Rupiah anjlok, emerging market jadi tajuk utama

Pada awal perdagangan sekaligus membuka September ini, bursa Asia bergerak melemah sementara dolar AS dalam kondisi kokoh karena pelaku pasar masih wait and see berkenaan dengan potensi krisis di negara-negara emerging akibat dihantam dolar. Rupiah anjlok.

Secara merata, saham-saham seantero Jepang, China dan Hong Kong sepakat melemah. Melihat kebelakang pada Jumat kemarin indeks acuan AS, S&P 500 akhirnya ditutup flat. Hari ini pasar AS tutup memperingati hari Buruh sehingga diperkirakan tidak ada pergerakan agresif setidaknya sampai esok.

Sementara itu, dari Indonesia dilaporkan rupiah anjlok dan menembus level terendah dalam 20 tahun terakhir karena adanya kecemasan defisit perdagangan dalam kondisi rapuh yang diperparah oleh aksi jual aset negara-negara emerging oleh investor.

Oleh karena the Fed masih akan menaikkan suku bunga, maka potensi pelemahan rupiah lebih lanjut masih ada dan rupiah masih akan menjadi isu sentral sentimen pasar domestik.

Kondisi pelemahan diperkirakan masih akan berlanjut karena the Fed masih akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali. Beberapa negara emerging masih tertekan diantaranya Argentina dan Turki yang masih menjadi isu utama dalam melemahkan sentimen pasar.

Dari pasar komoditas, dilaporkan minyak mentah West Texas berada pada kisaran $70 per barrel. Emas tergelincir menjadi $1.198,94 per ounce. Dari pasar valas dilaporkan, yen stabil di 110,93 per dolar, yuan tergelincir menjadi 6,8484 per dolar, euro jatuh tipis menjadi $1,1597 dan pound tergelincir menjadi $1,2925.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here