Teater Koma Pentaskan ‘Mahabarata: Asmara Raja Dewa’

51
Teater Koma Pentaskan Mahabarata Asmara Raja Dewa di TIM (Foto Akhmad Sekhu)
Teater Koma Pentaskan Mahabarata Asmara Raja Dewa di TIM (Foto Akhmad Sekhu)
Banner Top Article

EKSPOSISI – Teater Koma termasuk salah satu kelompok teater tertua di Indonesia yang berdiri tahun 1977 ini masih tetap eksis sampai sekarang. Tak hanya itu, Teater Koma juga selalu melakukan inovasi tiada henti.

Pada pementasannya yang ke-154 berjudul ‘Mahabarata: Asmara Raja Dewa’ menggunakan tata artistik yang berbeda ketimbang pementasan-pementasan sebelumnya.

Pementasan yang digelar 16-25 November 2018 di Graha Bhakti Budaya, TIM ini secara visual menggabungkan antara teknik pemanggungan teater dan produksi film. Misalknya, imajinasi tentang perkasanya pertempuran para dewa terealisasi dengan apik layaknya menonton film.

Sebuah pementasan yang penuh dengan multimedia animasi hasil karya seniman multimedia Bulkini dari Bandung yang berlangsung dari awal sampai akhir pertunjukan berdurasi empat jam lebih.

Inovasi pementasan ini dilakukan Teater Koma sebagai bukti dari kelompok teater yang tetap terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, bahkan hal ini dilakukan semata-mata untuk dapat merangkul Generasi Milenial.

“Pementasan ini kan kita harus cepat-cepat tangkap zaman. Mudah-mudahan bisa diterima penonton setia kami, khususnya bagi generasi milenial, penonton baru kami,” kata Nano Riantiarno kepada wartawan.

Lebih lanjut, Nano menegaskan, bahwa pementasan ini adalah lakon lama, kisah lama, tapi masih sangat memikat.

“Ini lakon para Dewa dan kemudian lakon penciptaan manusia atau Genesis. Lakon ini tidak masuk kepada pakem. Ini lakon yang sumbernya bisa dari mana saja, maka tak heran jika kali ini Tanah Batak, Bugis, Toraja, Bali bahkan Yunani, Mesopotamia, dan Afrika menjadi sumber yang mampu menciptakan berbagai jenis seni dan daya kreativitas manusia,” tegasnya.

Terinspirasi dari kehidupan para dewa dan wayang, pementasan yang ditulis Nano Riantiarno dan diterbitkan menjadi buku ‘Mahabarata Jawa’ (Grasindo, 2016) itu merupakan pembuka bagi semesta lakon-lakon Mahabarata lainnya.

Kisahnya mengenai asal muasal penciptaan manusia, dimana ada sebuah pertanyaan yang sederhana tapi tak mudah untuk menjawabnya, yakni mana yang lebih duluan apakah ayam atau telur.

Lakon ini dimulai dari narasi yang membeberkan tentang pembagian alam semesta menjadi tiga: Mayapada, Madyapada, dan Marcapada, oleh Sang Hyang Wenang. Ketiganya memiliki penghuninya masing-masing. Mayapada (dunia atas) dihuni oleh para dewa-dewi, Madyapada (dunia gelap) oleh para makhluk halus dan demit, sedangkan Marcapada (dunia bawah) menjadi tempat raksasa dan makhluk fana tinggal.

Kemudian, Hyang Wenang menciptakan wayang Hyang Tunggal untuk mengisi Madyapada sekaligus memegang tampuk kekuasaan. Hal inilah yang membuat makhluk dari api, Idajil, dengki. Keduanya bertarung, dan Hyang Tunggal berhasil sebagai pemenang. Idajil yang kalah, dibelenggu dan diasingkan.

Selanjutnya, Hyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati. Dari pernikahan itu, sang dewi bukannya dikaruniai anak, tapi sebutir telur justru lahir dari rahimnya yang melahirkan empat dewa, yaitu Antaga dari bagian kulit telur, Ismaya dari bagian putih telur, Manikmaya dari bagian kuning telur, serta Manan dari bagian ari-ari.

Keempat dewa tersebut, meski lahir dari telur yang sama, tapi beradu menjadi yang tertua. Keempatnya saling berebut kekuasaan dengan sebutan ‘Paling Tua’ karena yang disebut paling tua yang berhak menjadi penerus dari kerajaan. Alhasil, wujud Antaga dan Ismaya menjadi buruk rupa. Mereka pun mengadu ke Hyang Tunggal yang kemudian mendamaikan mereka berempat untuk tetap rukun.

“Cinta dan kasih merupakan landasan yang menyatukan hingga kalian bisa jadi sakti. Kenapa sering diabaikan? Ketika kesombongan dan kepongahan ada dalam diri, maka kalian akan jadi lemah! Kala serakah berhasil memengaruhi, kepingan Ijadil akan mudah masuk,” demikian Hyang Tunggal memberikan wejangan.

Selanjutnya, Hyang Tunggal menetapkan Manikmaya yang menjadi Rajadewa bertitel Batara Guru sebagai penguasa tertinggi. Batara Guru menikah dengan Dewi Umiya yang rupawan dan berbudi pekerti. Namun itu ternyata membuatnya pongah dan kerap tak menghargai posisi sang istri.

Suatu waktu, ketika Dewi Umiya menolak permintaan Batara Guru untuk bersetubuh, sang Rajadewa justru mengutuknya. Batara Guru pun menyesal tiada tara. Ia pun harus menghadapi dampak dari kesombongan dan egonya sendiri.

Pementasan ini mengurai kisah percintaan Batara Guru sampai perpecahan Tiga Dunia yang berakibat pada kesalahannya di masa lalu. Inilah kisah tentang Rajadewa, Batara Guru, dalam menjaga kedamaian Tiga Dunia yang selalu diusik oleh penghuni Dunia Gelap. Mereka selalu berhasrat merebut tampuk kekuasaan Tiga Dunia. Belum lagi Idajil, selalu menghasut para perusuh dari belenggu tempat pengasingannya.

Dalam pementasan ini, Teater Koma, meski tak secara gamblang menyindir dunia politik sebagaimana pentas-pentas sebelumnya, kisah Mahabarata memberikan gambaran teladan kepemimpinan dari karakter Batara Guru yang menggambarkan sosok pemimpin yang senantiasa belajar dari kesalahan, mementingkan rasa persaudaraan, tak memuliakan arti ‘tuan’ itu sendiri.

Kisah cinta yang didedahkan dalam pementasan ini juga bukan hanya masalah hubungan saling hormat antara suami-istri, tetapi juga arti penting sebuah keluarga dan rasa persaudaraan yang justru menjadi sumber kekuatan yang sejati, yang sesungguhnya.

Pementasan ini menjadi pembuka bagi semesta ‘Mahabarata’ lainnya yang bakal dipentaskan oleh Teater Koma. Meski belum tahu naskah berikutnya, tapi Teater Koma sudah merencanakan sekuel dari ‘Mahabarata’ lainnya sehingga memasukkan kisah Dewi Sri hingga Arjuna.

Pementasan yang naskah dan sutradara Nano Riantirano ini didukung oleh Idries Pulungan, Budi Ros, Sari Madjid, Alex Fatahillah, Dorias Pribadi, Daisy Lantang, Ratna Ully, Asmin Timbil, Raheli Dharmawan, Toni Tokim, Bayu Dharmawan Saleh, Angga Yasti, Tuti Hartati, Dana Hassan, Suntea Sisca, Julung Zulfi, Indrie Djati, Dodi Gustaman, Sekar Dewantari, Sir Ilham Jambak, Rangga Riantiarno, dan masih banyak lagi.(Akhmad Sekhu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here