Eksposisi.com – Film yang baik tentu tak hanya hiburan semata, tapi juga mampu memberi asupan gizi bagi masyarakat penontonnnya. Bahwasannya film memang tak hanya tontonan, tapi juga bisa juga menjadi tuntunan. Meski demikian, film butuh kritik sebagai evaluasi atas karya produksinya. Bahkan bisa menjadi cambuk untuk memacu diri kreatifitas sineas berkarya film lebih baik lagi.  

Untuk itu, dalam rangka Apresiasi Film Indonesia 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan via Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) mengadakan Lomba Penulisan Kritik Film, dan Artikel Perfilman 2019, yang para pemenangnya akan segera diumumkan, pada Rabu, 4 Desember 2019. Perhelatan pengumuman ini akan disiarkan langsung oleh TVRI pukul mulai 19.00 – 20.00 WIB.

mandiri

Penyelenggaraan lomba penulisan kritik film yang sebelumnya dilaksanakan bersamaan dengan acara Festival Film Indonesia (FFI), namun sejak tiga tahun silam acara lomba penulisan kritik film  tersebut memisahkan diri dari FFI.

“Kritik film sudah menjadi cabang tersendiri dari perfilman, karena itu kami ingin lebih mandiri. Kami ingin perhelatan kritik film menjadi fokus, dan bukan sekedar sampiran belaka,” kata Wina Armada Sukardi, ketua Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Film yang juga salah satu ketua Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Tahun ini terdapat 47 naskah kritik film. Untuk menjadi nomine terjadi persaingan yang ketat. Persaingan di antara nomine untuk memperebutkan predikat kritikus film terbaik, menurut Wina, luar biasa kompetitif.

Para calon pemenang terdiri dari para penulis senior yang telah malang melintang di dunia penulisan film. Kelima nominie itu menulis dan menganalisis lima judul film yang berbeda.

Kelima nomine tersebut adalah Isma Savitri dengan judul kritik film “Diponegoro dalam Senyap.” Ade Irwansyah menulis judul kritik film “Ada Apa dengan Ahok dan Harun.”

Selanjutnya masing-masing Hardo Sukoyo  “Menguak Tabir Cinta Terlarang (Film Ave Mariam), R.M. Risang Suryo Hapsoro, “Film Bumi Manusia yang Mengecewakan (Riview Mendalam Tujuh Divisi Prolduksi) dan  M Aditya Pratama,”Keluarga Cenara 2019: Rasa Duka dan Transformadi yang Menyelimuti”.

Dewan Juri lomba kritik film terdiri dari Remy Sylado, Lola Amaria, Nurman Hakim, Maman Widjaya dan Wina Armada Sukardi. “Persaingan tahun ini jauh lebih sangat sengit dibanding tahu-tahun sebelumnya,” imbuh Wina.

Bersama dengan acara pengumuman pememang kritik film juga akan diumumkan lomba penulisan artikel film. Ada 37 naskah yang bersaing dikatagori ini.

Lima nominie dan judul tulisannya sebagai berikut: Sugeng Satya Dharma (Film Indonesia dalam Tiga Orde Kekuasaan), Andi Baso Jaya (Ikhtiar Mengenjot Produk Film Untuk Anak-anak), Dwiki Aprilnaldi (Sesudah Angan-angan Nasionalists, Kemudian Apa?), Galih Pangestu (“Memikitkan Sekualitas Alternatif  Melalui Kucumbu Indah Tubuhku,” dan Dwiki  Aprilnaldi (“Melihat Sinema Korea Selatan Bekerja”).

kesempatan

Berbeda dengan kedua komba lainnya, pemenang lomba resensi penulis perfilman pelajar ditentukan setelah wawancara langsung oleh Dewan Juri terhadap para nominenya yang terdiri dari: Daniel Damanik ( “Film Bali: Beats of Paradise Bukan Film tentang Bali?”) , Gladys Izza Olivia ( “Antan Manten: Keiklasan Mantan Batal Manten”, Arif Rizki Firdaus (“ Tak Ada Harta yang Paling Bernilai Selain Keluarga”), Tasya Nabila (“Asal Kau Berbahagia : Reinkarnasi Cerita FTV di Layak Perak”), dan Marshal Bahkti ( “Orang Kaya Baru : Film Udik yang Unik Nan Asyik”). Jumlah naskah  katagori ini 31.

Dewan Juri Artikel Perfilman terdiri dari Bre Redana, Masmimar Mangiang, Firman Bintang, Arfin dan Benny Benke. Lalu Dewan Juri Resensi Perfilaman masing-masing  Niniek El Karim, Yan Widjaya, Dimas Supriyanto, Shandy Gasella dan Dewi. (bb/as).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here