Minyak Mentah Ditengah Proyeksi Pemangkasan OPEC

207
Banner Top Article

Minyak mentah mencatat kenaikan di perdagangan sesi Jumat ditengah ekspektasi OPEC akan memangkas produksi. Namun, harga minyak masih tergerus oleh kenaikan produksi minyak mentah di AS yang mencapai rekor.

Minyak Brent berjangka berada di harga $67,49 per barel, mencatat kenaikan 1,3 persen atau naik 87 sen dari penutupan sebelumnya. Sementara minyak West Texas Intermediate AS berjangka berada di harga $56,96 per barel, naik 50 sen atau 0,9 persen.

Harga minyak masih tertopang oleh ekspektasi Organisasi Negara Pengekspor Mntak (OPEC) akan mulai menahan produksi secepatnya, sehingga menimbulkan kekhawatiran kekcauan baru seperti yang pernah terjadi di 2014 ketika harga minyak anjlok akibat ‘oversupply’.

Arab Saudi selaku ketua de facto OPEC menginginkan kartel untuk memangkas produksi sebesar 1,4 juta barel per hari (bph), atau sekitar 1,5 persen persediaan global, seperti yang dilansir oleh Reuters dari sebuah sumber yang mengatakan pada pekan ini.

Saudi secara ideal memiliki Russia untuk berpartisipasi, seperti yang terjadi ketika sama-sama menahan persediaan yang dimulai pada Januari 2017 silam, meskipun Russia sejauh ini belum berkomitmen untuk kembali bergabung dalam langkah yang sama.

Morgan Stanley telah memperingatkan, pemangkasan produksi oleh negara yang didominasi Timur Tengah belum akan memberikan pengaruh yang diinginkan grup.

“Harga minyak acuan utama – Brent dan WTI – keduanya adalah minyak mentah light-sweet dan mencerminkan kelebihan persediaan ini,” perbankan AS tersebut mengatakan.

“Pemangkasan produksi OPEC biasanya dilakukan dengan menghapus barel jenis medium dan yang lebih berat dari pasar namun bukan tertuju pada kelebihan pasokan pada jenis light-sweet.”

Terkait kelebihan produksi struktural yang telah muncul di pasar dari produksi oleh banyak negara yang mencapai rekor, Morgan Stanley mengatakan bahwa “pemangkasan yang dilakukan OPEC hanya bersifat sementara karena yang dapat mereka lakukan hanyalah menggeser produksi dari satu period eke periode lain”.

Di saat OPEC mempertimbangkan untuk menahan produksi, berdasarkan data dari Energy Information Administration (EIA) yang dirilis Kamis, persediaan minyak mentah AS justru mencapai puncak baru di pekan lalu, mencapai 11,7 juta bph.

Produksi minyak mentah AS telah meningkat hampir seperempat sejak awal tahun. Produksi yang mencapai rekor tersebut menunjukkan persediaan minyak mentah AS bukukan pertumbuhan mingguan terbesar di hampir dua tahun terakhir.

Persediaan minyak mentah meningkat 10,3 juta barel hingga pekan per tanggal 9 November menjadi 442,1 juta barel, level tertinggi sejak awal Desember 2017.

Kenaikan ini berperan terhadap turunnya harga minyak sekitar seperempat nilainya sejak awal Oktober, sebuah kondisi yang mengejutkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here