ITB Gelar ARTESH 2018, Inovasi Sinergitas Antara Seni, Ilmu Pengetahuan dan Kemanusiaan

62
Ketua Panitia bersama Para Pembicara Utama IC ARTES dari Australia, India dan Indonesia (Foto Istimewa dok Panitia 1st IC ARTESH 2018)
Ketua Panitia bersama Para Pembicara Utama IC ARTES dari Australia, India dan Indonesia (Foto Istimewa dok Panitia 1st IC ARTESH 2018)
Banner Top Article

EKSPOSISI – Sebuah seminar bertajuk ‘1st  Internasional Conference ARTESH 2018’ (1st IC ARTESH 2018) telah digelar 30 November sampai 2 November 2018.

Seminar yang diselenggarakan oleh Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB) itu sebagai upaya untuk mengakomodasi informasi hasil penelitian lintas ilmu antara bidang seni, dan tantangannya bersinergi dengan sains, teknologi, dan kemanusiaan di pendidikan tinggi.

“Kita menyelenggarakan seminar internasional pertama yang  mencoba mengangkat tema seni dan tantangannya untuk sinergi dengan sains, teknologi, dan kemanusiaan, Sehingga aspek-aspek tersebut memainkan peran penting dalam menciptakan seni yang terintegrasi di era baru revolusi industri 4.0, “ kata Dr. Nuning Y Damayanti, Dipl Art., ketua panitia penyelenggara 1st IC ARTESH 2018, Rabu (5/12/2018).

Perempuan kelahiran Cianjur, 12 Oktober 1964 membeberkan, terdapat 10 sub-tema yang diangkat dalam seminar internasional tersebut yang berkaitan dengan pendidikan bidang seni zaman 4.0, Seni dan Sains, Seni dan Humaniora, Seni dan Teknologi, Seni dan Heritage, Seni dan dari 1st International Conference ARTESH 2018.

“Relevansi Pendidikan Tinggi Seni dalam Era Informasi Tanpa Batas, Relevansi Pendidikan Tinggi  Seni dalam Era Informasi Tanpa Batas, Interaksi Antar Disiplin Seni, Sains, dan Teknologi, Eksplorasi Artistik tehadap Penelitian Sains & Teknologi, Proses Interdisiplin dalam Penciptaan dan Kajian Seni Terkini, “ bebernya.

Menurut Nuning, Menteri Riset dan Teknologi Indonesia Prof. Mohamad Nasir, dalam sambutannya menyampaikan sangat mendukung konferensi ini dalam upaya inovatif dan sinergitas antara seni, ilmu pengetahuan, teknologi dan kemanusiaan.

“Sejak 2015 Kemenristekdikti terus mendorong pendidikan tinggi untuk memberikan perhatian besar terhadap penelitian, yang akan berkontribusi pada penciptaan pengetahuan baru, publikasi, dan inovasi, karena kami setuju bahwa peran pendidikan tinggi adalah untuk mendukung kemajuan bangsa, dan penciptaan pengetahuan, “ ungkapnya.

Tentu saja, lanjut Nuning, kebutuhan untuk penelitian, publikasi ilmiah, dan inovasi baru dalam berbagai disiplin ilmu tidak hanya menjadi prioritas dosen di kampus, tetapi juga membutuhkan kontribusi yang signifikan dari siswa, dan para lulusan.

“Selain itu, dalam hal pendidikan, bukti yang signifikan menunjukkan bahwa keterlibatan dan partisipasi dalam berbagai kegiatan seni, khususnya seni rupa, yang merupakan komponen penting yang dapat meningkatkan proses pembelajaran, “ paparnya.

 

Nuning menyampaikan, bahwa melalui seni, otak akan berkembang sedemikian rupa sehingga memberikan manfaat yang terkait dengan keseimbangan motorik (pelukis, penari), kreativitas, serta keseimbangan emosional.

“Tidak hanya itu, seni juga dapat memberikan manfaat dalam arti bahwa individu dapat mengembangkan kesadaran estetika, paparan budaya, serta apresiasi terhadap keragaman dan harmoni sosial, “ ungkapnya.

Diharapkan melalui seni, kata Nunik, kita juga bisa meningkatkan kecintaan kita terhadap bangsa, cinta sesama manusia, penghargaan terhadap perbedaan, dan mencapai masyarakat yang damai dan makmur, berpegang pada nilai-nilai saling menghargai dan menghormati, bahkan meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan.

“Tentunya kita harus peduli dengan upaya mempromosikan kemajuan dan perkembangan seni, ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai daya saing bangsa dalam menghadapi persaingan global, akan tetapi penguasaan, pengembangan, dan efisiensi kita harus selalu sejalan dengan nilai seni dan budaya bangsa kita, “ tuturnya.

Menyadari hal ini, kampus harus menyediakan tempat bagi siswa untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan praktis siswa dalam membina apresiasi seni budaya, kreativitas, pengembangan inovasi, dan kemanusiaan.

“Ini sangat penting, karena upaya dan tanggung jawab menegakkan dan melestarikan seni dan budaya, tidak terbatas pada peran pemerintah dan seniman atau budayawan, tetapi juga masyarakat luas, termasuk siswa, “ imbau Nunik.

Untuk itu, menurut Nunik, akan lebih baik untuk melakukan penelitian-penelitian seni berkolaborasi dengan bidang ilmu lainnya yang dapat dikaitkan dengan perkembangan era industri 4.0, yang harus dilakukan sebagai upaya inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kemanusiaan.

“Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat menciptakan seni yang dapat dihargai oleh masyarakat, menciptakan seni untuk belajar dan pendidikan, seni lintas bidang ilmu, seni yang membangun manusia, sehingga kemanusiaan dan seni dapat membuat bangsa menjadi makmur, “ tuturnya.

Pada akhirnya, kata Nunik, kita harus mampu menghasilkan lulusan, seniman dan seniman budaya dengan karakter, yang kreatif, yang kompeten untuk bekerja di bidang keahlian mereka secara mandiri di dalam masyarakat, dan memiliki kemampuan untuk bersaing secara luas.

Nunik mengingatkan, tentang himbauan dari Menristek Prof. Mohamad Nasir, tapi yang perlu ditekankan adalah hasil dari proses artistik penciptaan seni tidak semata-mata untuk memenuhi selera dan kebutuhan masyarakat, tetapi juga dapat mencerminkan nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik dari budaya bangsa.

“Pelaksanaan konferensi ini harus mampu terus memprioritaskan nilai-nilai kearifan lokal yang dipegang oleh berbagai kelompok masyarakat untuk menyatukan keragaman dan harmoni seni, budaya, tradisi, dan adat istiadat, “ tegasnya.

Harapan Nunik, konferensi ini benar-benar memberikan sesuatu yang bermanfaat dalam menanggapi tantangan pembangunan bangsa, dan menjadi kekuatan pendorong bagi kreativitas bangsa di bidang seni untuk kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan kemanusiaan.

“Hal itu untuk mendorong masyarakat Indonesia agar dapat terus mengembangkan dan berinovasi menjadi lebih baik, “ tandasnya.

Seminar ‘1st IC ARTESH 2018’ menghadirkan para pembicara yang berkompeten, yaitu Dr. Ignas Kleden, MA (Philosophy, Sociology and Humanity, Yayasan SPES, Jakarta), Prof. Uli Plank (Teknologi Penciptaan Film Seni, HBK Braunschweig, Jerman) , Dr. Chaitanya Sambrani (Australian National University, Australia), Dr. Edwin Jurriëns  (Asia Institute, University of  Melbourne, Australia) Dr. Bitasta Das (Centre for Contemporary Studies, Bangalore, India) , Dr. Jean Couteau (Curator, Art-Criticism and Penulis Kebudayaan dan sosiologi, dari Universitas Sorbonne), Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA (FSRD ITB, Indonesia), Prof. Iwan Pranoto, Ph.D (Arts Culture and Science, FMIPA ITB, Indonesia;), Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, MA (Philoshopy & Visual Culture FSRD ITB, Indonesia), Irma Hutabarat (Bumi Pohaci  Citarum Vetiver Nursery Bandung, Indonesia), Abdul Sobur, MSn (Seniman Entrepreuneur Founder Kriya Nusantara), Rachmat Jabaril (Seniman Autodidakkreator Kampung Kreatif Dago Pojok) dan Tita Rubi (Seniman Perempuan Profesional Kontemporer). (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here