KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Perusahaan Daerah (Perusda) Tunggang Parangan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) telah menunjukkan perkembangan positif setelah sempat mengalami persoalan keuangan cukup berat dalam beberapa tahun terakhir.
Upaya pemulihan yang dilakukan manajemen kini mulai membuahkan hasil dengan kondisi perusahaan yang dinilai semakin sehat dan stabil.
Direktur Utama Perusda Tunggang Parangan, Awang Muhammad Luthfi mengatakan, saat dirinya mulai menjabat, perusahaan masih dibebani berbagai persoalan lama yang berdampak besar terhadap kondisi keuangan perusahaan.
“Pada prinsipnya kami Perusda Tunggang Parangan yang sudah lama, tapi sampai 2021 mengalami banyak masalah. Jadi 2021 itu dalam neracanya minus puluhan miliar,” ujarnya pada Kamis (7/5/2026).
Menurut Awang, proses pemulihan dilakukan secara bertahap melalui pembenahan internal dan efisiensi operasional. Hasilnya, sejak 2022 perusahaan mulai mencatatkan keuntungan dan mampu memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kutai Kartanegara (Kukar) meski nilainya belum terlalu besar.
Ia menjelaskan, model usaha yang dijalankan Perusda Tunggang Parangan lebih banyak berbasis kemitraan dengan sejumlah pihak, termasuk Pelindo. Melalui pola kerja sama tersebut, perusahaan tetap bisa menjalankan usaha meski tidak memiliki modal besar secara mandiri.
“Karena kami ini bermitra, salah satunya dengan Pelindo dan beberapa mitra lain. Jadi sistemnya bagi hasil dan kami bekerja sama tanpa modal besar,” katanya.
Awang menuturkan, keuntungan perusahaan selama beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya dapat dinikmati untuk pengembangan usaha. Sebab sebagian besar pendapatan masih digunakan untuk menyelesaikan kewajiban lama, seperti utang pajak, pesangon karyawan, hingga kerugian perdata masa lalu.
Ia menyebut biaya penyelesaian kewajiban tersebut bahkan sempat mencapai lebih dari 50 persen dari total pendapatan perusahaan. Meski cukup membebani, pihaknya tetap berkomitmen menuntaskan seluruh persoalan lama agar kondisi perusahaan benar-benar pulih.
“Nah 2022, 2023, 2024 sampai sekarang kami menghasilkan pendapatan yang signifikan dan sudah untung. Tapi keuntungan itu harus kami komitmen ke masa lalu,” ungkapnya.
Saat ini Perusda Tunggang Parangan fokus menjalankan usaha di sektor maritim, khususnya jasa tunda kapal di Sungai Mahakam.
Selain itu, perusahaan juga bergerak di bidang jasa bongkar muat, pengurusan perizinan, hingga usaha pendukung lain seperti penjualan sembako dan telur.
Menurut Awang, langkah efisiensi menjadi salah satu strategi utama perusahaan untuk bertahan dan terus berkembang. Hal itu terlihat dari struktur organisasi perusahaan yang dibuat lebih sederhana dengan jumlah pegawai yang terbatas.
Ia juga memastikan pengelolaan perusahaan dilakukan secara transparan dengan membuka informasi pembiayaan dan hasil audit kepada publik melalui laman resmi perusahaan.
“BUMD itu intinya survive, efisien, optimal, dan punya inisiatif kreatif. Memulihkan itu tidak gampang, membangun gampang,” pungkasnya. (ltf/fdl)










