Home / Pendidikan-Kesehatan / Peristiwa / Serba Serbi

Kamis, 23 April 2026 - 08:20 WIB

Masyarakat Desa Kedang Ipil Antusias Persiapkan Tradisi Nutuk Beham

Masyarakat Desa Kedang Ipil bergotong royong menyangrai padi (Latif/Eksposisi)

Masyarakat Desa Kedang Ipil bergotong royong menyangrai padi (Latif/Eksposisi)

KUTAI KARTANEGARA, eksposisi.com – Masyarakat Kutai Adat Lawas di Desa Kedang Ipil, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) antusias bergotong royong mempersiapkan tradisi Nutuk Beham. Tradisi ini sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen sekaligus pelestarian budaya leluhur.

Ritual ini menjadi salah satu warisan budaya yang masih dijaga hingga kini, tidak hanya sebagai prosesi adat, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan masyarakat.

Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin, menyampaikan bahwa pelaksanaan Nutuk Beham dilakukan melalui kesepakatan bersama warga sebelum memasuki tahapan inti kegiatan.

“Untuk kegiatan ini diselenggarakan selama tiga hari tiga malam, diawali dengan kesepakatan bersama masyarakat terkait waktu pelaksanaannya,” ujarnya pada Rabu (22/04/2026).

Baca Juga :  Disdikbud Kukar Siap Untuk Lestarikan Musik Tingkilan, Melalui Upaya Penguatan dan Pembinaan

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan dimulai dari pengambilan hingga pengumpulan padi hasil panen masyarakat.

“Peserta yang ingin ikut tidak dibatasi, siapa saja boleh berpartisipasi dengan menyerahkan padi sesuai kemampuan, menggunakan ukuran kaleng,” jelasnya.

Setelah padi terkumpul, tahapan berikutnya adalah perendaman yang dilakukan minimal satu malam hingga beberapa malam, guna menghasilkan tekstur padi yang lebih lembut.

“Perendaman ini penting untuk melembutkan padi, biasanya berlangsung dua sampai tiga malam, tergantung kondisi padinya,” tuturnya.

Usai direndam, padi kemudian ditiriskan hingga kering sebelum memasuki proses sangrai. Pada tahap ini, padi dipanaskan dengan teknik tertentu serta diberikan air secara bertahap.

Proses sangrai dilakukan dengan hati-hati agar padi tidak lengket dan menghasilkan kualitas beras yang baik sebelum masuk ke tahap penumbukan.

Baca Juga :  Pemkab Kukar Kaji Penetapan Status Darurat Bencana, Anggaran Penanganan Karhutla Bisa Dialihkan

“Setelah disangrai dan tidak lengket, baru kita angkat dan lanjut ke proses penumbukan bersama menggunakan lesung dan alu,” ungkapnya.

Penumbukan padi menjadi inti dari tradisi Nutuk Beham, yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat sebagai simbol kebersamaan.

Setelah itu, hasil tumbukan dibersihkan sebelum memasuki puncak kegiatan, yakni pelaksanaan upacara sakral sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen.

“Upacara ini adalah ungkapan syukur kami kepada leluhur dan dewa-dewi padi atas rezeki dan hasil panen yang melimpah,” pungkasnya. (ltf/fdl)

Share :

Baca Juga

Advertorial

SMPN 6 Tenggarong Tingkatkan Kompetensi Guru, Untuk Jadikan Sekolah Sehat dan Ramah Anak

Advertorial

Pemkab Kukar Menggelar Bimbingan dan Pelatihan Persiapan Masuk PKN STAN Bagi 100 Pelajar

Advertorial

Anggota DPRD Kaltim Soroti Ketimpangan Kesejahteraan Guru di Sekolah Umum

Olahraga dan Kesehatan

Operasional SPPG Gas Alam Badak Satu Dihentikan Sementara Usai Pemberian Kelapa Utuh Sebagai Menu MBG

Hukum - Kriminal

Fasilitas Pendidikan di LPKA Kelas II Tenggarong Akan Ditingkatkan

Advertorial

Disdikbud Menggelar Pembinaan Penyelenggara PAUD, Dihadiri 100 Peserta se-Kukar

Advertorial

HUT ke-243 Kota Tenggarong, Bupati Kukar Ziarah ke Makam Sultan Aji Imbut

Serba Serbi

Mahasiswa KKN Institut Teknologi Kalimantan Membantu Pemberdayaan Wisata Hutan Meranti di Balikpapan