Eksposisi – Beijing tidak akan tergesa-gesa merespon kebijakan pelonggaran moneter yang telah diluncurkan beberapa negara karena memiliki beberapa jurus pamungkas untuk menanggulangi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut diungkapkan oleh gubernur bank sental China dihadapan wartawan hari ini (24/9).

Perlambatan sudah terjadi di China sejak tahun lalu dan belum ada tanda-tanda akan membaik terutama setelah pasang surut perang dagang. China diperkirakan hanya tumbuh 6,2% di periode April-Juni ini.

Gubernur Bank of China, Yi Gang menyatakan ada cukup ruang untuk kebijakan makro ekonomi khususnya disektor fiskal dan moneter. “Kita tidak akan terburu-buru mengikuti langkah yang sama dengan bank-bank sentral lainnya seperti memangkas suku bunga atau menerapkan kebijakan pelonggaran kuantitatif,” tambahnya.

Pada Jumat lalu bank sentral telah memangkas acuan bunga pinjaman selama dua bulan berturut-turut untuk menurunkan biaya pinjaman sehingga dapat menopang usaha kecil yang terkena dampak perang dagang dan perlambatan ekonomi.

Yi mengatakan, akan mempertahankan kebijakan moneter “normal” untuk waktu yang lama jika memungkinkan.

China selama ini memanfaatkan kebijakan stimulus untuk mengatasi perlambatan ekonomi, memangkas pajak yang jumlahnya mencapai triliunan termasuk merilis obligasi pemerintah untuk domestik demi mendanai proyek-proyek pembangunan, oleh karena itu tingkat hutang juga menjadi perhatian pemerintah.

Disamping itu, wakil kepala perencanaan negara, Ning Jizhe mengatakan bahwa pemerintah akan meningkatkan upaya penstabilan ekonomi termasuk mempercepat proyek-proyek konstruksi dan memperlonggar pembatasan pembelian barang-barang otomotif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here