Kenaikan Harga Minyak Sejak 2015 Berakhir

114
Ekonomi Global, Harga Minyak Jadi Penyebab Anjloknya Bursa Asia
Banner Top Article

EKSPOSISI – Harga minyak mentah diakhir pekan lalu membukukan penurunan untuk kesepuluh kalinya secara beruntun. Ini memperpanjang rekor penurunan mereka sekaligus menyeret masuk kedalam tren pasar menurun. Pemicunya, produksi yang naik mengkhawatirkan melimpahnya pasokan minyak mentah.

Sehari sebelumnya, Kamis (08/11), harga minyak mentah AS telah masuk kedalam tren penurunannya. Biasanya diartikan setelah harga jatuh sebesar 20% dari posisi harga tertinggi sebelumnya. Capaian harga ini sekaligus mengakhiri tren kenaikan harga minyak mentah yang terjadi sejak awal 2015 silam.

Pada perdagangan hari Jumat, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi patokan harga di AS, untuk kontrak pengiriman bulan Desember harus turun harganya sebesar 48 sen, atau 0,8%, ke $ 60,19 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini sekaligus merupakan penyelesaian kontrak dibulan depan yang terendah sejak 8 Maret.

Harga Minyak ini telah turun 4,7% selama seminggu, dan memperpanjang penurunan dalam lima pekan berturut-turut. Kontrak WTI bulan depan kini telah membukukan penurunan selama 10 sesi berturut-turut, sesuai dengan catatan terpanjang untuk kontrak sejak rentang yang sama dari 18-31 Juli 1984, menurut data Dow Jones.

Selama beberapa minggu terakhir, terjadi penurunan harga minyak mentah yang bisa merefleksikan kenaikan pasokan dalam negeri AS dalam beberapa minggu terakhir. Setidaknya dalam tujuh pekan .  Pun demikian, ada perubahan struktur pasar sebagaimana kembali pada pertengahan Oktober silam, yang menyiratkan bahwa pasar saat ini tetap dalam kondisi baik.  Dalam masa ini, harga minyak mentah untuk pengiriman masa depan atau berjangka naik di atas pasar spot. Ini mendorong pedagang untuk melakukan aksi beli dan menyimpan kontrak minyak.

Sementara harga minyak mentan jenis Brent, yang menjadi patokan harga global, untuk kontrak pengiriman bulan Januari, juga turun 47 sen, atau 0,7%, berakhir pada $ 70,18 per barel di ICE Futures Europe. Minyak Brent turun sekitar 19% dari puncak Oktober baru-baru ini dan menggoda pasar untuk masuk kedalam tren penurunannya. Jika harga Brent selanjutnya terdesak hingga ke $ 69.032, tentu sudah masuk ke area tren penurunannya. Dalam minggu kemarin, Brent dalam sepekan turun 3,6%.

Secara keseluruhan, produksi minyak mentah Arab Saudi, Rusia, dan AS telah naik mendahului sanksi AS terhadap Iran. Kenaikan ini diperkirakan akan berkontribusi pada naiknya pasokan minyak global yang lebih ketat. Sanksi dimulai awal pekan ini, tetapi AS memberi delapan negara lainnya keringanan sementara untuk terus membeli minyak Iran.

Badan Informasi Energi AS pada hari Rabu melaporkan bahwa produksi AS naik sebesar 400.000 barel per hari ke rekor 11,6 juta barel per hari untuk pekan yang berakhir 2 November.

Sementara data dari  Baker Hughes pada hari Jumat menunjukkan pertumbuhan lebih lanjut dalam produksi, menunjukkan bahwa jumlah rig pengeboran AS yang aktif untuk minyak naik 12 menjadi 886 minggu ini. Itu adalah kenaikan rig minyak mingguan terbesar sejak Mei.

Sebuah komite terdiri dari negara-negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa sekutu produsen minyaknya akan bertemu di Abu Dhabi menjelang pertemuan penting pada 6 Desember di Wina. Sebagaimana laporan S & P Global Platts bahwa kerjasama OPEC-Non-OPEC Ministerial Monitoring Committee, akan memantau pelaksaan perjanjian produksi minyak mentah yang akan dimulai pada 1 Januari 2017 . Mereka dapat merekomendasikan pemotongan produksi 1 juta barel per hari menebus dorongan produksi dari Rusia dan Arab Saudi.

Sanksi Iran sebelumnya telah digunakan untuk meningkatkan harga minyak, dengan pingsan Oktober yang berfungsi sebagai refleksi bahwa peningkatan produksi oleh Arab Saudi dan Rusia sebagian besar akan mengimbangi barel yang hilang. Pengumuman pembebasan AS hanya menambah kekhawatiran tentang kelebihan pasokan.

Di atas semua itu, The Wall Street Journal, yang mengutip dari sumber-sumber yang akrab dengan masalah ini, menulis pada hari Kamis bahwa think tank terkemuka yang didanai pemerintah Arab Saudi sedang mempelajari kemungkinan efek pada pasar minyak dari pecahnya OPEC.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here