KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Mahakam Kutai Kartanegara (Kukar) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 pada Senin (19/01/2026).
Peringatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen perusahaan dalam meningkatkan pelayanan air bersih bagi masyarakat Kukar.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menyampaikan bahwa isu utama yang diangkat pada peringatan HUT ke-34 Perumda Tirta Mahakam adalah bagaimana perusahaan daerah tersebut dapat terus tumbuh dan berkembang bersama masyarakat.
Menurutnya, keberadaan Perumda Tirta Mahakammemiliki peran strategis dalam mendukung kebutuhan dasar masyarakat.
“Hari ini Perumda Tirta Mahakam memasuki usia ke-34 tahun. Pesan besar yang kami sampaikan adalah menjaga kontinuitas dan kualitas pelayanan air bersih kepada masyarakat. Ini menjadi komitmen utama di usia yang semakin matang,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi upaya perbaikan yang terus dilakukan oleh Perumda Tirta Mahakam. Berdasarkan data statistik, terdapat peningkatan yang cukup signifikan, baik dari sisi kontinuitas aliran air maupun kualitas layanan yang diterima pelanggan. Ke depan, Bupati berharap kinerja tersebut dapat terus ditingkatkan.
Sementara itu, Direktur Perumda Tirta Mahakam Kukar, Suparno, menyampaikan bahwa HUT ke-34 menjadi bahan evaluasi internal untuk mendorong percepatan dan perubahan di tahun 2026.
Ia mengungkapkan, anggaran Perumda Tirta Mahakam tahun 2026 telah disetujui oleh Bupati Kukar, sehingga menjadi modal penting dalam menjalankan program prioritas.
“Momentum ini menjadi refleksi bagi kami. Tahun 2026 menjadi target percepatan, khususnya dalam pelayanan air bersih ke 20 kecamatan dan 193 desa di Kutai Kartanegara,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa salah satu tantangan utama yang masih dihadapi adalah tingginya tingkat non-revenue water (NRW) atau kehilangan air akibat kebocoran. Saat ini, NRW Perumda Tirta Mahakam masih berada di kisaran 40–42 persen, sementara standar nasional berada di angka 25 persen.
“NRW ini bukan hanya soal kehilangan air, tetapi juga kehilangan pendapatan. Kebocoran air berdampak langsung pada kontinuitas pelayanan dan tekanan air yang diterima pelanggan,” tegasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Perumda Tirta Mahakam telah menggandeng mitra pihak ketiga yang berpengalaman dalam penanganan kebocoran, termasuk penerapan teknologi berbasis artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi titik-titik kebocoran. Targetnya, penurunan NRW dapat mencapai 2 hingga 3 persen dalam waktu dekat.
Ia menjelaskan bahwa setiap penurunan 1 persen kebocoran setara dengan efisiensi sekitar Rp300 juta. Jika bisa ditekan hingga 3 persen, potensi efisiensinya mencapai sekitar Rp900 juta per tahun.
Selain fokus pada perbaikan teknis, Perumda Tirta Mahakam juga merencanakan penguatan identitas perusahaan, salah satunya melalui pembangunan kantor baru.
“Dua opsi tengah dikaji, yakni membangun di lokasi eksisting atau memanfaatkan lahan baru yang disiapkan pemerintah daerah dengan pendanaan dari Perumda Tirta Mahakam,” pungkasnya. (ltf/fdl)









