Home / Advertorial / Pemerintah / Pendidikan-Kesehatan

Minggu, 11 Mei 2025 - 09:08 WIB

Upaya Disdikbud Kukar Tekan Angka Putus Sekolah, Perkuat Dukungan SKB dan PAUD

Fujianto - Kepala Bidang PAUD dan PNFI Disdikbud Kukar

Fujianto - Kepala Bidang PAUD dan PNFI Disdikbud Kukar

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terus berupaya mengatasi tingginya angka putus sekolah, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki tantangan geografis dan kepadatan penduduk yang rendah.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah dengan memperkuat peran Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF), khususnya Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).

“Wilayah kita luas dan penduduknya jarang-jarang. Sementara angka putus sekolah masih tinggi. Kalau hanya mengandalkan SKP yang dikelola masyarakat, hasilnya tergantung mereka juga. Tapi kalau SKB, pemerintah daerah yang langsung turun tangan, jadi dukungan bisa lebih maksimal,” ujar Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Disdikbud Kukar, Fujianto, pada Sabtu (10/5/2025).

Dengan keberadaan SKB, jumlah peserta pendidikan nonformal pun meningkat secara signifikan.

Baca Juga :  Bupati Kukar Sebut BUMD Berpeluang Miliki Saham di Bayan Group, Realisasinya Harus Mempertimbangkan Regulasi

“Dari tahun 2022 ke 2023, jumlah siswa di SKB dan PKBM untuk paket A dan B naik drastis. Dulu hanya sekitar 3.000 siswa, sekarang bisa dapat 1.500.000,” jelasnya.

Tak hanya itu, SKB juga menawarkan berbagai kursus keterampilan, dan semua layanan tersebut diberikan secara gratis kepada masyarakat.

Hal ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan. Dukungan anggaran pun mendapat perhatian serius.

“Pak Bupati sangat konsen terhadap pengentasan kemiskinan, karena putus sekolah ini salah satu indikator kemiskinan. Kami didukung secara anggaran, meskipun bidang PAUD dan PNFI mendapatkan porsi yang paling kecil dibanding SMP,” katanya.

Terkait maraknya yayasan yang mendirikan lembaga pendidikan seperti PAUD dan PKBM, Disdikbud memberikan pengawasan ketat melalui proses verifikasi.

“Boleh mendirikan yayasan, tapi harus memenuhi standar. Misalnya harus ada guru S1, gedung yang layak meskipun pinjam atau sewa, dan jumlah murid minimal 15 orang,” jelasnya.

Baca Juga :  Penyaluran MBG Masih Dilakukan Saat PJJ, Mekanisme Diserahkan ke Sekolah dan SPPG

Ia juga menyoroti banyak yayasan yang hanya berdiri secara formal namun mengandalkan pembiayaan dari masyarakat atau pemerintah.

“Kalau di desa ada yayasan yang tidak berfungsi, kami dorong agar desa mengambil alih. Supaya lebih terjamin kesejahteraan guru dan fasilitas belajar,” katanya.

Standar lainnya dalam pendirian PAUD mencakup ketersediaan alat permainan edukatif seperti perosotan dan ayunan, serta kesiapan dalam metode pembelajaran.

Mengenai lembaga penitipan anak, dinas pendidikan hanya menangani yang resmi mendaftar.

“Kalau yang tidak mendaftar, kami tidak tahu keberadaannya. Baru ketahuan kalau muncul kasus. Tapi kalau mereka datang untuk dilegalkan, tentu kami bantu,” pungkasnya. (adv/disdikbud/kukar)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Mahasiswa Poltekes Kaltim KKN di Kukar, Pemkab Berharap Bisa Bantu Pengentasan Stunting

Advertorial

Turnamen Bulu Tangkis Ketua DPRD Kukar Cup 2024 Resmi Dimulai

Bisnis

HUT ke-34 Perumda Tirta Mahakam, Fokus Jaga Kontinuitas dan Kualitas Layanan Air Bersih

Advertorial

Bupati Kukar Resmikan Kantor Desa Bukit Raya, Harapkan Semangat dan Pola Kerja Baru

Bisnis

Perpustakaan Desa Kota Bangun III Raih Juara I Lomba Literasi Kukar 2025

Advertorial

Disperindag Kukar Lakukan Pendataan Pedagang Pasar Tangga Arung, Minimalisir Tumpang Tindih Usai Revitalisasi

Advertorial

Rapat Paripurna Istimewa HUT Ke-244 Kota Tenggarong, Ketua DPRD Kukar Dorong Semangat Berbagi dan Pelestarian Budaya

Advertorial

Pansus DPRD Kutim Menggelar Rapat Membahas Terkait Raperda Kesetaraan Gender