Home / Energi / Industri / Peristiwa

Kamis, 13 Maret 2025 - 15:24 WIB

Dampak Pertambangan Dekat Permukiman, Warga Desa Buana Jaya Dikepung Debu dan Lumpur

Kawasan pertambangan di Desa Buana Jaya

Kawasan pertambangan di Desa Buana Jaya

KUTAI KARTANEGARA,eksposisi.com – Kepulan debu terus beterbangan dari area pertambangan yang hanya berjarak sekitar 75 meter dari permukiman warga, di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Ketika hujan turun, air yang bercampur lumpur mengalir dari kawasan tambang ke permukiman, mengotori lingkungan dan mengancam lahan pertanian warga.

Kondisi ini dirasakan warga yang tinggal di sekitar pertambangan setiap hari. Ahmad Purwadi, salah seorang warga terdampak, merasakan langsung efek buruknya.

“Setiap hari kami harus berhadapan dengan debu yang masuk ke rumah. Kalau musim hujan, limbah air dari tambang juga mengalir ke lingkungan kami,” ungkap Ahmad Purwadi.

Selain ituy dampak buruk yang disebabkan aktivitas pertambangan yakni, jalanan desa mengalami kerusakan akibat lalu lalang kendaraan berat, beberapa di antaranya harus diperbaiki dengan pengecoran ulang.

Desa Buana Jaya yang dulunya memiliki lahan pertanian yang luas. Kini tampak sawah yang masih bertahan bersebelahan dengan lahan pertambangan, yang mencerminkan pergeseran fungsi lahan.

Dari sisi administratif, Sekretaris Desa Buana Jaya, Ahmad Wondo, mengungkapkan bahwa desa mereka berada dalam area izin usaha pertambangan (IUP).

“Wilayah Desa Buana Jaya dan Bukit Pariaman memang masuk dalam area pertambangan, sehingga aktivitas tambang di sini bukan sesuatu yang baru,” jelasnya.

Baca Juga :  PT MHU dan TNI Bersinergi Membangun Sarana Air Bersih untuk Warga Desa Lung Anai

Namun, ia juga mengingatkan bahwa keberadaan tambang membawa dampak yang beragam, tergantung bagaimana pengelolaannya.

“Ada sisi positif dan negatif dari aktivitas tambang ini. Positifnya, harga tanah melonjak, banyak warga yang sebelumnya tidak mampu kuliah kini bisa berkuliah, yang dulunya tidak punya mobil sekarang bisa membeli mobil, dan banyak warga yang mendapat ganti rugi bisa membangun rumah lebih layak,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa masyarakat perlu memahami bahwa pertambangan telah menjadi bagian dari kehidupan sejak lama.

“Leluhur kita pun ahli dalam pertambangan. Buktinya, alat-alat musik tradisional berbahan logam sudah ada sejak dahulu kala,” ungkapnya.

Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Tidak semua warga mendapatkan kompensasi atau manfaat ekonomi secara langsung. Sebagian besar justru harus menghadapi dampak lingkungan yang semakin nyata. “Bagi warga yang tidak mendapatkan kompensasi, mereka mungkin merasa terganggu dengan kebisingan, debu, dan panas akibat aktivitas tambang,” tambahnya.

Di beberapa titik desa, alat berat terus bekerja tanpa henti. Dump truck berwarna kuning berlalu-lalang mengangkut hasil galian, menyisakan debu yang beterbangan ke udara. Bukit yang dulunya menjadi benteng alami desa kini semakin terkikis, menyisakan permukaan tanah yang tandus dan berbatu.

Baca Juga :  Kecamatan Loa Kulu Terus Beupaya Melakukan Intervensi dan Penanganan Stunting

Beberapa rumah warga mulai direnovasi, sebagian besar menggunakan hasil dari kompensasi tambang. Namun, bagi yang tidak menerima ganti rugi, dampak buruk lebih terasa dibanding manfaatnya.

“Yang terpenting adalah bagaimana tambang ini dikelola, apakah dengan baik atau tidak. Jika dikelola dengan benar, dampak buruknya bisa diminimalisir,” jelas Ahmad Wondo. Baginya, aktivitas tambang tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi, tetapi harus ada keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan keberlangsungan lingkungan.

Pertambangan di Buana Jaya telah membawa perubahan besar. Bagi sebagian warga, ini adalah peluang ekonomi. Namun, bagi yang lain, ini adalah ancaman bagi kelangsungan hidup mereka.

Di antara deru mesin berat dan kepulan debu yang terus menyelimuti desa, satu harapan masih menggantung di benak warga: keseimbangan antara pembangunan dan kelangsungan hidup mereka.

“Keluhan-keluhan sudah ada. Tapi sejauh ini, belum ada tanggapan dari perusahaan,” tutup Ahmad Purwadi. (adm/fdl)

Share :

Baca Juga

Bisnis

PT MHU Meraih Penghargaan PROPER Daerah Emas, Bukti Komitmen Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan

Bisnis

Evaluasi E-PBM, Langkah Penting Menuju Digitalisasi Bongkar Muat di Kuala Samboja

Bisnis

MHU Tegaskan Komitmen Dukung Masyarakat Lingkar Tambang Lewat Program PPM

Olahraga dan Kesehatan

Cegah Penularan Campak, Kemenkes Imbau Hindari Sentuh Bayi saat Lebaran

Bisnis

Peringati Hari Lingkungan Hidup 2024, PT GBU Menggelar Sejumlah Kegiatan di Sekolahan di Kubar

Bisnis

PT PHM Catat Dua Rekor Baru Dalam Pengeboran Offshore di South Mahakam

Bisnis

Pemprov Kaltara Belajar Pengelolaan dan Pengembangan Kratom ke Kukar

Bisnis

Bupati Kukar Harap Keberadaan DSI Bisa Memperjelas Tata Kelola Sektor Pertambangan