Eksposisi – Bursa saham di seantero Asia diperdagangkan anjlok setelah Amerika dan China resmi memberlakukan kenaikan tarif untuk barang-barang impor yang datang dari kedua negara tersebut.

Pada hari Minggu kemarin, pemerintah China mengumumkan akan meningkatkan penyesuaian kebijakan ekonomi, dimana kali ini, produk minyak mentah AS terkena pajak sementara Amerika mengenakan kenaikan sebesar 15% yang juga diumumkan pada Minggu dan berlaku untuk produk-produk seperti sepatu, jam pintar, panel televisi dan lain-lain.

Meski Beijing belum menyebutkan secara spesifik produk-produk apa saja yang akan terkena kenaikan pajak, tapi mereka sudah menarget produk-produk AS yang nilainya mencapai $75 miliar.

Kondisi ini memicu lemahnya bursa Asia sejak pembukaan dimana indeks acuan MSCI turun 0,3%, indeks Hang Seng melemah 0,5%, juga dipicu oleh aksi demonstrasi masyarakat. Meski begitu, bursa China masih positif dimana indeks CSI300 menguat 0,3%.

Dolar diperdagangkan melemah terhadap yen pada posisi 106,12. Sementara terhadap euro, dolar cenderung tak berubah pada kisaran $1,09905.

Menurut beberapa kajian, pengenaan tarif oleh Paman Sam akan berdampak buruk kepada rumah tangga (domestik) dimana biaya (barang-barang konsumen) akan mengalami kenaikan sampai $1.000 per tahun.

Menurut analis, pasar saham masih akan terus tertekan setidaknya sampai ada solusi dari Trump. Sementara beberapa pihak menyebutkan kondisi perdagangan hari ini terlalu dilebih-lebihkan karena volume memang cukup tipis, salah satunya karena pasar AS tutup.

Dari pasar komoditas dilaporkan minyak Brent jatuh menjadi $58,96 per barrel sementara minyak West Texas melemah menjadi $55,00 per barrel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here