KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai memasuki tahap pembangunan fisik setelah proses perizinan diselesaikan.
Fasilitas yang dikembangkan PT Mahakam Gerbang Raja Migas (MGRM) ini ditargetkan dapat beroperasi pada Januari 2027 untuk memudahkan nelayan memperoleh bahan bakar.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri mengatakan pembangunan SPBN merupakan salah satu penugasan yang diberikan kepada PT MGRM. Selain di Anggana, pembangunan SPBN juga direncanakan di wilayah hulu Kukar sebagai bagian dari upaya mendukung kebutuhan bahan bakar bagi masyarakat, khususnya nelayan.
Aulia menjelaskan, pembangunan SPBN di Anggana saat ini masih berproses setelah perizinan yang diperlukan berhasil diperoleh. Pemerintah daerah berharap tahapan pembangunan dapat berjalan lancar sehingga fasilitas tersebut segera dimanfaatkan oleh nelayan untuk menunjang kegiatan melaut.
Menurutnya, keberadaan SPBN di kawasan pesisir memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas perikanan. Dengan tersedianya fasilitas pengisian bahan bakar khusus nelayan, akses terhadap kebutuhan operasional melaut diharapkan menjadi lebih mudah.
“Untuk pembangunan SPBN, memang ada beberapa penugasan kita terkait dengan SPBN ini. Di Anggana salah satunya, di wilayah hulu juga ada dan ini masih dalam tahap proses pembangunan. Kita berharap dalam waktu tidak lama akan selesai sehingga bisa dimanfaatkan oleh kawan-kawan nelayan yang ada di Anggana,” ujarnya pada Senin (26/10/2026).
Menurutnya, PT MGRM tidak hanya mendapatkan peran dalam pengelolaan usaha, tetapi juga terlibat dalam pembiayaan pembangunan SPBN tersebut. Dengan dukungan perusahaan daerah, fasilitas ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi nelayan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah pesisir Kukar.
Sementara itu, Direktur Utama PT MGRM Kukar, Efri Novianto, menjelaskan bahwa proses perizinan pembangunan SPBN telah selesai melalui Pertamina Patra Niaga sekitar satu hingga dua minggu sebelum wawancara dilakukan. Dengan selesainya tahapan tersebut, perusahaan kini memfokuskan pekerjaan pada pembangunan fisik fasilitas.
Efri menyebutkan, lahan untuk pembangunan SPBN telah tersedia. Selain itu, perusahaan juga telah memesan dua unit tangki berkapasitas masing-masing 15 kiloliter yang saat ini dalam proses pengiriman untuk mendukung operasional fasilitas tersebut.
“Kalau secara progres, hitungan kami mungkin 10 sampai 20 persen. Target kami tahun ini selesai pembangunan fisik, Januari 2027 sudah bisa beroperasi,” jelas Efri.
Ia mengungkapkan, proses pembangunan SPBN membutuhkan waktu cukup panjang karena harus melewati sejumlah tahapan administrasi dan perizinan.
Proses tersebut dimulai dari pendataan nelayan, kepemilikan pas kecil kapal, pendataan melalui instansi terkait, hingga penerbitan rekomendasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan sebelum dilanjutkan ke Pertamina Patra Niaga.
Selain itu, terdapat sejumlah persyaratan lain yang harus dipenuhi, termasuk dokumen kesesuaian pemanfaatan ruang, perizinan lingkungan, dan persetujuan pembangunan. Setelah seluruh persyaratan tersebut diselesaikan, pembangunan fisik dapat dilaksanakan dengan dukungan kontraktor yang telah ditetapkan.
Efri menilai, panjangnya tahapan perizinan menjadi salah satu tantangan dalam merealisasikan pembangunan SPBN. Meski demikian, perusahaan tetap berupaya menyelesaikan pekerjaan sesuai target agar fasilitas tersebut dapat segera digunakan oleh nelayan.
Ia juga menyampaikan bahwa terdapat informasi mengenai rencana kebijakan percepatan perizinan untuk kawasan kampung nelayan. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mempermudah proses pembangunan fasilitas serupa di masa mendatang sehingga pelayanan terhadap masyarakat pesisir dapat dilakukan lebih cepat.

Untuk pembangunan SPBN di Anggana, PT MGRM menyiapkan anggaran sekitar Rp6 miliar. Fasilitas yang berlokasi di kawasan Handil Terusan tersebut diharapkan menjadi sarana pendukung bagi nelayan dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar, sekaligus memperkuat dukungan terhadap sektor perikanan di Kukar.
Efri menegaskan, perusahaan akan terus mendorong penyelesaian pembangunan agar SPBN dapat beroperasi sesuai jadwal.
“SPBN ini proses perizinannya sudah selesai di Pertamina Patra Niaga, jadi sudah clear tidak ada isu lagi terkait perizinan. Sekarang proses pembangunan fisik, lahan sudah siap, pemesanan tangki 15 KL dua unit dalam pengiriman,” pungkasnya. (ltf/fdl/adv)










