Sutradara muda Amanda Iswan tampaknya menunjukkan totalitas dalam menggarap debut filmnya berjudul ‘Zeta : When the Dead Awaken’. Tak tanggung-tanggung, ia melibatkan ratusan pemain figuran untuk berperan menjadi zombie.

 

Dalam penggarapan skenarionya, Mandy – sapaan Amanda Iswan, melakukan riset perihal asal muasal penyakit yang bisa menjangkiti manusia hingga menjadi zombie. Bahkan, ia juga meneliti cara hidup amoeba parasit, sampai cara penyakit itu menjangkiti manusia.

 

“Dalam menggarap film ‘Zeta’, kita melibatkan ratusan figuran sekitar 200 orang,” kata Mandy saat acara press screening film ‘Zeta : When the Dead Awaken’ di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (26/7/2019).

 

Mandy membeberkan ia mengambil orang-orang dari teater yang menguasai gerakan tubuh zombie. Tak cuma itu, ia juga sampai mendatangkan peralatan kosmetik untuk riasan para zombie dari Los Angeles, Amerika Serikat. “Jadi tukang make up-nya bener-bener sih dari segi estetika, itu order langsung di LA. Kemarin juga sempet ada kendala karena sempet ketahan di imigrasi,” beber sutracdara muda yang mengawali karier penyutradaraannya sebagai Video Editor dan pegawai magang untuk posisi Production Assistant ini.

 

Menurut Mandy, kualitas kosmetik dari sana punya kualitas yang bagus dan susah luntur.

“Ini bahannya lebih bagus ya, lebih tahan lama. Karena kita syutingnya lumayan lama. Karena kalau pakai yang Indonesia punya, aktornya keringetan itu copot. Kalau ini dua hari juga nggak copot,” papar lulusan Quinnipiac University, School of Communications Hamden, Connecticut AS dengan major Film, Video and Interactive Media (2012-2015).

 

Dalam penggarapan filmnya, Mandy melakukan riset yang mendalam. “Semua berbasis ilmu pengetahuan, yang kemudian saya laraskan dalam sebuah drama aksi, yang membuat pesan ceritanya sampai ke penontonnya, dengan mengasyikkan,” ungkapnya.

 

Mandy menyebut film Zeta berbeda dengan film zombie kebanyakan. “Emang udah mulai banyak sih film-film zombie di Indonesia, tapi Zeta itu beda karena yang ini ada research-nya. Penyakit zombienya jelas. Mulai cara dia menjangkiti manusia, sampai gimana orang-orang yang terinfeksi (zombie) itu bergerak,” ujarnya.

 

Di tengah ketegangan akibat serbuan Zombie itu, Mandy tetap menyisipkan pesan tanpa harus berpretensi menggurui kepada penontonnya. “Semua manusia punya ego, tapi hati-hati. Don’t let that ego blinds you from seeing what really needs to be done in a certain situation. Misal, ibu sama anak berantem, trus tiba-tiba ibunya sakit parah. Tapi anak itu menolak untuk ngurus ibunya, karena egonya si anak masih marah dan enggak bisa maafin ibunya,” terangnya.

 

Mandy mengakui referensi fIlm Zeta datang dari sejumlah filmfilm Hollywood bertema Zombie yang dia saksikan. Karena, sepenceritaanya, sosok zombie memang tidak berasal dari Indonesia. “Salah satu inspirasinya dari serial The Walking Dead. Walaupun setting-nya tentang zombie apocalypse. Meski demikian, masalah utamanya tetep datang dari konflik manusianya sendiri,” tegasnya.

 

Mandy berkeyakinan, film Zeta akan menawarkan keluarbiasaan kepada penikmat film Indonesia. Karena Zeta adalah film thriller pertama di Indonesia tentang “monster”.

 

“Biasanya kalau di Indonesia, film bertema serius seperti ini genrenya drama-komedi. Tapi kalau Zeta itu drama-thriller dengan sedikit bumbu scifi,” pungkas Mandy.

 

Film produksi Swan Studio ini dibintangi Jeff Smith, Cut Mini, Dimas Aditya, Edo Borne Joshua Pandelaki, Natasha Gott, Revaldo Fifaldi, Willem Bevers. Film ini tayang di bioskop pada 1 Agustus 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here