Film Horor, Antara Hiburan dan Selera

51
Weni Panca, Bintang Munafik 2 (Kicky Herlambang/Eskposisi)
Weni Panca, Bintang film horor Munafik 2 (Kicky Herlambang/Eskposisi)
Banner Top Article

EKSPOSISI – Indonesia jamak dikenal memiliki penonton film genre Horor yang baik, bahkan mungkin yang terbaik. Sejumlah apresiasi sineas hollywod diberikan kepada penonton bioskop tanah air pada film-film yang justru di negara sendiri sering masuk kelas mediocore.

Selera penonton tanah air yang demikian ini, tak lepas dari sejarah panjang produksi film nasional pula yang kerap menyajikan tayangan horor. Pendek kata, film horor nasional lebih sering untung dibandingn buntung.

Film horor nasional hadir di layar perak puluhan tahun lamanya, dengan keragaman warnanya. Pada perjalanannya jenis film ini mengalami banyak perubahan yang di sebabkan berkembangnya teknologi yang mengiringinya. Mulai dari efek ala kadarnya, hingga penggunaan efek visual editing modern hingga – yang kini sedang tren – Computer Generated Imagery atau sering disebut CGI.

Seiring itu juga meski film horor selalu menemukan babak barunya dalam karya kreatif seni perfilman, tak banyak yang dianggap juga sebagai film murahan karena akbibat penggarapan yang sekedar jadi. Bahkan dalam persoalan raihan kantong box office, juga bisa di hitung jari berapa banyak Film Horor Nasional yang mampu menyedot banyak penonton.

Jika sebelum era kelahiran kembali film nasional -sekitar 16 tahun silam- pergumulan Film Horor juga mengalami problematik yang sama dengan saat ini, yaitu perolehan jumlah penonton. Hanya bedanya di era keemasan film horror periode antara tahuan 1970an hingga 1990an, memang tak memiliki catatan bahwa ada film horor (saat itu) yang bisa mencapai jutaan jumlah penonton. Sementara di era digital saat ini, angka jutaan penonton justru bisa di raih oleh beberapa judul film.

Jailangkung (film 2017, 2.5 juta penonton); Jailangkung 2 (2018, 1.4 juta penonton); Mata Batin (2017, 1.2 juta penonton); Munafik 2 (45 juta RM) Putar Malaysia; Pengabdi Setan (2017, film remake 80an, 4,2 juta penonton) Putar Malaysia; Sabrina (2018, 1.3 juta penonton) Singapura, Jepang, Thailand, Malaysia; Suzzana: Bernapas dalam Kubur (2018, 3.3 juta Penonton Hari ke-27); The Doll 2 (2017, 1.2 juta penonton); Danur2: Maddah (2,5 juta penonton); Asih (1.7 juta); Terowongan Casablanca (2007, 1,2 juta penonton); Sebelum Iblis Menjemput (1.1 juta penonton), dan Roh Fasik (2018, 1 Juta RM) Putar Malaysia.

Sayangnya, film horor masih miskin prestasi di ajang festival sekelas Festival Film Indonesia (FFI). Sebagaimana disampaikan  Muhammad Bagiono, SH., Ketua Umum Perkumpulan Artis Film Indonesia (PARFI), mengatakan “Bahwa potensi pasar dan penggarapan Film Horor Nasional sangat besar dan menjanjikan apabila digarap dengan baik dan sungguh sungguh mampu menghasilkan devisa bagi negara.  Namun sayangnya, Film Horor Nasional kerap ‘tidak dianggap’ , terasa seperti ‘dianaktirikan’ di peta perfilman Indonesia. Terbukti baru di tahun 2017 FFI mentasbihkan 10 Piala Citra untuk Film Pengabdi Setan besutan sutradara Joko Anwar.

Sudah saatnya, lanjut Bagiono yang juga Ketua Bidang Hukum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Film Horor Nasional diberikan ruang yang memadai, yang lebih besar lagi serta kesempatan di ajang ajang perfilman nasional maupun internasional, untuk mengembangkan aktualisasi dirinya lebih baik lagi. Karena potensi Film Horor Nasional sangat besar, tapi disayangkan seolah olah ‘dikurung’ dalam stigma kasta yang tidak diperhitungkan atau tidak dianggap tersebut. Sehingga dibutuhkan ajang sekelas festival untuk memacu film horor lebih baik lagi,” ujarnya  saat dikunjungi panitia diskusi.

Hal senada disampaikan bintang film Munafik 2 , Weni Panca yang didapuk menjadi “Duta Horor” oleh Komunitas Jurnalis Film Indonesia (KJSI), di waktu yang sama mengungkapkan bahwa dirinya selaku aktris film horor merindukan akan adanya ajang khusus bagi para insan film horor dan pencinta film horor. Dimana tentu rasanya akan berbeda dengan penghargaan penghargaan film lainnya, jika film horor memiliki gengsinya sendiri sebagai film yang banyak disukai oleh penonton Indonesia.

Dengan demikian, film horor terlepas dari segala batasnya sebagi karya seni, juga punya kepatutan untuk dianggap dalam forum festival. Banyak sisi yang layak untuk di jadikan apreasiasi para juri untuk memberikan tempat.

Sementara itu, produser kondang Ody Mulya Hidayat juga menekankan bahwa Film Horor juga harus mendapat perlakuan sama. “Jadi jangan lagi anggap film horor itu dengan sebelah mata, buktinya banyak juga yang hasilkan ratusan ribu hingga jutaan penonton. bahkan dalam pembiayaan banyak juga yang digarap secara serius. Juga tak sedikit juga rumah produksi yang melakukan post pro ke luar negeri demi mendapatkan hasil visual dan sound yang maksimal,” jelasnya saat di jumpai di kantornya.

Tak semata kantong box office film horor tersebut, namun penyebab kenapa film tersebut hingga bisa menacapai angka jutaan penonton tentu menjadi alasan kuat untuk diperhitungkan. Dari mulai cerita, akting pemain, scorring, efek visual, originalitas, penulisan skenario dan lainnya, film horor pun juga punya kekautan untuk layak dinilai di ajang festival.

Menyikapi fenomena demikian, KJSI akan menggelar diskusi pada bulan Agustus mendatang. Hasil diskusi ini nantinya akan memberikan rekomendasi ke publik bahwa film horor selain masih menjadi primadona, juga memuat banyak konten lokal yang layak disampaikan ke masyarakat. Dan sekaligus meng-edukasi publik untuk memilih jenis film horor seperti apa yang bagus untuk di tonton. Karena sineas dan film maker juga dituntut untuk selalu membuat karya karya terbaik, bukan asal bikin dengan label horor,” ungkap Kicky Herlambang, Ketua KJSI.

Pentingnya membuat sebuah karya film horor berbobot yang memuaskan pasar sebagai eksekusi akhir media hiburan, maka menjadi penting bagi para produser dan sutradara serta kertekaitannya dengan penulis cerita untuk membuat sebuah tontonan menghibur yang juga menjadi tuntutan selera. (HQM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here