Home / Uncategorized

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:15 WIB

Nyala Meredup Taman di Tenggarong

Kontras perbedaan kondisi Taman Tanjong di sisi kiri dan Taman Kota Raja di kanan (Eksposisi)

Kontras perbedaan kondisi Taman Tanjong di sisi kiri dan Taman Kota Raja di kanan (Eksposisi)

Tenggarong, dikenal sebagai Kota Raja, sejak lama menggantungkan denyut hidupnya pada ruang-ruang publik. Di kota ini, taman bukan sekadar penghias, melainkan tempat orang bertemu, berbagi waktu, dan bagi sebagian lainnya mencari penghidupan.

DITULIS OLEH: LATIF

NYALA lampu Jembatan Kutai Kartanegara gagah menyambut di gerbang masuk Kota Tenggarong. Cahaya itu jatuh ke sungai, memantul, lalu menyebar.

Cahaya di beranda kota, tak kalah menawan. Menara Tuah Himba, berdiri tegak, disorot warna-warni cahaya, dihiasi air mancur di sekelilingnya.

Namun masih di sekitar kawasan itu, ada ruang yang dulu sama terangnya, kini justru tenggelam dalam gelap. Taman Kota Raja.

Beberapa tahun lalu, sebelum penerangan mulai bermasalah, tempat ini tak pernah benar-benar sepi. Orang datang silih berganti, bahkan hingga larut malam.

Kini, sebagian lampu yang padam membuat ruang itu terasa asing. Bahkan bagi kota yang pernah menghidupkannya.

Namun hanya beberapa kilometer dari sana, cerita yang berbeda tumbuh.

Di Taman Tanjong, malam justru menjadi awal kehidupan. Lampu menyala terang, anak-anak berlarian, tawa pecah di antara bangku taman.

Aroma jajanan menguar, bercampur dengan suara pedagang yang sibuk melayani pembeli. Di tempat ini, kota terasa hidup, nyaris tanpa jeda.

Dua taman, satu kota, dengan nasib yang berlawanan.

Saat sore beranjak malam, taman-taman di Tenggarong berubah menjadi panggung kehidupan. Keluarga berkumpul, anak-anak bermain, dan pelaku UMKM mengadu nasib.

Di sanalah denyut kota terasa sangat nyata. Bukan di gedung-gedung, melainkan di ruang terbuka yang mempertemukan manusia.

Seiring waktu, wajah taman di Tenggarong terus berubah, mengikuti cara kota ini hidup.

Dari Monumen Pancasila yang telah menjadi saksi lebih dari empat dekade aktivitas warga, hingga Taman Ulin yang hadir sejak era 1990-an.

Lalu muncul taman-taman generasi baru dengan konsep tematik. Taman Enggang, Taman Pintar, Creative Park, Taman Super Hero, hingga Taman Musik yang belum lama diresmikan. Masing-masing hadir dengan wajah dan fungsi berbeda.

Namun perubahan paling terasa terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Saat Taman Tanjong diresmikan pada 2025, ia bukan sekadar taman baru. Ia menjadi pusat gravitasi baru kota.

Setiap sore, orang-orang berdatangan. Saat malam tiba, cahaya memenuhi setiap sudut, seolah memastikan tak ada ruang yang benar-benar gelap. Di sana, ekonomi bergerak cepat.

Bagi Dahlia, pedagang telur gulung yang telah puluhan tahun berjualan di Tenggarong, Taman Tanjong adalah bentuk kepastian.

Baca Juga :  Dispora Kukar Menggelar Program Pembinaan Bagi Wirausaha Muda, Guna Memperkuat Kapasitas Bisnis

Dalam satu malam ramai, ia bisa membawa pulang Rp4 juta hingga Rp5 juta. Bahkan di hari biasa, sekitar Rp1 juta masih bisa ia dapatkan.

“Kalau ramai bisa sampai Rp5 juta. Kalau hari biasa sekitar Rp1 juta,” katanya, sambil membolak-balik gorengan di wajan.

Dagangan sering habis sebelum pukul 22.00 Wita. Baginya, keramaian bukan lagi harapan, melainkan aktivitas yang konsisten berkembang.

“Di sini ramai terus. Beda dengan di luar,” ujarnya singkat.

Namun, tidak semua taman memiliki cerita serupa. Di Taman Kota Raja, Susi masih bertahan. Ia tetap membuka lapak, meski pengunjung tak lagi datang seperti dulu. Ia mengingat betul masa ketika taman itu menjadi pusat keramaian kota.

“Dulu sampai jam 2 malam masih ada orang. Sekarang jam 10 sudah sepi, sudah kayak kuburan,” kata Susi sambal menghela nafas.

Kalimat itu menggantung di udara, menyisakan kesunyian yang sulit dibantah. Pendapatannya ikut merosot. Jika dulu pembeli datang silih berganti, kini mencari omset Rp200 ribu pun terasa berat.

“Sekarang 200 ribu saja berat. Banyak yang akhirnya tutup karena nggak ada pembeli,” katanya.

Bagi Susi, penyebabnya sederhana: lampu yang mati. Ketika gelap datang, pengunjung menjauh. Sehingga, ketika pengunjung pergi, harapan ikut meredup.

“Kadang orang nggak lihat jalan, bisa jatuh. Gelap di pinggir-pinggirnya. Mudah-mudahan lampunya bisa diperbaiki, biar hidup lagi,” ucapnya dengan penuh harap.

Perubahan itu juga dirasakan pengunjung. Denny, warga Tenggarong, kini memilih jarang datang ke Taman Kota Raja.

“Dulu ini primadona. Sekarang seperti terbengkalai,” katanya.

Menurutnya, persoalan utama bukan pada konsep, melainkan pada perawatan.

“Jangan cuma bangun. Kalau tidak dirawat, pasti kalah sama yang lain,” ujarnya.

Di sisi lain, taman-taman yang masih terjaga tetap menjadi tujuan.

Di kawasan Monumen Pancasila dan Taman Pintar, aktivitas komunitas masih bertahan, meski beberapa fasilitas mulai menua. Sedangkan di Taman Ulin dan Creative Park tak banyak pengunjung yang datang.

Sementara Taman Musik dan Taman Super Hero yang terbilang baru, masih cukup ramai pengunjung. Di tempat ini nampak anak-anak berlarian tanpa beban.

Marhama, pengunjung Taman Super Hero dari Muara Kaman, menyebut taman itu sebagai ruang yang nyaman bagi keluarga.

“Anak-anak senang. Tempatnya bersih. Mudah-mudahan makin bagus kedepannya,” ujarnya.

Baca Juga :  Kadisdikbud Kutim Utamakan Pelajaran Agama Dalam Kurikulum Pembelajaran

Di balik perbedaan kondisi tersebut, pemerintah mengakui adanya tantangan.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Kukar, Muhammad Ridha Fatrianti, menjelaskan bahwa Taman Kota Raja baru saja mengalami peralihan pengelolaan dari Dinas Pekerjaan Umum ke Dinas Pariwisata. Transisi itu membuat sejumlah perbaikan belum bisa dilakukan secara maksimal.

“Karena masih tahun berjalan, pemeliharaan besar belum bisa kita lakukan,” ujarnya.

Keterbatasan anggaran juga menjadi kendala. Namun, ia memastikan perbaikan akan diprogramkan, termasuk penerangan yang menjadi keluhan utama.

“Untuk lampu-lampu yang tidak berfungsi, termasuk sarana prasarana lainnya, itu akan kita coba programkan di tahun berikut,” ujarnya.

Ia juga menyinggung adanya perubahan pola kunjungan masyarakat yang kini lebih terpusat di titik tertentu.

Sebagai solusi jangka menengah, ia berharap aktivitas kawasan sekitar Taman Kota Raja dapat kembali menarik minat masyarakat.

“Dengan adanya Pujasera diseberangnya, kita harap nanti bisa menambah daya tarik, sehingga kawasan itu kembali hidup,” ucapnya.

Di tingkat kebijakan, Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, melihat fenomena ini sebagai bagian dari dinamika kota.

Menurutnya, masyarakat kini cenderung memilih ruang publik berdasarkan aktivitas yang ditawarkan.

“Taman kota raja biasanya ramai di sore hari, kalau malam, aktivtias bergeser ke taman tanjong atau taman musik,” katanya.

Pemerintah, tengah menyusun konsep taman tematik agar setiap ruang publik memiliki identitas yang lebih jelas.

Menurutnya, keberhasilan sebuah taman tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada keberlanjutan pengelolaan dan aktivitas di dalamnya.

Ia memastikan pemerintah tidak tinggal diam dan akan berusaha mencari solusi agar ekonomi tetap hidup di kawasan Taman Kota Raja.

“Tetap semangat, pemerintah daerah akan terus berusaha menggeliatkan kunjungan kesana,” katanya.

Namun bagi pedagang seperti Susi, persoalannya tidak serumit itu. Baginya, semuanya kembali pada satu hal: cahaya.

Ketika lampu menyala, orang datang. Ketika lampu padam, mereka pergi. Dan di antara terang dan gelap itu, ada hidup yang ikut bertaruh.

Hari ini, taman-taman di Tenggarong memperlihatkan dua wajah kota. Yang satu bersinar dan penuh harapan, yang lain perlahan meredup.

Di tengah ambisi membangun kota yang berkarakter, satu hal menjadi semakin jelas: membangun taman mungkin tidak sulit.

Namun menjaga agar ia tetap hidup. Agar tetap menyala. Adalah pekerjaan yang jauh lebih panjang.

Editor: Faidil Adha

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Tingkatkan SDM Melalui Minat Baca Masyarakat

Uncategorized

Pemkab Kutim Menggelar Workshop Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting

Uncategorized

Pemkab Kutim Melakukan Audiensi Bersama Kobexindo Membahas CSR

Uncategorized

Persiapan Pengamanan Pilkada Serentak 2024, Pemkab Kukar Menggelar Jambore Satlinmas

Uncategorized

Sekda Pimpin Upacara Peringatan HKN 2024 di Kukar

Advertorial

Disdikbud Diimbau Respon Cepat dan Positif Program PGP

Uncategorized

Disdikbud Kutim Pasang Internet Gratis untuk Sekolah Negeri

Uncategorized

Dispora Kutim Utamakan Program Cetak Wirausaha Muda