Home / Advertorial / Pemerintah

Selasa, 14 Mei 2024 - 15:13 WIB

Festival Cenil di Desa Kota Bangun III Merupakan Warisan Tradisi yang Masih Dipertahankan

Festival Cenil Desa Kota Bangun III

Festival Cenil Desa Kota Bangun III

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Desa Kota Bangun III, Kecamatan Kota Bangun Darat menggelar Festival Cenil. Di balik hidangan berbahan dasar singkong ini, terkandung makna mendalam tentang tradisi, kearifan lokal, dan perjuangan para transmigran.

Festival ini rutin digelar setiap tahunnya, dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) desa. Beragam kreasi cenil dipamerkan dan disajikan secara gratis kepada masyarakat.

Bagi warga Desa Kota Bangun III, cenil adalah simbol kegigihan dan kreativitas para leluhur dalam masa transmigrasi. Karena bagi mereka saat itu, singkong menjadi satu-satunya tanaman yang mampu bertahan di tanah gersang.

“Kami sedang melestarikan sebuah budaya, kearifan lokal yang pernah ada,” kata Kepala Desa Kota Bangun III, Lilik Hendrawanto.

Baca Juga :  Camat Loa Kulu Minta Para Ketua RT Serius Menjalankan Tugas Selama Melayani Masyarakat

Ia menjelaskan, dulunya para transmigran berinovasi mengolah singkong menjadi berbagai hidangan, salah satunya cenil. Tradisi ini kemudian diwariskan turun-temurun, menjadi pengingat perjuangan dan kekompakan para pendahulu.

Festival Cenil tak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi ajang kreativitas dan promosi potensi desa. Berbagai kreasi cenil yang unik dan menarik dipamerkan, menunjukkan kekayaan budaya dan kuliner Desa Kota Bangun III.

“Harapannya, festival ini bisa menjadi daya tarik wisata dan meningkatkan ekonomi desa,” ujar Lilik.

Festival Cenil menjadi pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga tradisi dan kearifan lokal. Di tengah gempuran modernisasi, nilai-nilai budaya leluhur harus tetap dilestarikan dan ditanamkan kepada generasi penerus.

Baca Juga :  Disdikbud Kukar Menggelar Audiensi Pembinaan Lembaga dalam Pengutamaan Bahasa Negara

Pada transmigrasi dulu, hanya tanaman singkong yang mampu bertahan di tanah gersang. Ketika pembukaan lahan baru, mereka hanya menanam singkong untuk bahan makanan sehari-hari, penganti beras.

Agar anak-anak tidak bosan memakan singkong tiap hari. Para orangtua pun berinisiatif mengolah umbi-umbian menjadi beraneka ragam makanan, salah satunya cenil.

“Supaya anak-anaknya tidak bosan makan singkong, maka orangtuanya mengolah menjadi berbagai macam bentuk dan warna (cenil),” tutupnya. (adv/diskominfo/kukar/217)

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Mendagri Terbitkan SE Tentang Efisiensi Anggaran Daerah, Belanja Kegiatan Hingga Perjalanan Dinas Dipangkas

Advertorial

Sungai di Desa Panca Jaya akan Dinormalisasi dengan Bantuan TNI

Advertorial

Komisi III DPRD Kukar Dukung Pembangunan Masjid SMAN 2 Tenggarong

Pemerintah

Rapat Final Persiapan Erau Adat Kutai 2026, Bupati Kukar Tegaskan Acara Tetap Meriah Meski Defisit Anggaran

Pemerintah

Festival Kota Juang Sanga-Sanga Jadi Ruang Partisipasi Warga dan Penggerak Ekonomi Lokal

Advertorial

Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Minta Pemprov Tingkatkan Kualitas Sarana dan Prasarana Pendidikan

Advertorial

Pemkab Kukar Terus Berupaya Tingkatkan Infrastruktur Jalan Secara Merata

Advertorial

Keberhasilan Program Kukar Berkah, Dukungan Bupati Edi untuk Pesantren dan Rumah Ibadah