KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Masyarakat Kutai Adat Lawas di Desa Kedang Ipil, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) antusias bergotong royong mempersiapkan tradisi Nutuk Beham. Tradisi ini sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen sekaligus pelestarian budaya leluhur.
Ritual ini menjadi salah satu warisan budaya yang masih dijaga hingga kini, tidak hanya sebagai prosesi adat, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan masyarakat.
Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin, menyampaikan bahwa pelaksanaan Nutuk Beham dilakukan melalui kesepakatan bersama warga sebelum memasuki tahapan inti kegiatan.
“Untuk kegiatan ini diselenggarakan selama tiga hari tiga malam, diawali dengan kesepakatan bersama masyarakat terkait waktu pelaksanaannya,” ujarnya pada Rabu (22/04/2026).
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan dimulai dari pengambilan hingga pengumpulan padi hasil panen masyarakat.
“Peserta yang ingin ikut tidak dibatasi, siapa saja boleh berpartisipasi dengan menyerahkan padi sesuai kemampuan, menggunakan ukuran kaleng,” jelasnya.
Setelah padi terkumpul, tahapan berikutnya adalah perendaman yang dilakukan minimal satu malam hingga beberapa malam, guna menghasilkan tekstur padi yang lebih lembut.
“Perendaman ini penting untuk melembutkan padi, biasanya berlangsung dua sampai tiga malam, tergantung kondisi padinya,” tuturnya.
Usai direndam, padi kemudian ditiriskan hingga kering sebelum memasuki proses sangrai. Pada tahap ini, padi dipanaskan dengan teknik tertentu serta diberikan air secara bertahap.
Proses sangrai dilakukan dengan hati-hati agar padi tidak lengket dan menghasilkan kualitas beras yang baik sebelum masuk ke tahap penumbukan.
“Setelah disangrai dan tidak lengket, baru kita angkat dan lanjut ke proses penumbukan bersama menggunakan lesung dan alu,” ungkapnya.
Penumbukan padi menjadi inti dari tradisi Nutuk Beham, yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat sebagai simbol kebersamaan.
Setelah itu, hasil tumbukan dibersihkan sebelum memasuki puncak kegiatan, yakni pelaksanaan upacara sakral sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen.
“Upacara ini adalah ungkapan syukur kami kepada leluhur dan dewa-dewi padi atas rezeki dan hasil panen yang melimpah,” pungkasnya. (ltf/fdl)








