Irma Hutabarat: Art of Living with Vetiver

256
Irma Hutabarat (Sekhu/Eksposisi)
Irma Hutabarat (Sekhu/Eksposisi)
Banner Top Article

EKSPOSISI – Irma Hutabarat menjadi salah satu pembicara pada acara konferensi internasional ARTESH  yang pertama. Sebagai salah satu Keynote speaker, Irma bicara tentang Vetiver, sebagai sesuatu yang artistik, vetiver sebagai seni kehidupan yang sangat dekat dan mesra dengan alam dan  lingkungan.

“Vetiver System adalah sejenis tanaman keluarga rumput2an  media  Bioteknologi hijau untuk mengatasi masalah lingkungan, “ kata Irma, belum lama ini.

Lebih lanjut, Irma menerangkan, bahwa tanaman Vetiver yang nama latinnya adalah Chrysophogon Zizaionides itu manfaatnya adalah untuk mengatasi longsor, banjir, erosi dan sedimentasi.

“Begitu banyak kegunaan Vetiver, dari akar hingga daunnya semua bermanfaat, “ ungkapnya.

Sudah empat tahun Irma memperkenalkan Vetiver Sistem melalui pembibitan di Bumi Pohaci yang terletak di desa Sangkan Hurip di depan Sungai Citarum.

“Sejak dua tahun lampau saya mulai mengajak teman-teman untuk membenahi Cisanti dan Citarum, sampai hadir Pangdam Siliwangi Mayjen Doni Monardo yang sangat peduli lingkungan dan memerintahkan ratusan tentara untuk menginap di Cisanti dan mulai membersihkan hulu sungai Citarum. Pangdam Siliwangi inilah  penggagas program Citarum Harum, “ paparnya.

Selain itu, Irma juga mengajak teman-teman dari UI dan ITB untuk turun tangan membenahi Cisanti dan Citarum .

“Saya selalu bertanya, apa guna banyak orang pandai dan teknologi canggih, jika kita tak bisa membersihkan sungai kita dan melindungi mata air, “ tuturnya.

Menurut Irma, Sungai Citarum telah menjadi salah satu sungai yang tercemar di dunia

Maka sudah saatnya semua pihak, semua disiplin ilmu memiliki peran untuk mengembalikan fungsi sungai dan membuat Citarum Harum kembali.

“Bandung adalah salah satu kota pelajar dan kota seni, kota dimana banyak orang pandai dan kreatif. Ironis jika sungai Citarum menjadi yang paling tercemar dan masyarakat tak kunjung peduli akan sungainya, “ ujarnya.

Irma mulanya merasa kecil hati, karena ia berada dalam satu forum dengan para pakar dan profesor dari ITB, seantero negeri dan manca negara. “Namun Bu Nuning dan sahabatnya Prof Setiawan Sabana membesarkan hati saya dan mengatakan, presentasi saya di ITB beberapa waktu lampau pada acara seminar lainnya yaitu Indohun, zcitarum Harum sangat memukau dan menggugah hati banyak pesertanya, “ ucapnya bangga.

Selain itu, Irma bisa berada dalam satu forum dengan Ignas Kleden begawan sisiolog Indonesia dan Prof Setiawan Sabana, Jean Ceuteau budayawan Prancis, Prof Yasraf Piliang, Prof. Ziwan Pranoto dan pembicara lainnya dari Australia dan India san partisipan seminar yang mewakili hampir dari semua provinsi Indonesia.

“Suatu kehormatan dan sebuah kesempatan untuk memperkenalkan Vetiver System kepada akademisi dan peserta manca negara, “ katanya.

I C ARTESH, kata Irma, meski baru perdana diselenggarakan oleh Yim yang diketuai oleh ibu Nuning Damayanti namun dikerjakan dengan sangat profesional. “Aku sempat flu malam sesudah pembukaan, “ ujarnya.

Ibu Ardana salah satu dosen panitia mengirimkan Sidney seorang mahasiswinya untuk membantu menyiapkan presentasi. “Setelah aku beristirahat. Sidney datang jam 11, kami bekerja hingga pukul dua dinihari, hasilnya adalah usai presentasi audiens memberikan applause, “ bebernya.

Irma memulainya dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan, sains dan teknologi yang tak dapat membebaskan masyarakat  dari penderitaan adalah sesat dan sia sia .

“Pada saat presentasi kutunjukkan Bill Gates saat pidato di Beijing yang membawa kotoran manusia (tinja). Mengingatkan bahwa masih ada 900 juta orang yang belum mendapatkan toilet, dan masih menggunakan sanitasi terbuka, “ terangnya.

Kita punya jawaban atas masalah yang dibawa Bill Gates itu, lanjut Irma, yaitu dengan Vetiver  sebagai salah satu solusi.

“Aku di Bumi Pohaci memakai merancang Ecotoilet, dengan Vetiver Sistem, tanpa flush, tanpa disiram dan hasilnya luar biasa tak ada baunya sama sekali. Artinya kita bisa membuat karya desain  Vetiver Ecotoilet tentunya bermanfaat bagi banyak orang dan menjawab masalah yang sangat mendasar, namun jarang  dan belum banyak dibicarakan, “ paparnya.

Irma menyebut, ada Bioteknologi Vetiver yang bisa membebaskan masyarakat dari masalah sanitasi, air kotor, banjir dan longsor .

“Prof Uli Pank yang pertama menghampiriku dan memuji dengan mengatakan, excellent speech and I am so happy that someone talked about environment, “ ujarnya.

Lalu, selanjutnya Irma menyampaikan, berturut-turut datang Prof Ade Adnan mengundangnya untuk memberi kuliah umum Vetiver di Universitasnya. Pak Robert dari Unika Soegijapranata Semarang juga mengundangnya untuk hal yang sama.

“Malam perpisahan acara ini yang diadakan di Galeri Selasar Sunaryo di wilayah Bandung Utara yang nyaman, teman teman dari Aceh dan BPPT juga memintaku untuk bicara ditempat mereka, “ tegasnya.

Irma sendiri tak menyangka bahwa akan mendapat respon yang luar biasa.

“Saya mrengucapkan terimakasih pada Vetiver System, Bumi Pohaci, Cisanti, Citarum, Ibu Nuning Damayanti, Terimakasih Prof W Setiawan Sabana, civitas academica FSRD ITB dan terimakasih penggagas IC ARTESH, “ pungkasnya.

 

Berita sebelumyaIMF Ingatkan Dampak Melambatnya Ekonomi Globa Ke AS Mulai Tahun Depan
Berita berikutnyaRisk Appetite, Bursa Saham AS Rebound
Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan. Memenangkan berbagai lomba, seperti di antaranya: Pemenang Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999), Penulis Terbaik "Suara Mahasiswa" di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1999), Pemenang Lomba Mengarang Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin di Jakarta (2004), Pemenang Favorit Lomba iB Kompasiana Blogging Day (2010), Pemenang Media Writing Competition Review Film “Laura & Marsha” (2013), Pemenang Cerpen Festival Fiksi Anak (2013), Pemenang Sinopsis Film Omnibus Laki-laki Lelaki (2014), Pemenang penulisan berita Moxplay (2017), Pemenang penulisan berita Superbrands (2017), Pemenang penulisan berita SC Johnson Gelar Nobar Film ‘Kartini’ bersama 500 Guru dan Dian Sastrowardoyo (2017), Pemenang penulisan berita launching single Hadija by Ussy Sulistiawaty (2019). Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000). Sedangkan, novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here