Eksposisi – Mata uang yen diperdagangkan menguat pada Jumat (9/8) setelah pasar kembali dibuat cemas akan memburuknya pertikaian dagang AS-China menyusul rilisnya laporan bahwa Gedung Putih menunda keputusan yang membolehkan perusahaan AS berbisnis dengan Huawei Technologies.

Namun berdasarkan informasi dari Bloomberg, keputusan ini bukannya tanpa sebab, China terlebih dahulu menyatakan akan menunda pembelian produk-produk pertanian AS.

Yen diperdagangkan menguat dan berada diposisi 105,84 terhadap dolar. Jika level terendah 105,50 tembus, maka yen akan mencoba tembus level selanjutnya, yaitu 105,00.

Laporan baru-baru ini menunjukkan perekonomian Jepang tumbuh lebih besar dari perkiraan pada periode April-Juni berkat kuatnya konsumsi domestik dan investasi bisnis. Hal ini tentu saja menurunkan tekanan kepada Bank of Japan setelah beberapa bank sentral Asia mengambil langkah drastis untuk melindungi perekonomian nasional akibat perselisihan AS-China.

Sementara yuan tetap stabil terhadap dolar setelah selama seminggu anjlok. Namun kondisi ini diperkirakan tidak akan bertahan lama, tergantung situasi. Yuan dikutip terakhir kali pada posisi 7,0816 terhadap dolar.

Poundsterling diperdagangkan mendekati level terendahnya terhadap euro setelah muncul kabar Perdana Menteri Boris Johnson tengah bersiap mengadakan pemilu setelah 31 Oktober, yang merupakan tenggat akhir keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Keputusan pemilu akan diambil seandainya DPR menyatakan mosi tidak percaya kepada pemerintahan yang baru saja terbentuk. Boris menyatakan akan tetap keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober meski dengan tangan hampa (tanpa kesepakatan apapun).

Pound diperdagangkan pada level 1,2145 terhadap dolar dan berada pada level 92,10 pence terhadap euro.

Pertikaian dagang AS-China dan isu Brexit akan menjadi pemicu diburunya aset-aset “safe haven” seperti yen dan emas.

Dari Australia dilaporkan RBA mengatakan perlambatan ekonomi domestik mungkin telah berakhir namun tingkat suku bunga masih akan dipertahankan di level terendah untuk sementara waktu dikarenakan masih ada ketidakjelasan dipasar akibat dari perang dagang AS-China.

RBA juga memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 2,5% dan di 2020 menjadi 2,75%. RBA menambahkan bahwa baiknya prospek ekonomi berkat rendahnya suku bunga, pemotongan pajak, lemahnya nilai tukar aussie dan stabilnya pasar properti.

Meski begitu kenaikan inflasi diperkirakan memakan waktu cukup lama karena tingkat pengangguran melonjak dan pertumbuhan upah tertahan. Itulah sebabnya suku bunga rendah perlu dipertahankan.

Dari pasar komoditas, emas spot berhasil menguat 0,3% dan berada di angka $1.500,80 per ounce, mendekati level tertinggi dalam enam tahun terakhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here