KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Warga Kelurahan Baru, Kecamatan Tenggarong, kembali menggelar Kampong Kuliner Tradisional Gang 7 RT 06, sebuah agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat.
Kegiatan yang mengusung semangat pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi lokal ini dibuka oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kutai Kartanegara (Kukar), Rinda Desianti, di Gang 7, Jalan AM Sangaji, Kelurahan Baru, Tenggarong, pada Minggu (9/11/2025).
Tahun ini menjadi penyelenggaraan Kampong Kuliner Tradisional yang ke-6, yang kembali menghadirkan suasana khas pedesaan dengan aneka jajanan tradisional, pertunjukan seni daerah, serta berbagai permainan rakyat.
Ketua Panitia, Wedy Handoko, dalam laporannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi atas terselenggaranya acara tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia, sponsor, dan semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan ini. Dalam tujuh hari ke depan, kami berharap masyarakat dapat menikmati dan mengenal lebih dekat kuliner khas Kutai yang mulai jarang ditemui,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi tradisi tahunan yang tidak hanya berfokus pada promosi makanan khas, tetapi juga sebagai sarana menghidupkan kembali seni dan permainan tradisional Kutai.
“Tujuan utama kami adalah memperkenalkan kembali budaya lokal kepada masyarakat luas, sekaligus mendorong tumbuhnya UMKM di Kukar. Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa tradisi dan ekonomi kreatif bisa berjalan beriringan,” tutur Wedy.
Ia menegaskan bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi kunci terselenggaranya Kampong Kuliner yang terus eksis hingga kini.
Sementara itu, sambutan Bupati Kukar yang dibacakan oleh Rinda Desianti menekankan pentingnya peran kegiatan semacam ini sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif berbasis komunitas.
“Kampong Kuliner Tradisional bukan hanya ajang makan-makan, tetapi wujud nyata dari pengembangan ekonomi kreatif dan pelestarian budaya lokal. Di sinilah pelaku UMKM, ibu rumah tangga, hingga anak muda dapat menampilkan produk khas daerah dengan sentuhan inovatif dan modern,” ujar Rinda.
Ia mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi contoh nyata kolaborasi masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi di tingkat lokal. Menurutnya, setiap stan kuliner bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga wadah belajar dan berinovasi.
“Melalui Kampong Kuliner, masyarakat tidak hanya menjadi penonton tetapi juga pelaku utama pembangunan. Ini adalah bentuk ekonomi rakyat yang tumbuh dari bawah, milik rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan Kampong Kuliner membawa dampak positif bagi masyarakat, mulai dari peningkatan pendapatan keluarga, penciptaan lapangan kerja baru, hingga penguatan identitas budaya melalui kuliner khas etam.
Kegiatan ini juga mendukung program daerah ‘Ekonomi Kreatif Kukar Terbaik’ yang menyediakan fasilitas gedung, pelatihan branding, serta bantuan stimulan bagi pelaku usaha lokal.
“Kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga warisan dan jati diri bangsa. Pemerintah daerah berkomitmen mendorong sektor ekonomi kreatif non-ekstraktif agar menjadi fondasi ekonomi baru Kukar. Melalui berbagai program, kami ingin pelaku UMKM terus berinovasi, menjaga kualitas, dan bangga membawa nama daerahnya,” ucapnya.
Acara pembukaan malam itu berlangsung meriah dengan tampilan kuliner khas seperti nasi bekepor, rojak cabe, kue apam, hingga sambal raja yang disajikan oleh warga.
Dengan dukungan berbagai pihak dan antusiasme masyarakat, Kampong Kuliner Tradisional Gang 7 kembali menjadi simbol kebersamaan, kreativitas, dan kecintaan terhadap warisan budaya Kutai. (rpp/fdl)










