Tari adalah bahasa yang paling universal dan merupakan cabang keseniaan yang paling banyak mengalami kolaborasi dalam akulturasi budaya yang terus maju dan berkembang. Lalu, bagaimana kalau tari balet berkolaborasi dengan tari Betawi? Sungguh menarik, dan bisa menjadi awal kolaborasi tari balet dengan tari Betawi, yang ke depan diharapkan tari balet bisa kolaborasi dengan berbagai tari tradisional lainnya yang begitu banyak ragamnya di seluruh Indonesia.

Kolaborasi ini juga untuk bisa menggambarkan bagaimana peran tari balet terhadap perkembangan seni tari di Indonesia, tidak hanya pada tari modern melainkan juga pada tari tradisi dan kontemporer. Hal ini mengemuka dari acara Dinner dan Media Sharing Telisik Tari Balik yang digelar Komita Tari Dewan Kesenian Jakarta.    

“Pada tanggal 6 November 2019, kami dari Komite Tari, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengadakan Telisik Tari, Ballet At Batavia, “ kata Yola Yulfianti selaku Ketua Komite Tari DKJ, di Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company, Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (29/11/2019)

Yola memaparkan, acara ini akan berisikan lecture performance oleh Rusdy Rukmarata dan Aiko Senosoenoto, juga ada pertunjukan tari Balet yang dibawakan siswa-siswi SMK tari betawi Jakarta, hasil Proses bersama Andrew Greenwood, koreografer, penari dan pelatih balet asal Belanda. “Dan, juga penampilan tari Betawi yang dibawakan gabungan sejumlah murid asal sekolah-sekolah balet di Jakarta hasil proses dengan koreografer tari betawi, Atien Kisam, “ paparnya.

Komite Tari DKJ Telisik Peran Tari Balet Terhadap Perkembangan Seni Tari di Indonesia 1

Menurut Yola, progmm “saling silang” ballet dengan betawi ini digagas Komite Tati DKI sebagai apresiasi terhadap keberagaman budaya di Indonesia, yang dalam hal ini berusaha diwujudkan dalam dunia tari. “Program Telisik Tari Balet DKJ bertujuan untuk mengajak para seniman, khususnya seniman tari, untuk lebih mengenal dan mengetahui bagaimana tari balet masuk ke Indonesia secara kesejarahan, dan bagaimana peran tari balet terhadap perkembangan seni tari di Indonesia, tidak hanya pada tari modern melainkan juga pada tari tradisi dan kontemporer, “ bebernya.

Dengan adanya program ini, kata Yola, diharapkan menjadi salah satu usaha untuk menggali untaian sejarah yang kemudian bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan di Indonesia, khususnya seni tari,

”Program ini membaurkan batas yang ada dalam budaya kita, sehingga bukan saja bisa memperkaya satu sama lain, antara balet dan betawi, juga menghargai perbedaan yang ada di sekitar kita,” terang Yola.

Atien Kisam, selaku penari dan koreografer betawi yang terlibat, mengaku gembira dengan program ini. “Ini bisa jadi pintu masuk mengenalkan budaya betawi untuk anak muda,” katanya.

Selain ada penampilan tari dan lecture performance, sebelum mulai pertunjukan juga akan digelar sebuah diskusi ”Mengapa ada Balet di Indonesia” yang menghadirkan pembicara seperti Bambang Bujono, Sonya Indriati Sondakh, Ardianti Permata Ayu dan keynote speaker Julianti Parani.

Program acara ini terselenggara pada 6 Desember 2019 pukul 19.00 WIB di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta dan untuk Diskusi pada 6 Desember 2019 pukul 13.30 WIB di Gedung Serbaguna Pasca Sarjana lantai 1, Institut Kesenian Jakarta, TIM. Adapun reservasi tiket melalui http://www.loket.com/event/balletinbatavia atau email ke Tari.dkj@gmail.com

Komite Tari DKJ Telisik Peran Tari Balet Terhadap Perkembangan Seni Tari di Indonesia 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here