EKSPOSISI – Menyambut gelaran akbar Jakarta Horror Screen Festival 2020 oleh Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia (KJSI), dilakukan bincang santai soal ‘Apanya Yang Menarik Sih di Film Horor?’ pada Kamis (27/02/2020) di kedai kopi Lali Bojo, Pondok bambu, Jakarta Timur. Kali ini perbincangan mengambil polemik ‘Hantu di film horor Indonesia versus film horor asing, mana lebih menakutkan?’

Selain Teguh Yuswanto, Creative Director Jakarta Horror Screen Festival 2020, juga ada Hadijah Shahab, Nura Ivanka dan sutradara Surya Lawu, sebagai narasumber. Sementara jalannya acara tetap di pandu ketua Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia, Kicky Herlambang. Puluhan peserta antusias memadati ruang, demi menikmati berlangsunya talkshow.

Masing masing narasumber punya pandangan berbeda tentang ‘Hantu di film horor Indonesia versus film horor asing, mana lebih menakutkan?’. Nura Ivanka, bintang film yang baru saja mendebut lewat horor thriller Lantai 4, mengatakan bahwa dirinya ‘lbih suka lihat sosok hantu dan setan di film horor asing’. “Menurut aku lebih creepy ajah. Para sineas luar (asing sepertinya lebih detail kalau buat karakter karakter hantu yang mampu bikin penonton ngeri lihatnya, ketakutan, juga kadang suka terbawa perasaan usai nonton. hahaha..” akunya. “Jadi seperti menciptakan ruang ketakutan dan kengerian snediri di benak kita yang nontonnya,”

“Nah, kalau film horor kita nih, masih sedkiti sineas yang mampu menampilkan sosok sosok hantu yang betul-betul nakutin dan ngeri kalau dilihat. Yah kebanyakan sih masih seputar itu-itu ajah kunti lagi dan pocong lagi.. lagi-lagi mereka.. hahaha..” paparnya kritis.

Bintang film muda Hadijah Shahab yang memukau banyak penonton lewat penampilannya menjadi lawan main Chelsea Islan dalam film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2, punya prasangka sendiri, kenapa ia lebih santai menikmati sosok sosok hantu pabrikan Indonesia di film horor. “Aku justru kebalikannya, malah lebih enjoy lihat hantu dan setan di film horor Indonesia. Karena mungkin banayak film horor Indonesia itu menampilkan keragaman setan dan hantunya,” aku Hadijah Shahab, pemeran Nara dalam Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2.

Mungkin Hadijah juga punya pertimbangan sendiri, bahwa -bukan karena dirinya sering tampil dalam film horor seperti ; Sebelum Iblis Menjemput (2018) dan Mata Batin 2 (2019)- para sineas horor tanah air masih mengedepankan lokal wisdomnya, ketibang mencomot hantu hantu atau iblis rekaan Hollywood, Asia bahkan Eropa sekalipun.

” Aku masih punya harapan besar bahwa banyak sutradara film horor Indonesia yang belakangan ini kreatif untuk menampilkan hantu hantu dalam filmnya. Sudah gak norak lagi seperti belasan tahun silam. saat ini para pembuat film horor jauh lebih kreatif, juga pengaruh perkembangan pesat teknologi-nya,” tambahnya.

Sementara sutradara berjulukan ‘1000 judul’ Surya Lawu Saputra, yang selama duapuluh tahun malang melintang di layar kaca, memberikan koreksinya yang cukup menyadarkan kita.

” Jadi kalau saya melihat bedanya cara orang Hollywood lah (kita ambil contoh) membuat film horor, itu memang pasti berbeda dengan para film-maker disini. Umpama bagaimana mereka menciptakan karakter setan atau iblis yang biasa kita sebut hantu dalam film horor yang bertugas menteror lawan mainnya,”

” Seperti boneka iblis Annabelle ciptaan James Wan, gak perlu sibuk boneka itu menggerak-gerakkan dirinya supaya punya efek , ngeri, seram, dan histeris. Coba anda lihat saja sejenak, boneka itu diam aja, rasa seram dan nakutinnya ajah dah kuat kan?”

“Sementara pocong , kuntilanak bahkan jelangkung atau sebutlah merek-merek setan pabrikan sineas kita, masih mau sibuk untuk bergoyang tubuhnya supaya punya efek itu tadi. Tapi mungkin ini tradisi dalam film horor kita, yang besok atau lusa juga akan berubah,” tambah Surya

Film horor Indonesia memang masih butuh waktu panjang untuk meleluasakan diri sebagai produk industri seperti halnya ; Thailand, Hongkong, Timur Tengah, Korea, Jepang, tanpa kecuali Hollywood yang menjadi pelopor industrti horor.

Perhelatan Jakarta Horror Screen Festival 2020, yang mengawali debutnya lewat program talkshow dengan tema utama ‘Apanya Yang Menarik Sih, Di Film Horor?’ setiap Malam Jumat di kedai Kopi Lali Bojo, semoga mampu menjadi kekautan moral bagi industri kreatif ini, setidaknya ajang penghragaan ini punya taring untuk menjadi panggung penghormatan bagi para sineas dan filmmaker tanah air maupung asing.

Siapa yang tidak bangga ketika banyak karya anak bangsa memperoleh prestasi hebat di pentas dunia?. Selanjutnya pada diskusi minggu depan akan bertemakan “Novel horor sebagai tambang emas produser film”. (Q2/LH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here