Eksposisi.com, Jakarta – Lagi, film adaptasi luar negeri dirillis, yakni film ‘Cinta Itu Buta’ adaptasi dari film drama komedi ‘Kita Kita’ produksi Filipina. Sutradaranya Rachmania Arunita yang sebelumnya menyutradarai film ‘Lost in Love’ (2008), sekuel film ‘Eiffel I’m in Love’ adaptasi novel karyanya.

“Awal produksi film ini dari pihak MM2 Entertainment membeli right dari film Filipina berjudul Kita-Kita dengan bekerja sama Keong Low dan Marsio Juwono. Setelah itu mereka memilih saya sebagai sutradara dan lain-lainnya, hingga sampailah produksi film ini, “ kata Rachmania Arunita seusai gala premiere film ‘Cinta Itu Buta’ di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (7/10/2019)

Perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juli 1986, ini membeberkan penggarapan film tersebut dirinya diberi diberi kebebasan untuk menyesuaikan adaptasi dengan market disini. “Tapi tetap ada pakem-pakem yang tidak boleh lewat, seperti garis besar cerita harus sama film drama komedi Kita Kita produksi Filipina, “ bebernya.

Menurut Nia, sapan akrabnya, untuk pemilihan para pemain film ini, iaa berwaamaa teaaam produkki film tersebut rembugan bersama. “Keputusan kita bersama,” ungkapnya.

Mengenai film ‘Cinta Itu Buta’ berlatarkan Korea Selatan, kata Nia, mengungkapkan beberapa alasan, seperti di antaranya, pertama, Korea Selatan dipilih untuk menjadi pembeda dari film originalnya, “Kita-Kita” (2017) asal Filipina yang mengambil lokasi di Jepang.

“Film ‘Kita-kita itu ambil lokasi di Jepang, nah kita ingin buat adaptasi dengan bikin identitas sendiri tanpa jauh dari film aslinya,” ungkapnya.

Selain itu, Nia menilai bahwa saat ini masyarakat Indonesia tengah terkena tren Korean Wave atau “Hallyu” yakni menggandrungi budaya pop Korea, mulai dari musik, film, serial drama hingga referensi tempat wisata dan makanan.

“Di Indonesia lagi tren sama serial korea, dan mungkin penonton akan relate dengan kita ambil lokasi di sini. Selain itu, Busan juga unik dan jarang dipakai sama film-film lain,” terang Nia.

Kendati ingin menjadi pembeda sekaligus mengenalkan keindahan Busan, Nia mengklaim bahwa ia tidak lupa untuk memberikan kesan lokal Indonesia ke dalam filmnya. Melalui peran Nik (Dodit Mulyanto) yang digambarkan sebagai orang Jawa, diharapkan mampu menambah kesan tersebut.

“Dengan perpaduan dari cerita, karakter, dan film aslinya, diharapkan bisa membuat penonton jadi bertualang cinta lagi dan juga menampilkan sisi Indonesia melalui Dodit dengan aksen Jawanya,” papar Nia.

Nia mengaaku dirinya vakum dari dunia kepenulisan yang telah membesarkan namanya.  “Memang agak vakum dalam kepenulisan karena ingin fokus di film dulu. Tapi saya masih nyambi-nyambi nulis, “ tandasnya.

‘Cinta Itu Buta’ berkisah tentang Diah (Shandy Aulia) yang bekerja di Busan, Korea Selatan, sebagai pemandu wisata. Sudah tiga tahun ia berstatus sebagai tunangan pria lokal bernama Jun-ho (Chae In-woo), seorang fotografer. Suatu malam, ia menemukan tunangannya berselingkuh dengan Sandra (Gemilang Shinatria), sesama orang Indonesia yang tinggal bersama Diah. Saat ia berjalan keluar, kebutaan yang disebabkan oleh stress terjadi dan ia pun pingsan. Diah harus menyesuaikan diri dengan kebutaan sementara. Beberapa waktu kemudian ia bertemu dengan Nik (Dodit Mulyanto), tetangga sebelah Diah yang juga orang Indonesia. Dari saat ini lah muncul rasa suka antara Diah dengan Nik.

Film produksi MM2 Entertainment, Reflection Pictures, Timeless Pictures, Ideosource Entertainment dan Viva Films ini dibintangi Shandy Aulia, Dodit Mulyanto, Chae In-Woo, Gemilang Sinatrya, Rolando Octano dan Rachmania Arunita. Film ini akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 10 Oktober 2019 mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here