Kepercayaan Bisnis Jerman Terimbas Masalah Brexit dan Tensi Dagang

115
Banner Top Article

Kepercayaan bisnis Jerman memburuk bahkan melampaui perkiraan pada Oktober. Ini tidak lepas dari meningkatnya tensi dagang dan kemungkinan Inggris tinggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan. Kondisi ini ternyata mempengaruhi kepercayaan bisnis di Jerman.

Institut Ekonomi IFO yg berbasis di Munich, pada kamis mengatakan, indeks iklim bisnisnya atau Indeks Kepercayaan Bisnis, turun untuk bulan kedua berturut-turut menjadi 102,8, di bawah perkiraan consensus Reuters di 103,0.

Ketua Ifo mengatakan banyak perusahaan merasa tidak puas dengan bagaimana situasi bisnis yang mereka jalani saat ini dan kurang optimis terhadap kondisi beberapa bulan kedepan.

“Banyak perusahaan yang tidak puas dengan situasi bisnis mereka saat ini dan kurang yakin terhadap beberapa bulan kedepan”. Meningkatnya ketidakpastian global menjadikan ekonomi sebagai korbannya.” ungkap Clemens Fuest.

Konsumsi dan belanja negara menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi jerman, seiring melemahnya ekspor. Ekonomi domestik yang dinamis diharapkan terus menggerakkan kenaikan yang terus memasuki tahun kesepuluhnya di 2019.

Namun, risiko yang diakibatkan dari no-deal Brexit, tensi dagang dan minimnya tenaga ahli menghambat outlook pertumbuhan ekonomi terbesar eropa tersebut.

Ekonom Ifo, Klaus Wohlrabe, mengatakan akan sulit bagi Jerman untuk mencapai perkiraan pertumbuhan 0,6 persen untuk kuartal ke-empat yg ditargetkan lembaga tersebut dalam laporannya pada musim gugur. Namun, Ifo masih meyakini perkiraan pertumbuhan dalam setahun penuh yakni 1,7 persen.

Mengutip perkataan Wohlrabe kepada Reuters yang mengatakan bahwa “Musim gugur emas tidak terwujud bagi ekonomi Jerman,” menambah pesimisme yang terus menyebar hingga ke industri otomotif dimana bisnis diperkirakan menurun secara signifikan, terbebani oleh tes emisi yang lebih ketat.

Pemerintah Jerman pada awal bulan ini memperkirakan pertumbuhan pertumbuhan di kuartal ketiga menjadi lebih lambat, mengutip “bottleneck” di sektor mobil yang berasal dari pengenalan standar polusi baru yang dikenal sebagai WLTP sebagai faktor.

Fase Lemah

Pemerintah juga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonominya untuk tahun ini menjadi 1,8 persen dari sebelumnya 2,3 persen. Ekonomi diperkirakan meningkat namun pada laju yg sama pada tahun 2019 dan 2020. Padahal tahun lalu ekonomi tumbuh 2,2 persen.

Reaksi pasar keuangan telah negatif terhadap anggaran ekspansi Italia, dengan imbal hasil obligasi naik ke level tertinggi multi-tahun imbas dari investor yang resah atas penentangan Roma terhadap aturan fiskal Uni Eropa dan menggunungnya utang Italia yang keberlanjutan – yang tertinggi di zona euro setelah Yunani.

Komisi Eropa telah menolak target deficit anggaran Italia untuk 2019 meski wakil perdana menteri Luigi Di Maio mengatakan pemerintahannya tidak akan mengubah rencana tersebut.

Namun, masih cukup banyak ekonom yang meyakini ekonomi Jerman akan tetap tumbuh sekalipun sektor manufaktur melemah dan meningkatnya risiko dari luar. Rendahnya suku bunga, pelemahan euro dan rencana pemangkasan pajak membantu keluarga berpendapatan menengah seharusnya menggerakkan permintaan dalam negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here