KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Pegelaran Festival Museum Kayu Tuah Himba 2025 menjadi momentum penting untuk membangkitkan produktivitas Museum Kayu yang sempat “mati suri”.
Asisten II Setkab Kukar, Ahyani Fadianur Diani, menegaskan bahwa festival ini diharapkan dapat meningkatkan kembali jumlah pengunjung yang beberapa tahun terakhir menurun drastis.
“Dulu pengunjung bisa mencapai 40 orang per hari, sekarang hanya 2–3 orang. Dengan festival ini, mudah-mudahan museum lebih dikenal dan kembali berfungsi optimal,” ujar Ahyani.
Ia juga mendorong Disdikbud Kukar untuk memberi perhatian lebih terhadap kondisi museum, termasuk rencana rehabilitasi gedung yang saat ini mengalami kerusakan seperti kebocoran.
Menurutnya, inisiatif para pelajar yang terlibat dalam festival menjadi bukti bahwa generasi muda mampu mengembangkan seni dan budaya daerah. Ia berharap sekolah-sekolah lain dapat mengikuti jejak yang sama.
Festival ini juga menyuguhkan ragam pertunjukan budaya seperti tarsul dan cerita berbahasa Kutai, serta karya inovatif seperti game edukasi bernuansa budaya lokal yang dikembangkan siswa.
“Game ini masih dikembangkan, tapi punya potensi besar mengenalkan sejarah Kutai Kartanegara ke generasi muda,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, menyampaikan bahwa festival ini digelar sebagai upaya menghidupkan kembali Museum Kayu yang semakin sepi pengunjung.
“Dulu bisa 40 orang per hari, sekarang hanya 3–4. Festival ini untuk mengingatkan masyarakat bahwa museum kayu itu ada dan harus dihidupkan kembali,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa festival melibatkan para pelajar SMK yang menampilkan karya kriya, batik, hingga lukisan sebagai bentuk pembinaan dan ruang kreativitas.
Kreativitas batik tidak dibatasi pada motif tertentu, melainkan memberi ruang penuh bagi siswa mengekspresikan ide mereka.
Selain itu, festival juga menghadirkan stan UMKM sebagai bagian dari dukungan pemerintah dalam menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat.
Diharapkan Festival Museum Kayu Tuah Himba dapat mengembalikan minat kunjungan masyarakat, menjadi ruang edukasi perkayuan, serta menjadi daya tarik bagi pelajar yang berminat terhadap dunia perkayuan dan teknologi kebudayaan.
“Harapan kami museum ini kembali ramai, bukan hanya warga Tenggarong, tapi juga masyarakat luar daerah,” tutupnya. (ltf/fdl)









