EKSPOSISI – Film Midway menjadi sekuel Pearl Harbour yang dirilis pada 2001 secara tidak resmi. Dalam lintasan sejarah, Pertempuran Midday memang terjadi setelah serangan Jepang ke Pearl Harbour, namun kali ini pihak Angkatan Laut Amerika Serikat berhasil memenangkannya.

Adegan film Midway dibuka dengan gambaran sekilas serangan Jepang ke Pearl Harbour pada 7 Desember 1942. Jepang beranggapan bahwa serangan ini sebagai antisipasi untuk mencegah armada Pasifik AS mengintervensi aksinya dalam peperangan di Asia Pasifik. Dua jam pengeboman itu menyebabkan 2.402 orang Amerika Serikat tewas dan 1.282 orang terluka. Sayangnya, serangan ini bak membangunkan raksasa yang tidur. AS esok harinya menyatakan perang terhadap Jepang.

Laksamana Isoroku Yamamoto, Komando Armada Gabungan AL Jepang gelisah dan beranggapan bahwa AS bisa melakukan serangan di wilayah Jepang. Keprihatinan ini terbukti setelah terjadi Serangan Udara Doolittle terhadap Tokyo pada 18 April 1942, yang sekilas juga digambarkan dalam film Midway.  

Paska serangan Doolitle ini, Yamamoto semakin teguh untuk menyerang AS terlebih dahulu. Ia beralasan bahwa operasi militer terhadap pangkalan kapal induk AS di Pearl Harbor akan mengurangi kemampuan AS untuk berperang. Namun, mengingat begitu kuatnya supremasi udara Amerika yang berpangkalan di Hawaii, diputuskan serangan itu akan dilakukan secara tidak langsung. Sebagai gantinya, Yamamoto ingin merebut terlebih dahulu yang terletak sekitar 1300 mil laut dari ujung barat laut Oahu, Hawaii.

Pertempuran Midway sering disebut sebagai “titik balik dalam Perang Pasifik”, meski Jepang masih terus bergerak maju di Pasifik Selatan dan AS perlu waktu berbulan-bulan untuk mengubah kekuatan lautnya yang masih berimbang dengan Jepang menjadi supremasi di laut. Kemenangan pertempuran Midway merupakan kemenangan telak pertama Sekutu melawan Jepang yang sebelumnya tidak terkalahkan.

Secara permanen, pertempuran ini merusakkan daya serang Angkatan Laut Jepang, dan kehilangan kemampuan operasional secara fatal. Kerusakan pertempuran ini membuat kerusakan terhadap armada kapal induk Jepang, begitu parah hingga mereka tidak dapat lagi membentuk armada kapal induk berukuran besar dengan awak pesawat yang terlatih baik.  Jepang tidak memiliki persiapan untuk menggantikan kapal-kapal yang hancur, serta penerbang atau pelaut yang tewas. Total penerbang Jepang yang tewas dalam sehari di pertempuran Midway sama dengan total penerbang yang dihasilkan program pelatihan pilot sebelum perang dalam setahun.

Midway menyajikan jalannya pertempuran secara intens. Bisa dikatakan tidak ada drama, bahkan sedikit sekali cerita yang ditempelkan untuk menghubungkan antar scene. Sepihak memang ditujukan agar penonton Midway benar-benar bisa merasakan emosi dari setiap pertempuran. Ketegangan-ketegangan yang terjadi dijejalkan secara beruntun hingga membuat film ini benar-benar terasa sisi heroiknya.

Midway dibintangi oleh Patrick Wilson (The Conjuring) yang berperan sebagai Admiral Edwin Layton, Luke Evans (The Alienist, Beauty and the Beast) sebagai Commander Wade McClusky, Woody Harrelson (Solo: A Star Wars Story) sebagai Admiral Chester Nimitz, Mandy Moore (This Is Us) dan Darren Criss (The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story), serta didukung oleh Aaron Eckhart (The Dark Knight), Nick Jonas (Jumanji: Welcome To The Jungle), Dennis Quaid (Emmerich’s The Day After Tomorrow), Keean Johnson (Alita: Battle Angel) dan Tadanobu Asano (Thor, 47 Ronin).

Sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejaah AS, Midway hanya difilmkan sebanyak 3 kali. Pertama adalah film documenter 18 menit yang dibuat oleh legenda Hollywood, John Ford. Dalam Midway, tokoh John Ford divisualisasikan tengah melakukan shooting di pangkalan Midway saat serangan ke Midway oleh Jepang berlangsung. Sutradara Roland Emmerich nampak memberikan penghormatan lewat scene ini. Kedua adalah film lansiran Universal Pictures pada tahun 1975 dengan judul yang sama.

Penggunaan teknologi CGI membuat Midway tidak membosankan sebagai sebuah film perang. Dengan anggaran produksi separuh dari film Dunkirk, Midway menyajikan sensasi pertempuran udara yang intensif. Sedikit berlebihan memang pada beberapa scene, seperti hujaman peluru anti serangan udara yang terlontar bak laser namun tidak juga menjatuhkan sebuah pesawat tempur.

Disisi lain, Bangsa Indonesia pernah mengalami berbagai pertempuran besar, salah satunya Perang 10 November 1945. Melihat Midway membuat semangat kepahlawanan para penonton bisa tergugah. Tak heran film ini sangat tepat diluncurkan pada saat bangsa ini sedang menyambut hari Pahlawan. Selamat hari Pahlawan. (Lukman Hqeem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here