Rupiah Menuju Level Krisis 1998

160
Rupiah Krisis
© Naviri Magazine
Banner Top Article

Rupiah Menuju Level Krisis 1998
Bank Indonesia Intervensi di Pasar Valas dan Obligasi

Bank Indonesia (BI) meningkatkan upaya intervensi nya pada mata uang dan obligasi pada hari Jumat, guna menopang rupiah, setelah terkontaminasi dari aksi jual di pasar negara berkembang memaksa Rupiah menuju level saat krisis keuangan melanda Asia.

Rupiah sempat tergelincir 0,3 persen dan meyentuh level 14.730 per dolar AS di sesi Jumat, level terlemah yang sama sejak September 2015. Jika terus melemah, tak pelak, Rupiah berpeluang tersungkur ke level yang pernah disentuh pada 1998.

Meskipun demikian, beberapa analis msih cukup yakin, ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang lebih baik untuk menahan depresiasi mata uang secara bertahap dibandingkan pada krisis 1997-1998, ketika rupiah jatuh dari sekitar 2.000 ke level terendah sepanjang masa di 16.800.

BI berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas ekonomi, khususnya Rupiah, dengan upaya kuat. Oleh sebab itu, kami telah meningkatkan upaya-upaya intervensi kami,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo kepada media.

Sepanjang tahun ini, rupiah telah mersot hampir 8 persen, terperangkap aksi jual pada pasar negara berkembang yang terus meningkat di pekan ini akibat anjloknya peso Argentina menyusul ketidakstabilan lira Turki.

Warjiyo menegaskan BI akan terus memantau perkembangan pasar di Argentina dan Turki, meski beliau menekankan bahwa ekonomi Indonesia cukup kuat dengan suara.

Yield obligasi acuan pemerintah Indonesia 1 tahun mencapai 8,094 persen di hari Friday, level tertinggi sejak Desember 2016, dan terhadap penutupan sebelumnya 7,967 persen.

Upaya Keras BI Dalam Menopang Rupiah

Nanang Hendarsah, Kepala Manajemen Moneter BI, mengatakan BI secara tegas melakukan interfensi guna menopang rupiah dan menghentikan penurunan harga obligasi, seraya mengutip pembelian senilai 3 Triliun Rupiah atau setara dengan $203,74 juta obligasi yang dijual oleh investor asing.

Arus keluar obligasi diyakini telah menekan rupiah dan sepanjang tahun ini BI telah melakukan pembelian obligasi pemerintah sekitar 80 triliun rupiah guna mengendalikan kenaikan yield, ujar Hendarsah.

Selain itu, upaya BI lainnya adalah dengan menaikkan suku bunga dengan kenaikan sebanyak empat kali sejak Mei dengan total 125 basis poin di tahun ini dengan tujuan untuk menggaet investor untuk kembali membeli aset Indonesia. Pertemuan kebijakan NI selanjutnya akan diadakan pada 26 hingga 27 September mendatang.

Pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mengatasi lonjakan impor, yang menambah kekurangan pasokan dolar di dalam negeri dan memperluas defisit transaksi berjalan. Rencana tersebut termasuk tarif impor yang lebih tinggi untuk beberapa barang konsumsi dan memberlakukan penggunaan biodiesel yang lebih luas mulai bulan depan untuk memangkas impor minyak.

Meskipun Rupiah melemah, laju inflasi tahunan Indonesia terlihat hanya sedikit meningkat pada bulan Agustus. Untuk kuartal kedua, Indonesia melaporkan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,3 persen, tercepat dalam 4 setengah tahun terakhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here