Home / Energi / Industri / Peristiwa

Kamis, 13 Maret 2025 - 15:24 WIB

Dampak Pertambangan Dekat Permukiman, Warga Desa Buana Jaya Dikepung Debu dan Lumpur

Kawasan pertambangan di Desa Buana Jaya

Kawasan pertambangan di Desa Buana Jaya

KUTAI KARTANEGARA,eksposisi.com – Kepulan debu terus beterbangan dari area pertambangan yang hanya berjarak sekitar 75 meter dari permukiman warga, di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Ketika hujan turun, air yang bercampur lumpur mengalir dari kawasan tambang ke permukiman, mengotori lingkungan dan mengancam lahan pertanian warga.

Kondisi ini dirasakan warga yang tinggal di sekitar pertambangan setiap hari. Ahmad Purwadi, salah seorang warga terdampak, merasakan langsung efek buruknya.

“Setiap hari kami harus berhadapan dengan debu yang masuk ke rumah. Kalau musim hujan, limbah air dari tambang juga mengalir ke lingkungan kami,” ungkap Ahmad Purwadi.

Selain ituy dampak buruk yang disebabkan aktivitas pertambangan yakni, jalanan desa mengalami kerusakan akibat lalu lalang kendaraan berat, beberapa di antaranya harus diperbaiki dengan pengecoran ulang.

Desa Buana Jaya yang dulunya memiliki lahan pertanian yang luas. Kini tampak sawah yang masih bertahan bersebelahan dengan lahan pertambangan, yang mencerminkan pergeseran fungsi lahan.

Dari sisi administratif, Sekretaris Desa Buana Jaya, Ahmad Wondo, mengungkapkan bahwa desa mereka berada dalam area izin usaha pertambangan (IUP).

“Wilayah Desa Buana Jaya dan Bukit Pariaman memang masuk dalam area pertambangan, sehingga aktivitas tambang di sini bukan sesuatu yang baru,” jelasnya.

Baca Juga :  Koperasi TKBM Karya Sejahtera Samboja Berdiri Sejak 2006, Buka Lapangan Kerja Bagi Ratusan Anggota

Namun, ia juga mengingatkan bahwa keberadaan tambang membawa dampak yang beragam, tergantung bagaimana pengelolaannya.

“Ada sisi positif dan negatif dari aktivitas tambang ini. Positifnya, harga tanah melonjak, banyak warga yang sebelumnya tidak mampu kuliah kini bisa berkuliah, yang dulunya tidak punya mobil sekarang bisa membeli mobil, dan banyak warga yang mendapat ganti rugi bisa membangun rumah lebih layak,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa masyarakat perlu memahami bahwa pertambangan telah menjadi bagian dari kehidupan sejak lama.

“Leluhur kita pun ahli dalam pertambangan. Buktinya, alat-alat musik tradisional berbahan logam sudah ada sejak dahulu kala,” ungkapnya.

Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Tidak semua warga mendapatkan kompensasi atau manfaat ekonomi secara langsung. Sebagian besar justru harus menghadapi dampak lingkungan yang semakin nyata. “Bagi warga yang tidak mendapatkan kompensasi, mereka mungkin merasa terganggu dengan kebisingan, debu, dan panas akibat aktivitas tambang,” tambahnya.

Di beberapa titik desa, alat berat terus bekerja tanpa henti. Dump truck berwarna kuning berlalu-lalang mengangkut hasil galian, menyisakan debu yang beterbangan ke udara. Bukit yang dulunya menjadi benteng alami desa kini semakin terkikis, menyisakan permukaan tanah yang tandus dan berbatu.

Baca Juga :  Keberhasilan Kecamatan Sangasanga Menata Sampah Melalui Inovasi Russa Emas

Beberapa rumah warga mulai direnovasi, sebagian besar menggunakan hasil dari kompensasi tambang. Namun, bagi yang tidak menerima ganti rugi, dampak buruk lebih terasa dibanding manfaatnya.

“Yang terpenting adalah bagaimana tambang ini dikelola, apakah dengan baik atau tidak. Jika dikelola dengan benar, dampak buruknya bisa diminimalisir,” jelas Ahmad Wondo. Baginya, aktivitas tambang tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi, tetapi harus ada keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan keberlangsungan lingkungan.

Pertambangan di Buana Jaya telah membawa perubahan besar. Bagi sebagian warga, ini adalah peluang ekonomi. Namun, bagi yang lain, ini adalah ancaman bagi kelangsungan hidup mereka.

Di antara deru mesin berat dan kepulan debu yang terus menyelimuti desa, satu harapan masih menggantung di benak warga: keseimbangan antara pembangunan dan kelangsungan hidup mereka.

“Keluhan-keluhan sudah ada. Tapi sejauh ini, belum ada tanggapan dari perusahaan,” tutup Ahmad Purwadi. (adm/fdl)

Share :

Baca Juga

Bisnis

Koperasi TKBM Karya Sejahtera Samboja Berdiri Sejak 2006, Buka Lapangan Kerja Bagi Ratusan Anggota

Advertorial

PT MHU Borong Penghargaan GMP Award 2022, Bukti Komitmen pada Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik

Advertorial

Komisi III DPRD Kaltim Menggelar RDP Terkait Bencana Longsor di Kabupaten Kukar

Peristiwa

Nelayan Hilang di Empang Sungai Rugaya Anggana

Industri

May Day 2026 di Kukar Dimaknai Sebagai Momentum Kebersamaan

Advertorial

Anggota DPRD Kaltim Mengajak Semua Pihak Bersinergi Dalam Penanganan Banjir di Sejumlah Daerah

Pendidikan-Kesehatan

Masyarakat Desa Kedang Ipil Antusias Persiapkan Tradisi Nutuk Beham

Bisnis

PT MMP Resmi Memasuki Tahap Power On untuk Smelter Nikel Matte High Grade