Home / Pemerintah / Pendidikan-Kesehatan / Serba Serbi

Rabu, 16 September 2026 - 09:46 WIB

Festival Erau Adat Kutai Masuk KEN, Pemkab Kukar Siapkan Standar hingga Mitigasi Risiko

Rapat Final Persiapan Pelaksanaan Erau Adat Kutai Tahun 2026 (Latif/eksposisi)

Rapat Final Persiapan Pelaksanaan Erau Adat Kutai Tahun 2026 (Latif/eksposisi)

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Festival Erau Adat Kutai 2026 dipastikan tetap digelar pada 20–28 September mendatang. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mematangkan berbagai persiapan, mulai dari rangkaian kegiatan sakral hingga seremonial.

Persiapan tersebut dibahas dalam Rapat Final Pelaksanaan Erau Adat Kutai Tahun 2026 di Sekretariat Panitia Erau, pada Selasa (15/9/2026).

Rapat dipimpin langsung Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, perwakilan Polres Kukar, serta sejumlah perangkat daerah terkait.

Aulia mengatakan rapat besar tersebut digelar untuk memastikan seluruh rangkaian pelaksanaan Erau berjalan lancar.

Menurutnya, Erau merupakan agenda besar sekaligus milik seluruh masyarakat Kukar yang menjadi bagian penting dalam menjaga adat, istiadat dan budaya daerah.

“Erau ini adalah milik seluruh warga masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara. Melalui kegiatan Erau ini, kita menjaga adat, istiadat, dan budaya warga masyarakat Kutai Kartanegara,” katanya.

Ia memastikan sejauh ini tidak terdapat perubahan mendasar terhadap rangkaian kegiatan Erau, baik kegiatan sakral maupun seremonial. Seluruh kegiatan tetap dilaksanakan sesuai dengan rencana dan pola pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga :  DPRD Kaltim Menggelar Rapat Paripurna, Tujuh Fraksi Sampaikan Pandangan Umum Soroti Isu Strategis

Terkait kehadiran pejabat pemerintah pusat, Aulia menyebut Kementerian Pariwisata telah mengonfirmasi kehadirannya. Sementara kehadiran Menteri Pariwisata masih diupayakan dan Pemkab Kukar juga masih menunggu kepastian dari Kementerian Kebudayaan.

Aulia juga memastikan lokasi pelaksanaan sejauh ini tidak mengalami kendala. Namun, kondisi kualitas udara tetap menjadi perhatian karena sebagian kegiatan dilaksanakan di luar ruangan. Pemkab Kukar akan menyesuaikan pelaksanaan apabila kondisi ISPU tidak memungkinkan.

Di sisi lain, kondisi kekeringan yang turut berdampak terhadap layanan listrik dan PDAM menjadi salah satu hal yang dimitigasi panitia. Sejumlah skenario disiapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan selama pelaksanaan Erau, termasuk apabila terjadi pemadaman listrik.

Memasuki pelaksanaan tahun ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar Heriansyah mengatakan Erau memiliki standar tambahan karena telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN).

Karena itu, penyelenggaraan tidak hanya berfokus pada kelancaran acara, tetapi juga memenuhi sejumlah target yang ditetapkan kementerian.

“Erau tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Erau tahun ini sudah masuk Karisma Event Nusantara, sehingga standar pelaksanaannya harus diperhatikan. Ada standar dan target tertentu yang diminta oleh kementerian dan harus kita penuhi,” ujarnya.

Baca Juga :  Lapas Kelas IIA Tenggarong Musnahkan Barang Terlarang Hasil Razia Juli-Agustus

Menurutnya, standar tersebut mencakup pengelolaan sampah, mitigasi risiko apabila terjadi bencana, serta dampak kegiatan terhadap pelaku UMKM. Selain itu, informasi dalam pelaksanaan Erau juga perlu dapat diakses pihak luar melalui penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Untuk rangkaian sakral, Heriansyah menyebut persiapan fisik telah mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah prosesi pra-Erau juga telah dilakukan, termasuk ziarah ke makam para raja dan Sultan di kompleks Museum Mulawarman, ziarah ke Desa Kutai Lama, serta prosesi Pesawai. Seluruh rangkaian sakral tersebut diikuti Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Sementara itu, Sultan Aji Muhammad Arifin, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, menegaskan sejumlah ketentuan adat selama pelaksanaan Erau tetap dipertahankan. Salah satunya berkaitan dengan larangan menginjak tanah sejak prosesi Tiang Ayu didirikan hingga dirobohkan kembali.

“Namanya adat, kita tidak bisa mengubahnya dari zaman dahulu. Itu merupakan adat dari nenek moyang kita. Jadi sampai sekarang masih tetap dijalankan dan diteruskan kepada anak cucu kita. Itu yang penting,” pungkasnya. (ltf/fdl)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Gelar RDP, DPRD Kaltim Desak Penegakan Hukum Tambang Ilegal di KHDTK Unmul Segera Dilakukan

Advertorial

Tekan Angka Kematian Bayi dan Stunting, DPMD Kukar Lakukan Pembinaan Kader Posyandu

Advertorial

Bupati Kukar Resmikan Gedung Cenderawasih, Tempat Pelayanan Khusus Ibu dan Anak di RSUD AM Parikesit

Advertorial

Wakil Ketua DPRD Kukar Sementara Pimpin Rapat Paripurna HUT ke-242 Tenggarong

Advertorial

Pemkab Kukar Prioritaskan Sektor Perikanan, Bantuan Fasilitas Gencar Disalurkan

Advertorial

Anggota DPRD Kaltim Mendorong Percepatan Penetapan Tarif Restribusi Hotel Atlet Samarinda

Advertorial

Wabup Rendi Solihin Meninjau Jalan Longsor di Kecamatan Sangasanga

Advertorial

Pemuda Perwakilan Kukar Terpilih Menjadi Duta Budaya Provinsi Kaltim 2024