Kebijakan Bank Sentral China Memerahkan Bursa Saham Global

109
Keputusan PBOC untuk menurunkan Giro Setoran Minum berimbas pada melorotnya bursa saham global.
Keputusan PBOC untuk menurunkan Giro Setoran Minum berimbas pada melorotnya bursa saham global.
Banner Top Article

Bursa saham global terpapar dengan keputusan Bank Sentral China yang menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 100 basis poin. Kebijakan ini mendorong penguatan Dolar AS, sehingga investor memilih aksi risk aversion.

Untungnya, tekanan terhadap Bursa saham Amerika Serikat berkurang pada perdagangan Senin (08/10) sebagai dampak tutupnya pasar Obligasi saat merayakan libur hari Columbus.

Bursa saham Wall Steet akhirnya ditutup bervariasi. Indek Dow Jones naik 0,15% atau 39,73 poin, menjadi 26.486,78. Indek S&P 500 kehilangan 0,04% atau 1,14 poin, menjadi 2.884,43 dan Indek Nasdaq terkoreksi 0,67% atau turun 52,50 poin, menjadi 7,735.95.

Sebelumnya, kenaikan bunga Obligasi AS tenor 10 tahun menjadi sentiment negatif pasar. Dengan besar imbal hasil menyentuh 3,24%, tertinggi sejak 2011 karena data pengangguran dan lapangan kerja AS yang kinclong – membuat investor beralih dari pasar saham ke pasar obligasi.

Pada perdagangan di bursa saham Asia juga mendapat sentiment negatif dari China. Setelah seminggu tutup karena liburan, bursa saham Shang Hai dibuka kembali. Namun langsung mendapat tekanan dari keputusan Bank Sentral China yang memutuskan untuk mengurangi giro wajib minimum perbankan, sebesar 100 basis poin yang akan berlaku mulai 15 Oktober ini. Rasio persyaratan cadangan saat ini sebesar 13,5% untuk bank pember pinjaman yang lebih kecil dan 15,5% untuk bank besar.

Bursa saham Shanghai merespon dengan hasil negatif bahkan menjadi yang terburuk kinerjanya dalam beberapa bulan ini. Indeks Hang Seng , Hong Kong sendiri diperdagangkan turun 1.2 %. Indek Nikkei Jepang juga turun seiring penguatan yen terhadap dollar AS.

Bursa spot Nikkei tutup karena libur nasional. Sementara Indek Kospi Korea Selatan ikut tergerus, terimbas dari anjloknya bursa saham daratan China. Namun pelemahan indek ini terbatas seiring rencana pertemuan kembali Donald Trump dan pemimipin Korea Utara Kim Jong Un “dalam waktu dekat”.

Komentarnya disampaikan Menteri Sekretaris Negara AS Michael Pompeo bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Pyongyang akhir pekan lalu. Pompeo mengatakan kepada Presiden Korea Selatan Moon Jae-in setibanya di Seoul bahwa Kim telah setuju untuk bertemu dengan Trump “sesegera mungkin”.

Menguatnya Dolar AS juga menjadi sentiment negatif pasar. Setidaknya ada tiga faktor yang membuat dolar AS begitu perkasa. Pertama adalah rilis data pengangguran Negeri Paman Sam periode September 2018 sebesar 3,7%. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 3,9% dan dibandingkan konsensus Reuters sebesar 3,8%. Angka pengangguran 2,7% sekaligus menjadi yang terendah sejak 1969.

Dengan data ini, membuka harapan daya konsumsi masyarakat AS akan menguat karena mereka yang mencari pekerjaan semakin mudah mendapatkannya. Ancaman inflasi pun semakin nyata, yang membuat The Federal Reserve kian yakin untuk menaikkan suku bunga acuan.

Dengan Kenaikan suku bunga ini, akan membuat imbalan investasi di AS, utamanya di instrumen berpendapatan tetap, akan terdongkrak. Akibatnya, arus modal mengarah ke dolar AS karena investor masuk ke pasar obligasi.

Faktor kedua adalah kebijakan Bank Sentral China (PBoC) yang menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 100 basis poin. Kebijakan ini diperkirakan menambah likuiditas perbankan sebesar CNY 750 miliar dan ketika berputar di sistem perekonomian nilainya bertambah menjadi CNY 1,2 triliun. Likuiditas yuan yang membanjir membuat mata uang ini melemah dan memuluskan jalan bagi dolar AS untuk melaju.

Ketiga adalah perkembangan di Italia. Pemerintahan Italia pimpinan Perdana Menteri Giuseppe Conte merencanakan anggaran 2019 dengan defisit 2,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Lebih tinggi dibandingkan target tahun ini yaitu 1,6% PDB.

Uni Eropa tidak sepakat dengan Italia. Melalui surat yang ditujukan kepada Menteri Ekonomi Italia Giovanni Tria, Komisi Uni Eropa meminta pemerintah Negeri Pizza untuk menurunkan defisit anggaran 2019 menjadi 1,4% PDB.

“Defisit anggaran yang direncanakan pemerintah Italia melanggar kesepakatan yang direkomendasikan oleh Uni Eropa. Ini bisa menjadi sumber kekhawatiran. Kami meminta otoritas untuk memastikan rencana anggaran sesuai dengan aturan fiskal yang diterima secara umum,” tulis surat tersebut, seperti dikutip Reuters.

Namun Italia membangkang. Luigi Di Maio, Wakil Perdana Menteri Italia, berkeras untuk tetap menerapkan defisit 2,4% PDB karena pemerintah ingin memberikan subsidi yang lebih besar kepada rakyat miskin dan para pensiunan.

“Kami tidak akan berbalik arah, karena kami melihat rencana ini tidak mengkhawatirkan bagi pasar. Tidak ada rencana B, karena kami tidak akan mundur. Kami bisa menjelaskan kebijakan ini, tetapi kami tidak akan mundur,” tegas Di Maio, mengutip Reuters.

Lagi-lagi perkembangan ini memicu perburuan dolar AS karena investor memilih mencari aman dan menghindari aset-aset berisiko, seperti saham. Greenback semakin punya alasan untuk terus menguat. (Lukman Hqeem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here