Yohana Ingin Wujudkan Pembangunan Yang Ramah Perempuan dan Anak

59
Menteri Yohana
Banner Top Article

Eksposisi – Yohana Yembise mengajak seluruh lapisan masyarakat mewujudkan pembangunan nasional yang berkeadilan dan kesetaraan gender serta ramah bagi perempuan dan anak-anak.

Dijelaskan olehnya bahwa untuk mewujudkan pembangunan nasional, pemuda sebagai agen perubahan dan tenaga produktif dalam pembangunan akan menentukan masa depan bangsa. Pemuda yang dikenal memiliki idealisme murni, dinamis, kreatif, inovatif, dan berenergi besar bagi perubahan sosial, jelasnya.

Lebih jauh dikatakan olehnya bahwa para pemuda diharapkan memiliki pandangan yang terus berkembang terhadap keadilan dan kesetaraan gender, serta mampu meningkatkan pendidikan, kesejahteraan dan perlindungan anak, guna mewujudkan kesejahteraan khususnya bagi perempuan dan anak, dari berbagai kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi yang merendahkan harkat dan martabat manusia, ungkap Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dalam orasi ilmiahnya pada Rapat Senat Terbuka Wisuda XX Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara pada Selasa (13/11).

Menteri Yohana menegaskan, bahwa saat ini Indonesia terpilih ke dalam 10 negara di dunia yang dipersiapkan menuju Planet 50:50 Gender Equality pada 2030 mendatang. Hal ini karena kemajuan Indonesia terkait upaya mewujudkan kesetaraan gender di berbagai bidang pembangunan, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi dan pelayanan publik, infrastruktur yang responsif gender. Namun kondisi kehidupan keluarga di Indonesia saat ini, masih jauh dari kesan ideal, karena masih  tingginya angka perceraian di Indonesia, tingginya angka pernikahan usia anak, tingginya angka pengguna narkoba di Indonesia, serta tingginya angka kekerasan di Indonesia.

“Sejak 2016, Kemen PPPA telah menetapkan 3 (tiga) program prioritas yaitu Three End (Tiga Akhiri) yang meliputi: akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan perempuan, dan akhiri ketidakadilan akses ekonomi terhadap perempuan. Untuk mendukung kebijakan ini kami telah melakukan berbagai langkah koordinatif dengan Kementerian/Lembaga di pusat dan daerah, mengembangkan model-model kebijakan, dan melakukan advokasi dan sosialisasi guna meningkatkan partisipasi perempuan dalam pembangunan,” ujar Menteri Yohana.

Selain itu, Kemen PPPA juga bekerjasama dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun non pemerintah dalam pelaksanaan program, kebijakan yang responsif terhadap perempuan dan anak. Pada 2015, BPS mengungkapkan ada sebanyak 3.225 jumlah perguruan tinggi di Indonesia dengan total mahasiswa sebanyak 5.896.419 orang. Hal ini menunjukan bahwa perguruan tinggi berpotensi mendukung pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan prioritas PP dan PA.

“Saya mengucapkan selamat kepada calon Wisudawan dan Wisudawati yang telah menyelesaikan berbagai program studi di Universitas Borneo Tarakan. Kalian semua harus saling berbagi pengalaman dan pengetahuan serta memberi contoh baik dan berbagi pengalaman positif serta menjauhkan segala bentuk kekerasan (baik fisik, psikis maupun verbal), diskriminasi, dan eksploitasi. Saya harap seluruh mahasiswa khususnya di seluruh Universitas Kalimantan Utara, ke depan akan menjadi kaum intelektual bangsa yang ikut mendukung tercapainya kesetaraan gender serta perlindungan dan pemenuhan hak anak, demi mendukung kemajuan bangsa Indonesia. Jangan pernah berpikir apa yang telah negara berikan kepada kita, tapi pikirkanlah apa yang telah kita berikan untuk negara ini,” tutup Yohana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here