Home / Advertorial / Pemerintah / Pendidikan-Kesehatan / Serba Serbi

Senin, 29 September 2025 - 13:27 WIB

Prosesi Perebahan Tiang Ayu, Tanda Berakhirnya Rangkaian Festival Erau Adat Kutai 2025

Prosesi Perebahan Tiang Ayu tanda berakhirnya rangkaian Earau 2025

Prosesi Perebahan Tiang Ayu tanda berakhirnya rangkaian Earau 2025

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Prosesi Perebahan Tiang Ayu menjadi penutup rangkaian Erau Adat Kutai 2025 yang berlangsung selama sepekan. Ritual sakral ini dilaksanakan di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura atau Museum Mulawarman, pada Senin pagi (29/9/2025),.

Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), M. Saidar, menjelaskan bahwa perebahan Tiang Ayu menandakan berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan Erau.

“Perabahan tiang ayu ini artinya menandakan usainya Erau Adat Kutai. Setelah tiang ayu direbahkan, habislah semua rangkaian kegiatan Erau selama satu minggu,” ujarnya.

Baca Juga :  Anggota DPRD Kaltim Ungkap Kekecewaannya Terkait Janji Pertamina yang Tidak Direalisasikan

Prosesi perebahan dilakukan oleh dua orang Pangeran dan satu orang Raden dari pihak Kesultanan, serta Bupati Kukar Aulia Rahman Basri bersama Wakil Bupati Rendi Solihin. Sebelum direbahkan, tiang tersebut lebih dulu melalui ritual tepong tawar atau sawai oleh pangeran, lalu dilaporkan kepada Sultan bahwa tiang telah siap untuk direbahkan.

Menurut Saidar, sejak dahulu hingga kini tidak ada perubahan dalam prosesi tersebut. Susunan ritual Erau telah diwariskan sejak masa Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti, raja pertama Kerajaan Kutai Kartanegara.

“Prosesi Erau itu sudah tersusun dari dulu, mulai dari Menjamu Benua, Merangin, Ngatur Dahar, hingga Beluluh dan Bepelas. Semuanya tetap sama, tidak berubah dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Baca Juga :  Perlindungan Sosial Jadi Pilar Dedikasi Kukar Idaman Menuju Masyarakat Sejahtera

Ia juga menegaskan bahwa meskipun prosesi Belimbur dan Ngulur Naga kerap dianggap sebagai puncak keramaian Erau, namun keduanya belum menandai berakhirnya rangkaian adat. Rangkaian Erau berakhir apabila Tiang Ayu sudah direbahkan.

Ia berharap, tradisi Erau dapat terus dilestarikan dari generasi ke generasi, agar tidak hilang ditelan zaman.

“Harapan kita ke depannya tradisi budaya Kutai ini tetap dijaga, jangan sampai hilang. Anak-cucu kita juga harus dikenalkan budaya ini, termasuk melalui sekolah-sekolah,” pungkasnya. (adv/disdikbud/kukar)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Gelar RDP, DPRD Kaltim Desak Penegakan Hukum Tambang Ilegal di KHDTK Unmul Segera Dilakukan

Advertorial

MTQ Tingkat SMP Meriahkan Peringatan Hardiknas 2025, Selaras dengan Program GEMA

Advertorial

DPMD Kukar Usulkan Internet Gratis untuk Seluruh RT, Manfaatkan Anggaran RT-Ku Terbaik

Advertorial

Wakil DPRD Kukar Serahkan Bantuan Papan Interaktif kepada Puluhan Desa

Advertorial

Kantor Baru Kelurahan Maluhu Tenggarong Didesain Modern dan Sediakan Akses Bagi Disabilitas

Pemerintah

Terkait PPPK Ingin Bekerja Dekat Keluarga, Bupati Kukar Tekankan Kebutuhan dan Kesesuaian Formasi

Advertorial

Sekda Kukar Pimpin Upacara Sekaligus Berikan Hadiah Lomba antar OPD

Advertorial

Komisi IV Menggelar RDP, Bahas Lanjutan Permasalahan TPP Guru Pendidikan Agama yang Belum Terbayar