhul Adha, sebenarnya moment yang tepat karena paska hari raya qurban itu adalah musim kawin, dimana banyak orang yang memang melangsungkan pernikahan. Film ini bisa menjadi kado pernikahan pada musim kawin. (Akhmad Sekhu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here