Resiko Perang Dagang Meningkat, Picu Aksi Risk-off

140
Harga emas gagal memanfaatkan peluang pelemahan Dolar AS. (Lukman Hqeem)
Harga emas gagal memanfaatkan peluang pelemahan Dolar AS. (Lukman Hqeem)
Banner Top Article

Sentimen pasar saat ini tetap menjauhi risiko. Ketegangan Perang dagang berkepanjangan. Akibatnya memunculkan risiko baru bagi investor.

Mereka memilih Dolar AS dan membuat mata uang negara negara berkembang jatuh. Lebih-lebih bagi yang mengalami defisit transaksi berjalan besar. Kondisi ini menjadi faktor utama dalam memburuknya sentimen global.

Suasana negatif begitu terasa di tengah prospek tarif AS terhadap US$200 miliar barang China, dan ketidakpastian seputar diskusi NAFTA menciptakan sentimen global yang sangat berhati-hati. Kurangnya selera risiko terlihat di pasar saham hari ini. Sebagian besar saham Asia ditutup di wilayah merah, begitu pula dengan saham Eropa.

Topik populer di kalangan investor saat ini adalah aksi jual besar-besaran terhadap berbagai mata uang pasar berkembang. Pekan perdagangan ini sungguh menyakitkan bagi sebagian besar mata uang pasar berkembang. Pasar mulai membandingkan tekanan yang dialami mata uang pasar berkembang saat ini dengan krisis keuangan Asia di tahun 1997.

Menurut  Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM, ketegangan perang dagang dan penguatan Dolar secara umum juga berperan aktif terhadap lemahnya sentimen di pasar berkembang, tapi indikasi bahwa investor menggunakan isu di Turki untuk menyerang pasar yang memiliki defisit transaksi berjalan yang tinggi juga tidak dapat diabaikan.

Rupiah kembali turun ke level terendah 20 tahun terhadap Dolar hari ini, sementara Rupee India mencetak rekor level terendah baru. Rand Afrika Selatan juga melemah karena berita hari ini bahwa negara ini memasuki resesi. Pergerakan Rand dewasa ini mulai menyerupai pergerakan Lira menjelang krisis, dan tantangan ekonomi yang dihadapi Afrika Selatan pun serupa dengan Turki.

Pelemahan tajam Lira Turki dan Peso Argentina menyebar seperti virus ke negara-negara berkembang lainnya. Rupiah, Rand, dan Rubel Rusia hanyalah sebagian dari banyak mata uang yang terperosok di lingkungan trading negatif. Krisis keuangan di Turki dan Argentina merusak sentimen dan ketegangan dagang membuat pasar menghindari risiko, sehingga prospek jangka pendek mata uang pasar berkembang tetap negatif.

Dolar AS Masih Berkuasa

Poundsterling tetap tidak bullish walaupun aktivitas sektor jasa negara ini menguat di bulan Agustus. Walaupun PMI Jasa Inggris meningkat 54.3 di bulan Agustus, naik dari 53.5 di bulan Juli, reaksi yang tidak bersemangat menunjukkan bahwa perhatian investor mungkin tertuju ke arah lain, yaitu ketidakpastian negosiasi Brexit. Dari sudut pandang teknikal, GBPUSD tetap bearish di grafik harian selama bears memegang kendali di bawah 1.2900.

Dolar AS sepertinya masih berkuasa di pasar mata uang karena ketegangan dagang memicu permintaansafe haven terhadap Dolar AS. Selama Dolar tetap diuntungkan oleh penghindaran risiko, prospek mata uang ini tetap bullish. Dari sudut pandang teknikal, Indeks Dolar sangat bullish di grafik harian. Harga dapat menguji 95.80 di jangka pendek apabila tercapai penutupan harian di atas 95.50.

Harga emas sedikit menguat hari ini walaupun sentimen pasar menghindari risiko, namun peningkatan ini dibatasi oleh Dolar. Logam mulia ini berulang kali gagal untuk terangkat oleh isu perdagangan global, dan ini terus terlihat pada aksi harga. Para trader teknikal akan terus mengamati bagaimana perilaku harga di atas level $1190. Breakdown intraday di bawah level ini dapat mengantarkan harga kembali ke level terendah di tahun 2018 yang terakhir kali terlihat hampir satu bulan lalu. (Lukman Hqeem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here