Perang Dagang AS – China Memanas, Rupiah Masih Tertekan

112
Perang Dagang AS - China meruncing dengan pengesahan Tarif impor baru oleh AS kepada produk China. Rupiah terdampak ikut merosot tertekan oleh penguatan Dolar AS. (Lukman Hqeem)
Perang Dagang AS - China meruncing dengan pengesahan Tarif impor baru oleh AS kepada produk China. Rupiah terdampak ikut merosot tertekan oleh penguatan Dolar AS. (Lukman Hqeem)
Banner Top Article

Rupiah merosot tajam di awal pekan perdagangan ini pasca berita bahwa Donald Trump akan segera menerapkan tarif terhadap $200 miliar barang China.

Perkembangan ini menghempaskan harapan negosiasi antara dua ekonomi terbesar dunia, sehingga Rupiah dan mata uang pasar berkembang lainnya terkena imbas negatif. Selasa sore, USDIDR diperdagangkan di 14.852.

Data ekspor Indonesia yang meningkat lebih rendah dari ekspektasi di bulan Agustus juga memperburuk keadaan bagi Rupiah. Ekspor gagal mencapai ekspektasi karena hanya meningkat 4.15% YoY di bulan Agustus, sedangkan proyeksi adalah 10%, dan impor melonjak 24.65% di bulan yang sama. Sisi positifnya, defisit perdagangan menurun menjadi $1.02 miliar di bulan Agustus, sekitar setengah dari data Juli yaitu $2.03 miliar.

Walau begitu, Rupiah yang berulang kali melemah sepertinya akan meningkatkan ekspektasi bahwa Bank Indonesia akan meningkatkan suku bunga bulan ini demi membantu Rupiah. Kenaikan suku bunga BI dapat mengangkat Rupiah di jangka pendek, arah pergerakan Rupiah tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti ketegangan dagang global dan spekulasi kenaikan suku bunga AS.

Optimisme bahwa kenaikan suku bunga Bank Sentral Turki dan Bank Sentral Rusia pekan lalu dapat mengajak investor untuk berinvestasi di pasar berkembang semakin tipis pada awal pekan ini. Sejumlah mata uang pasar berkembang melemah terhadap Dolar, karena berbagai ketidakpastian eksternal terkait ekonomi global membuat investor ragu membeli mata uang pasar berkembang pada level saat ini.

Karena ketidakpastian eksternal ini bersifat tak pasti, misalnya ketegangan perdagangan, kita sulit memegang berita yang beredar di saat kita mencapai titik balik untuk pasar berkembang. Ketidakpastian eksternal tetap tinggi, dan hingga ada indikasi yang konsisten bahwa ketidakpastian ini mulai mereda, sepertinya investor akan lebih menyukai pendekatan berhati-hati sehubungan dengan aset pasar berkembang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here