Prahara Sang Joker
Warner Bros

“Joker mungkin adalah adaptasi karakter komik terbaik DC yang pernah diadopsi ke layar lebar”

Eksposisi – Sejak diumumkan bahwa aktor yang memerankan Joker adalah Joaquin Phoenix maka ekspektasi yang muncul tak tanggung-tanggung, film ini pasti sarat dengan permainan karakter khas Joaquin yang memang jika mengacu kepada film-filmnya terdahulu dikenal sebagai aktor watak.

Sosok joker memang tak bisa dimainkan secara serampangan karena karakter satu ini selain sakit jiwa tapi juga cerdas dalam mempengaruhi dan merusak logika seseorang. Joker adalah karakter yang rumit disertai mood yang berubah-ubah, sehingga aktor yang akan mengambil peran ini haruslah memiliki kemampuan teknis dalam berlakon.

Itulah sebabnya ketika nama Joaquin muncul, tak banyak yang menolak bahkan mayoritas bersiap menantikan penampilan perdananya di layar lebar.

Joaquin memang lama tak muncul ke permukaan karena selama ini berada dibelakang layar, namun siapa sangka setelah lama vakum ternyata kemampuan aktingnya justru makin terasah dan memukau.

Setelah menonton Joker, satu kata yang bisa saya ucapkan “Brilian!”

Film Joker versi Joaquin memang memiliki kualitas tersendiri dan sepertinya tak layak jika disandingkan dengan jaringan film-film superhero DC yang sudah keluar terlebih dahulu. Joker versi Joaquin seolah berada di layer yang berbeda.

Todd Phillips sang sutradara Joker membuat film-film terbitan DC sebelumnya terasa kerdil dan dangkal. Joker mampu merepresentasikan nuansa DC yang gelap dan suram dengan sangat baik, yang sayangnya gagal diadopsi oleh sutradara-sutradara DC lainnya karena terpengaruh sajian Marvel Universe dan keinginan untuk mengejar ketertinggalan secara komersil.

Joker mengandung banyak pesan dan kesan bagi yang menontonnya. Film ini tidak berusaha meletakkan Joker pada sisi orang yang “terzolimi” namun mencoba membedah kisah apa yang menjadi pengantar munculnya sosok kontroversial ini.

Jalan ceritanya sarat dengan nilai-nilai psikologi, meski tak begitu berat namun kita diajak untuk berfikir cerdas dan menimbang kembali nilai-nilai kemanusian yang saat ini kita adopsi. Apa yang terlihat dipermukaan tak selalu mencerminkan segala-galanya.

Arthur Fleck digambarkan sebagai pria paruh baya yang hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk merawat Ibunya yang tengah sakit. Dia memiliki sifat tertutup, senang berkhayal dan memiliki penyakit gangguan jiwa sehingga harus berobat rutin menemui psikiater rujukan pemerintah dengan layanan ala kadarnya.

Perjalanan hidup Arthur tidaklah mulus bahkan cenderung tragis dengan trauma-trauma yang mengiris hati. Seperti kebanyakan masyarakat kelas bawah, Arthur sering mendapat perlakuan tak baik, dikucilkan dan dirundung.

Karena latar belakang penyakit jiwanya kita bisa menebak hanya masalah waktu saja sampai akhirnya Arthur mencapai titik frustasi dan meledak. Hasilnya bisa kita saksikan sendiri.

Film Joker mengajak kita untuk berfikir ulang tentang definisi jahat, sakit, korup, baik dan lain sebagainya. Joker adalah penjahat tapi ternyata orang-orang yang memperlakukan Arthur sehingga dia berubah adalah penjahat sesungguhnya yang berlindung dibalik topeng kebaikan. Hanya karena mereka tidak membunuh, mencuri atau berbuat hal-hal negatif sesuai framing masyarakat tentang definisi kejahatan, maka kita akan selalu melihat bahwa Jokerlah penjahat yang sesungguhnya.

Satu adegan yang menurut saya sangat menarik dan menjadi inti dari film Joker ini yaitu adegan ketika Arthur diundang untuk datang ke acara talkshow tenar yang dinakhodai oleh Murray Franklin, yang diperankan oleh Robert De Niro.

Arthur sadar bahwa kedatangannya ke acara talkshow tersebut merupakan cara terbaik untuk memperkenalkan Joker kepada dunia, sehingga dia telah mempersiapkan segalanya.

Arthur akhirnya mengakui bahwa dialah yang membunuh tiga orang pegawai Wayne Enterprise di dalam kereta api yang pada akhirnya memicu protes besar-besaran di kota Gotham. Pembunuhan terhadap tiga orang tersebut dianggap sebagai perlawanan kelompok bawah atas kezoliman dan ketidak-acuhan penguasa terhadap nasib mereka.

Dalam sesi wawancara tersebut, Murray menunding Arthur sebagai penjahat dan tidak berkeprimanusiaan. Menariknya Arthur balik bertanya kepada Murray, “siapa yang jahat?, kaulah yang menayangkan videoku dan mengolok-ngolokku”

Arthur menyadari bahwa dia hanya dieksploitasi secara komersil dan acara ini hanyalah aksi “bully” yang diperbolehkan hanya karena dilakukan oleh seorang host terkenal dan mungkin masyarakat secara umum menganggapnya lazim dan baik-baik saja.

Disinilah kekuatan dari film Joker ini. Selama ini kita diajarkan bahwa hanya ada 2 nilai mutlak di dunia ini yaitu baik dan buruk (jahat). Tanpa sadar kita mengunci perilaku buruk (jahat) terbatas pada kegiatan-kegiatan yang melanggar hukum seperti menipu, mencuri, membunuh dsb. Padahal ada perilaku yang berdiri ditengah-tengah 2 nilai tersebut. Tidak bisa digolongkan sebagai baik tapi sebenarnya itu adalah kejahatan yang sesungguhnya.

Film ini mencoba mengatakan bahwa sikap anda terhadap orang lain akan memberi dampak tanpa anda merasakannya. Tiga orang yang dibunuh Arthur dilabeli oleh masyarakat sebagai korban dan orang yang tak bersalah. Padahal cerita yang sesungguhnya ketiga orang ini adalah pemabuk yang suka bikin onar dan tengah melecehkan seorang perempuan sesaat sebelum dibunuh oleh Athur. Kita boleh berargumentasi bahwa tiga orang itu tidak bersalah, namun perilaku mereka dapat menjurus kepada tindakan yang dapat mencelakakan orang atau bahkan sampai ketindak pemerkosaan.

Apakah seseorang dilabeli jahat ketika dia sudah melakukan kejahatan? atau seseorang sudah dianggap jahat jika dia memiliki kecenderung dan keinginan untuk berlaku jahat?

Adegan lain di tempat Arthur bekerja juga menjadi bukti betapa buruknya masyarakat dalam menilai sesuatu. Arthur memiliki gangguan dimana dia akan tertawa jika sedang gugup atau cemas. Ketika Arthur diancam atau ditakut-takuti maka seketika dia akan tertawa dan tentu saja ini memicu rasa kesal banyak orang. Karena sifat itu Arthur dikucilkan dan dianggap bodoh. Di depan Arthur, mereka bersikap manis sementara di belakang, mereka bicara hal-hal yang tidak baik mengenai Arthur. Ketika mengetahui ini Arthur merasa dikhianati dan pada akhirnya membunuh salah satu rekan kerjanya.

Film Joker ini relevan dengan kondisi masa kini yang dipenuhi dengan manipulasi, ketamakan, korupsi, nepotisme, ketidakadilan, pencitraan, bullying dll yang dilakukan penguasa, kelompok elit dan masyarakat secara umum.

Joker adalah akibat, Joker adalah buah dari perilaku buruk dan standar ganda masyarakat yang tidak hanya terjadi dimasa lalu tapi juga dimasa sekarang. Kita harusnya tidak melihat Joker sebagai hasil akhir tapi melihat proses yang memicu terciptanya Joker. Joker adalah “alter ego” Arthur yang karena ketidakberdayaannya memilih untuk terlahir menjadi sosok baru yang memiliki kepribadian lebih cerdas, lebih buas, lebih percaya diri dan lebih berani untuk melawan ketidakadilan sesuai dengan persepsinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here