Eksposisi – Jelang penghujung tahun bursa acuan Asia diperdagangkan positif, menguat ke level tertingginya dalam 18 bulan terakhir berkat menguatnya bursa China.

Sebaliknya, bursa Eropa masih tertahan dimana Euro Stoxx 50 futures turun 0,16%, Dax melemah 0,22% dan FTSE turun 0,11%.

Indeks MSCI terakhir kali dikutip menguat 0,05% setelah sebelumnya sentuh level tertinggi. Menguatnya bursa China dipicu oleh laporan penjualan ritel 2019 yang diperkirakan naik 8% dan harapan penetapan suku bunga pinjaman mengambang baru dapat menurunkan ongkos pinjaman dan memicu pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu dari pasar komoditas, minyak dilaporkan sentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir dipicu oleh menipisnya persediaan minyak mentah AS dan krisis di Timteng.

Hari ini minyak Brent diperdagangkan naik menjadi $68,37 per barrel dan minyak West Texas menguat menjadi $61,80. Timteng kembali memanas setelah AS meluncurkan serangan udara ke Irak dan Syiria untuk menarget Hizbullah. Menurut pejabat AS, serangan tersebut sukses namun akan ada tindakan lanjutan untuk melindungi kepentingan AS disana.

Meski begitu, kenaikan harga minyak diperkirakan terbatas menyusul naiknya produksi minyak “shale” di AS. Naiknya produksi minyak tersebut dapat membantu menalangi kekurangan yang ada.

Menteri perminyakan Irak memberi konfirmasi bahwa berhentinya produksi minyak di ladang minyak terdampak tidak akan mempengaruhi ekspor nasional.

Persediaan minyak mentah AS dilaporkan turun 5,5 juta barrel di minggu sampai 20 Desember. Angka ini jauh melebihi perkiraan analis, yang memperkirakan turun 1,7 juta saja.

Dari pasar mata uang, dolar dilaporkan melemah 0,27% terhadap yen pada posisi 109,11 dan euro menguat terhadap dolar menjadi $1,1201.

Akibat dari melemahnya dolar, emas terus melejit meski pada Jumat lalu perdagangan lumayan sepi. Hari ini emas diperdagangkan naik menjadi $1.515 per ounce.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here