Pada Kongres Organisasi Karyawan Film dan Televisi (KFT) ke 14 yang digelar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Minggu (15/12/2019), Gunawan Paggaru terpilih sebagai ketua umum KFT periode 2019-2024.

Mengusung tema ‘SDM Kompeten, Film Indonesia Maju’, Gunawan Paggaru sebagai ketua umum KFT baru punya PR besar untuk membenahi organisasi KFT ke depan menjadi organisasi profesi di bidang perfilman menjadi lebih baik.

“Banyak hal yang perlu kita benahi di organisasi dalam peruntukkannya, bahwa organisasi ini adalah organisasi profesi, apakah tujuan kita organisasinya atau anggotanya, kita siap mengurusi anggotanya karena itu fungsi dari organisasi profesi, “ kata Gunawan Paggaru saat ditemui di Kantor KFT, Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) lantai 4, Jl. H. R. Rasuna Said C No.22, RW.5, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/12/2019).

Lelaki kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan, Indonesia, 17 Juni 1962 itu membeberkan dari dulu dirinya lebih konsen bagaimana mengurusi anggotanya. “Selama ini organisasi hanya mengurusi organisasi saja, sehingga ada kesan mengurusi pengurusnya saja jadi ada kesan mengurusi anggotannya itu hilang, “ beber suami dari Hj. Februsyenny Lamiran dan ayah dari empat anak, yakni Andi Syarifah, Andi Shabrina, Zikrullah Alfarizih, Salsabila Ramadhani.

Gunawan menyebutkan pernyataan dari Asrul Sani pada Kongres tahun 1985, bahwa saatnya KFT mengurusi anggotanya, tidak semata-mata mengurusi persoalan pendidikan, dimana pada saat itu ada Citra. “Dari dulu KFT harus merespon pada permasalahan anggotanya, bukan pada organisasinya yang selama ini sibuk dengan permasalahan organisasinya, “ papar Ketua Bidang Organisasi KFT 2016-2019 dan Ketua Bidang Organisasi & Jaringan BPI 2017-2020.

Menurut Gunawan, anggota KFT tercatat sekitar 5000-an orang. “Kita harus mendata ada berapa anggota yang aktif di film dan televisi serta OTT, kalau hanya sedikit yang aktif, harus kita tingkatkan dan kita benahi sistemnya,“  ungkapnya mantap.

Gunawan menyampaikan, bahwa persoalan mendasar dari SDM perfilman Indonesia adalah kompeten. “Kalau tidak kompeten maka akan tertinggal, “ Gunawan mengingatkan.

Organizaasi itu penting, kata Gunawan, tidak hanya untuk pekerja film saja tapi juga di bidang apapun. “Karena di organsasi itulah hak-haknya bisa diperjuangkan, karena kalau sendiri-sendiri itu tidak mungkin. Organsiasi memang sangat diperlukan, masalahnya sejauh mana organisasi dapat memenuhi kebutuhan angotanya itu harus dipikirkan. Organisasi memang harus memikirkan anggotanya, seperti kaum milenial memang perlu wadah,“ papatrnya.

Gunawan memandang ada sebuah kemajuan dalam kongres KFT ke 14, karena tidak lagi misi-visi ketua umum terpilih tapi juga mewadahi aspirasi anggotanya. “Itulah yang harus dikerjakan pengurus, kita harus konsen pada pengembangan SDM, karena organisasi ini adalah organisasi profesi, bahwa ada persoalan soft skills dan hard skills. Untuk permasalahan hard skills sudah ada uji kompetensi yang jadi standar, jadi persoalan soft skill sekarang menjadi fokus kita, “ ujar Gunawan.

Dari dulu Gunawan menginginkan pekerja film itu sejahtera. “Sejahtera dalam hal ini harus punya bergaining, tidak bisa pasrah, bagaimana teman-teman itu bekerja dengan lingkungan yang damai, aman dan pada akhirnya bermuara pada namanya kesejahteraan, dimana hal itu harus ada soft skills dan hard skills, profesional jadi ada nilai tawarnya, “ ucap Gunawan.

Dalam UU Perfilman, kata Gunawan, insan film Indonesia wajib memiliki kompetensi. Kompetensi diwujudkan dengan sertifikat. “Sekarang ada Perpres yang menguatkan, bahwa setiap pengguna jasa teknis yang memperkerjakan tenaga yang tidak certified yang tidak sertifikatnya, maka dikenakan sanksi, yaitu satu, peringatan, kedua, teguran, dan ketiga, dicabut izin usahanya, “ kata Gunawan.

Gunawan menyampaikan, KFT sudah mempunyai 200 pekerja film yang kompeten dengan uji kompetensi. “Kompetensi ada beberapa alat ukur, yaitu pengetahuannya, ketrampilannya, dan attitude-nya, harus punya ketiga-tiganya untuk dianggap kompeten. Ada juga metode portofolio yang tidak perlu ada ujian, karena dapat penghargaan festival yang kita akui, seperti FFI atau festival di luar negeri yang memang diakui. Kalau belum punya portofolio tapi punya kemampuan, kita lakukan observasi dari pengetahunnya, kemam;puannya dan attitude-nya, “ tegas Gunawan.

Harapan Gunawan seluruh anggota KFT harus certified, profesional, memiliki soft skills dan hard skills, setelah itu ada bargaining. “Kalau bargaining bagus maka kesejahteraan akan ada. Kalau sudah punya Soft skills dan hard skills maka profesional, sehingga nilai tawarnya ada, kalau sudah demikian maka akan mendekati kesejahteraan yang kita harapkan bersama, “ pungkas Gunawan Paggaru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here