31.5 C
Jakarta
Minggu, 25 Agustus 2019
Beranda Ekonomi Perang Dagang Seret AS Menuju Resesi (Polling)

Perang Dagang Seret AS Menuju Resesi (Polling)

0
Perang Dagang Seret AS Menuju Resesi (Polling)

Eksposisi – Memanasnya perang dagang yang dipicu dua negara adikuasa Amerika dan China telah menyeret AS menuju resesi berikutnya, menurut pendapat mayoritas ekonom yang di survei oleh Reuters. Situasi ini juga memunculkan spekulasi the Fed akan kembali memangkas suku bunga di September dan sekali lagi di tahun depan.

Pada polling yang berlangsung 6-8 Agustus tersebut kemungkinan Amerika jatuh ke dalam resesi sebesar 45% dalam dua tahun ke depan, naik dari 35% pada polling sebelumnya dan merupakan persentase tertinggi sejak pertanyaan itu ditanyakan pada Mei 2018.

Berdasarkan kondisi pasar obligasi, tanda-tanda yang memperingatkan resesi berada pada level tertingginya yang sekaligus mengingatkan bahwa rivalitas diantara kedua negara malah akan memperburuk pelemahan ekonomi global.

Minggu lalu Presiden US menggoyang pasar dengan rencana kenaikan tarif tambahan sebesar 10% terhadap barang-barang China, dimulai 1 September. Selain itu, Washington juga melabeli China sebagai manipulator mata uang.

Beijing merespon dengan mengingatkan bahwa langkah itu dapat merusak (parah) tatanan keuangan internasional dan menyebabkan kerusuhan di pasar keuangan sekaligus menghambat pemulihan ekonomi global.

Hampir 70% ekonom yang merespon pertanyaan tentang perang dagang sepakat mengatakan perkembangan akhir-akhir ini telah mendekatkan AS ke resesi berikutnya.

Ekonom Kepala ING, James Knightly mengatakan memanasnya tensi perdagangan melalui kenaikan tarif dan pembatasan akses ke pasar telah menyakiti sentimen, meningkatkan biaya, merusak jaringan pasokan dan melemahkan keuntungan perusahaan.

Pada September nanti, the Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga 25 basis poin, menurunkan suku bunga pada kisaran 1,75-2,00% dan diperkirakan akan diturunkan kembali paling lambat tahun depan. Sementara pelaku pasar memperkirakan setelah September, pemangkasan suku bunga berikutnya kemungkinan di Desember (40%).

Meski begitu, menurut pernyataan terakhir dari ketua the Fed Jerome Powell, agaknya the Fed enggan memangkas suku bunga, setidaknya rencana ke arah sana masih tidak jelas.

Ketika ditanya apakah Amerika membutuhkan lebih banyak pemangkasan suku bunga di tahun ini, hampir tiga perempat menyatakan iya, sementara sisanya menyatakan tidak.

Masih menurut polling Reuters, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan melambat menjadi 1,8% diakhir 2020, terkoreksi dibanding kwartal lalu sebesar 2,1%.

Philip Marey, strategis senior AS di Rabobank mengatakan “Trump sedang memainkan permainan ayam. Dia berfikir dengan meluncurkan serangkaian kebijakan hukuman akan meruntuhkan perekonomian China dan memaksa mereka bertindak secepatnya. Dia berharap pada akhirnya China akan bergeming dan memutuskan kembali ke meja perundingan dan mengikuti apa yang dia mau.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here